Suamiku, ijinkan aku bercerita tentang sepasang kupu-kupu.
— story’s begin —
Tersebutlah seekor kupu-kupu jelita yang tinggal di negeri Sayap Indah. Ia begitu jelita, elok, dan rupawan, menyenangkan siapa pun yang memandangnya. Nyaris taksatu ekor pun kupu-kupu yang dapat memandangnya tanpa jatuh hati setelahnya. Wahai… ia begitu bangga pada dirinya. Maka dengan segala keelokan yang ia miliki, ia sangat yakin dapat membuat Pangeran Kupu-kupu Emas jatuh hati kepadanya, dan membawanya tinggal di Istana Bahagia Tanpa Derita.
Dan ia tak salah, Pangeran Kupu-kupu Emas memang jatuh hati kepadanya, dan mengajaknya tinggal di Istana Bahagia Tanpa Derita, menjadi ratu di istana hatinya. Tetapi sungguh tak beruntungnya ia, karena Pangeran Kupu-kupu Emas telah bertunangan dengan Putri Kupu-kupu Hijau. Malangnya si kupu-kupu jelita, Putri Kupu-kupu Hijau tak begitu saja merelakan kekasihnya direbut dari sisinya. Maka menderitalah ia, ketika terompet berbunyi, dan genderang pesta bertabuh di seluruh negeri, tanda pernikahan Pengeran Kupu-kupu Emas dan Putri Kupu-kupu Hijau dilangsungkan.
Wahai… para pecinta, aku telah mabuk oleh cintaku pada Pangeran Kupu-kupu Emas. Tak peduli apa pun, cintaku hanya miliknya, dan hanya kepadanya selamanya…meski cinta ini membuatku menderita… akan kunikmati setiap detik penderitaan itu, karena aku cinta… begitulah ratapan hatinya yang berderak patah. Tak sanggup ia melangkahkan kaki dengan tegak, karena yang ia lihat hanya bayangan Pangeran Kupu-kupu Emas yang mengikutinya. Hingga ia tak menyadari, bahwa sepasang sayap biru selalu mengamati dan mengikuti langkahnya, kemana pun ia pergi.
Syahdan, kupu-kupu biru pun melamarnya. Si kupu-kupu jelita sejenak lupa pada hatinya yang telah berai. Ia pun mulai membangun harapan, bahwa bersama kupu-kupu biru, luka hatinya akan sembuh, dan cintanya yang berai akan utuh kembali, karena ia yakin bahwa kupu-kupu biru sangat mencintainya, dan tak akan menyakitinya.
Sekali lagi ia tak salah. Kupu-kupu biru mencintainya tanpa syarat. Kupu-kupu biru mencintainya tanpa cacat. Kupu-kupu biru mencintainya dengan sempurna. Tetapi semua itu tak mampu menghapus segala cintanya kepada Pangeran kupu-kupu Emas. Makin ia melupakannya, makin deras cinta itu menerjangnya. Kupu-kupu jelita lupa pada niatnya, lupa pada harapan yang pernah dipupuknya. Setiap hari ia terus mengeluh… “oh… andaikan si kupu-kupu biru ini adalah Pangeran Kupu-kupu Emas yang kucintai… tentu aku tak akan menderita seperti ini…”
Ia terus meratap… ia terus menangis… ia lupa bersyukur, ia lupa membalas cinta si kupu-kupu biru. Hingga suatu hari, ia tak lagi melihat si kupu-kupu biru di sangkar mereka. Dan beberapa waktu kemudian ia menerima sebuah paket berukuran sangat besar, yang didalamnya ada seekor kupu-kupu disepuh emas, yang telah mati. Dan juga selembar surat… “istriku… aku sangat mencintaimu… namun aku tak mampu membahagiakanmu… karena yang engkau inginkan hanyalah hidup bersama dengan Kupu-kupu Emas.. maka hari ini, aku menemui Empu Hias, kuminta padanya untuk mencelupkan tubuhku di cairan emas, dan memintanya untuk mengantarkan tubuh emasku kepadamu. Kau tahu, cairan emas itu sangat panas, maka begitu tubuhku masuk ke dalamnya, aku pasti mati. Tetapi aku rela, asalkan aku tetap bersamamu, sesuai dengan apa yang engkau inginkan… menjadi kupu-kupu emas…”
— End Story —
***
Suamiku, aku bukanlah kupu-kupu jelita. Bukan pula angsa putih nan rupawan. Apalagi menjadi phoenix yangmerdu dan menawan.
Aku adalah kupu-kupu rapuh, yang menjadi kuat karena perhatianmu… aku adalah putik kecil, yang menjadi buah karena cintamu… aku adalah kuntum bunga, yang menjadi mekar bersamammu… aku adalah helai daun, yang menjadi segar dalam siraman kasih sayangmu…
Apapun adanya diriku, cintamu tulus dan sempurna, tanpa syarat dan tanpa cela. Seelok dan selembut cinta si kupu-kupu biru. Namun aku tak sebaliknya, seringkali aku menuntut lebih dari dirimu… seringkali aku mengharapkan apa yang belum ada dalam dirimu… hingga aku pun bertanya-tanya, bisakah engkau bertahan?
Namun kurasakan, cintamu tak pernah berkurang… kasihmu tak pernah lekang… sabarmu tak pernah hilang…
Maka, kuyakin dengan saldo cintamu yang tak pernah habis, bahwa bahtera yang telah melewati masa 1 tahun ini akan melewati masa 2 tahun, 3 tahun, 4 tahun, dan seterusnya, bersama dirimu, menjadi istrimu, hingga ke dalam surganya….
Jangan pernah lelah, mengajari dan memberiku kesempatan, untuk membalasnya sebesar cinta yang engkau berikan…
To my husband, With love ever after….
Semoga Allah memberkahi pernikahan ini, dan buah hati yang terlahir di dalamnya… amin…
Happy 1st wedding anniversary, 27 Januri 2009
Puisi ini ditulis oleh suamiku… dan diberikannya untukku, 1 tahun yang lalu, saat kami menikah: 27 Januari 2008
***
Kumpulan kata untuk istriku cinta 
Kupu2 dalam sangkar
Kita bisa bertengkar saat tak sabar
Istriku…
Sebelum kamu membenciku
Maukah engkau membuka diri
Ungkapkan derai mata hati
Keluhmu
Resahmu
Iringi dengan kata
Gerak yang nyata
bantu aku saat belum tahu
Ingatkan aku atas kelalaianku
Kupu2, sangkar terbuka
Kita bisa tertawa disaat yang sama
Istriku
sebelum kamu mencintaiku
maukah kau rentangkan semua rasa
Kelompokkan tiap kata
Tiap gerak hati
Tiap aksi
Yang matamu menjadi saksi
yang telingamu menjadi saksi
Baikkah aku untukmu
Dengan ilmu Sang maha Tahu?
Kupu2 bersayap dua
Sabar dari Alloh, sabar hati bersua
Saatnya telah tiba
Untuk mempertemukan hati kita
Untuk itu
Maukah kamu berbagi denganku
Ilmu dan rasa hati
Yang kita miliki
Yang kita pelajari
Sampai akhir kita nanti
Kupu2 pasti terbang
Aku bisa mati dan kamupun berpeluang
Sekarang atau nanti
Aku pasti mati
Maata’buduuna mim ba’dii?!
Saat ini sampai nanti
Tinggalkan sangkar jauh
Sabar hati lawan keluh
Saat aku mati
Selalu ada alloh yang menemani
Saat aku mati
Tidak cuma suami yang menjadi jalan rizki
Sangkar hampa-kupu2 riang
Alloh maha kuasa memberi tenang
Dan hanya janji-nya yang pantas dipegang
-semoga alloh memberkahi pernikahan kita-
Prolog: Dialog Dua Sisi
Ardi: Aku ingin menikahimu, karena feeling-ku mengatakan seperti itu. Not because i love you. yup, as simple as that.
Izti: I’m nothing, not special, and not perfect. Kesimpulannya, I just the ordinary people. Lagipula, kurasa kamu tidak akan bisa melewati tembok tinggi yang kubangun di dalam hatiku.
Ardi: you are something, you are special but i also agree that you’re not perfect. Would you open the door for me? I’m not interested to climb the wall, if there’s a door.
Izti: The door is locked. And I don’t know, where’s the key.
Ardi: "sebuah pernikahan tidak diawali dengan kesempurnaan masing2 pasangan melainkan diawali dengan kegigihan untuk melakukan perbaikan tanpa akhiran"
–bumi wangi seumpama–
demi sang peletak kata
demi
sang penggerak pena
atas-Nya kata2 itu bersua dengan tinta
terbaca oleh mata
dan mungkin terdengar berbeda di telinga
please be my wife.
Izti: Ketika kau memutuskan untuk menikah denganku, maka kau akan menemukan banyak cela dalam diriku. You never know who am I be4 you get any closer. Maka putuskanlah apa yang akan kau rasakan dan kau inginkan setelah itu. Sebab kau tak pernah tahu, apakah segala ketertarikan itu akan ada di hatimu selamanya, atau hanya bentuk kamuflase dari sebuah fatamorgana.
Ardi: kamu ngga sempurna di mataku. tapi apakah lantas kamu harus kutinggalkan? kalo kita ini malaikat, akan kutinggalkan kamu di ujung perbedaan. karena kamu bukan malaikat yang ngga mungkin bikin kesalahan, bukan pula setan yang selalu bikin kesalahan.karena kamu manusia. yang selalu ada kemungkinan salah -lalai-lupa. tinggal kita berusaha melakukan perbaikan. kiranya sendiri terasa terbeban, mungkin berdua akan lebih ringan - insha Allah.
Izti: Kamu pikir memperbaiki sebuah kesalahan itu seperti menghapus tulisan di papan tulis? Bahkan mencabut paku yang terlanjur tertancap pun pasti meninggalkan bekas. Lantas, dengan apa kamu jalari masa depan, jika setiap kesalahan terjadi seperti hembusan angin yang tak pernah berhenti?
Ardi: Proses itu perlu,
sebagaimana kepompong yang berlalu
Dari ulat menjadi kupu-kupu
Proses itu perlu
selama ini, aku ngga pernah melamar orang kecuali orang itu yang mulai menyatakan "cinta"nya. aku cuma nanya? do you know me? do you know how bad i am? and for the final question, will you help me to be a better man. karena menikah denganku berarti menikah dengan seorang pelajar dodol yang begitu lama menunjukkan perubahan-perbaikan, bukan menikah dengan seorang pemimpin, ustadz, ulama, orang pintar, hafidz atau apalah yang biasanya menjadi kriteria atau idaman perempuan. pada akhirnya, aku ingin memberikan puisi berjudul "kumpulan kata untuk istriku cinta" padamu. kiranya kamu mau mempertimbangkan lamaranku.
Izti: Tanyalah pada orangtuaku, apakah mereka akan melepaskan putrinya untuk pelajar dodol seperti kamu.
***
Well, finally, the king has given his blessing for the beast to marry his beauty princess. The beast is a prince who has witched to be a frog. But the prince is a person who has a kind heart. Then, they are going to get marriage and have a beautifull life, very happy ever after. (dongeng banged :p)
Tetapi hidup adalah reality, bukan fiksi, apalagi dongeng. Maka sebelum layar terkembang, sebelum jangkar dilepaskan, sebelum berlayar ke samudera rumah tangga yang mengharu biru, ingatlah tuk selalu membawa nama-Nya dalam hati kita.
Jika terhempas di lautan duka, tegar dan sabarlah tawakal pada-Nya
Jika berlayar di suka cita, ingatlah selalu tuk syukur pada-Nya
Dan akhirnya kuberharap pada kakuatan do’a yang terpanjatkan dari saudara-saudara kita, agar pernikahan ini mendapatkan barakah-Nya. Sebab pernikahan ini bukan dimulai karena kita saling jatuh cinta, tetapi adalah komitmen untuk membangun cinta itu bersama-sama.
Perjanjian berat telah terikat, akad nikah telah terucap, Dan buku nikah bertanda tangan dua insan yang masih surprised banged! Coz the wedding is so simpe like that? Tuing….! And now, i;m not a princess, but I;m the queen, and he is the king! HAHAHA!
Regards,
Izti & Ardi
finally, i met you, finding trully lover who has loving and care… so, let’s sing a song, coz iit’s our song….
a song with a tittle
"Akhirnya kumenemukanmu"
by: Naff
akhirnya, kumenemukanmu…
saat hati ini ingin berlabuh
akhirnya, kumenemukanmu…
saat raga ini mulai merapuh
kuberharap.. engkaulah…
jawaban segala risau hatiku
dan biarkan… diriku mencintaimu
hingga ujung usiaku
dan bila nanti kusanding dirimu…
miliku aku dengan segala kelemahanku
dan bila nanti engkau di sampingku…
jangan pernah letih tuk mencintaiku….
***
saat hati mulai takut kehilangan segala cinta dan perhatianmu, kuharap saat itulah takdir menyapa pada diri kita. bahwa kita akan bersama selalu, selamanya…. semoga kau tak bosan menyayangiku, tak lelah mencintaiku. hingga yang ada kemudian hanyalah keinginan untuk saling memberi. sebab begitulah sejatinya cinta….
I’m nothing, not special, and not perfect.
Kesimpulannya, I just the
ordinary people. Aku tak percaya bahwa orang seperti aku bisa memiliki
pesona, yang bisa menarik hati siapa saja. ya, siapa saja, andai aku
menyadarinya. Dan karena aku tidak menyadarinya, maka aku tidak
mengerti bahwa aku harus menghargainya, bahwa aku harus menjaganya,
agar segala pesona itu tidak pudar, dan membuatku kehilangan.
Bahkan
andai sejuta orang pun berkata bahwa aku cantik, aku tetap tidak merasa
bahwa diriku cantik. Meski seratus orang kemudian tertarik, lalu
diantaranya bahkan jatuh cinta atau menyayangi, aku tetap tidak percaya
bahwa semua itu tulus untukku. Maka aku pun bersikap seolah-olah mereka
tidak suka, seolah-olah aku bukan siapa-siapa, dan memang kenyataannya
bukan siapa-siapa.
Aku memilih untuk menghapus segala jejak
indah yang mungkin tergores dalam hati siapa saja, bahwa mereka pernah
menyukai, bahkan jatuh cinta kepadaku, sebab aku takut mereka pergi
jikasaja mereka tahu, bahwa aku tak seindah yang mereka bayangkan, aku
tak sebaik yang mereka pikirkan. Kenapa harus jatuh cinta, hanya dengan
sekali pandang? Tidakkah seharusnya mereka tahu, apa, siapa, dan
bagaimana sebenarnya diriku?
Aku suka berteman dengan siapa saja,
aku suka mengobrol dengan siapa saja, aku suka diskusi dengan siapa
saja, anak-anak, orang dewasa, orang tua, laki-laki ataupun perempuan,
buatku nyaris tidak ada bedanya. Hanya kemudian aku tahu, bahwa dalam
Islam ada batasan yang tidak boleh dilanggar, ada rambu-rambu yang
tidak boleh diabaikan begitu saja.
Tetapi, aku telah merasakan
kerasnya kehidupan, mengecap pahitnya kehilangan. Dengan susah payah
dan cucuran air mata aku telah bertahan, maka aku memilih untuk
membangun tembok tinggi di dalam hatiku. Aku tak berani berharap, sebab
aku takut kecewa. Apalagi untuk jatuh cinta. Semua hal yang melibatkan
perasaan serius, kuletakkan di dasar hatiku yang paling jauh.
Dan
bagaimana aku membangun kepercayaan? Sesungguhnya di dunia ini tak ada
seorang pun yang bisa benar-benar kita percayai. Semakin deras
kepercayaan itu mengalir, semakin perih tatkala hanya kebohongan yang
kita temukan.
Maka aku memilih untuk mempercayai apa yang bisa
kulihat dengan mataku sendiri, percaya pada apa yang bisa kudengar
dengan telingaku sendiri, percaya pada apa yang telah dirasakan oleh
hatiku sendiri.
Mungkin benar, saat seseorang menyamakan diriku
dengan Lee Young-Jee yang menanggapi keseriusan perasaan suka yang
diungkapkan oleh Han Ji-Eun, dengan gurauan, dalam sepenggal kisah
drama Full House. Tetapi, apa yang tersimpan di dalam hatinya, who
knows…?
Mestikah aku menanggapinya dengan serius, sementara aku merasa harus ada sesuatu yang bisa membuktikan segala keseriusan itu?
Jika
‘i love you’ itu cuma sekedar kata, siapa pun bisa mengatakannya.
Tetapi, ada konsekuensi yang harus dihadapi setelah itu, yaitu
beranikah mempertanggung jawabkan semua itu dengan menjalin pertalian
yang lebih kuat dan suci dalam sebuah pernikahan. Dan benarkah rasa itu
memang ada, atau hanya fatamorgana?
You never know who am I, be4
you get any closer. Maka putuskanlah apa yang akan dirasakan dan
diingankan oleh hatimu setelah itu.
When somebody wrote about
me: “first impression when meet seorang herni, aku akui, memang kamu
lebih cantik daripada di poto2 yang ada di fs atau dimanalah (aku lupa
pernah liat dimana). walaupun kamu merasa ngga cantik (biasa aja) maka
kamu adalah cantik, karena kamu tau bagaimana caranya memperlakukan
orang2 yang tidak cantik seperti aku ini :"> “
Aku terharu…
dia menyimpan semua perasaan dan keinginan itu untukku… semua
gerak-gerik, kata-kata, dan apa saja tentangku terekam dengan baik di
dalam memorinya. Sedangkan aku hanya menyimpan sedikit coretan kisah
tentangnya, secara umum, sama sekali tidak detail. Dan dia telah
menjagaku dengan lebih baik dibanding diriku sendiri, memberikan apa
saja yang aku minta. Aku tak sampai berfikir bahwa semua yang dia
lakukan untukku berdasar atas perasaan sayangnya kepadaku. Bukankah,
you will protect someone you love…? Dan ketika ia mengirimkan semua
pengakuannya dalam lembar ‘diary’ itu, adalah 2 bulan yang lalu, aku
hanya menanggapinya sambil lalu, belum sempat aku buka, hingga malam
tadi. Meski berkali ia bertanya, “sudah kamu bacakah?” aku hanya balik
bertanya, “penting ya?” Bahkan aku hampir saja benar-benar melupakan
‘kiriman’ itu, dan dengan polos aku bertanya, “yang mana ya?” Oh,
betapa kata-kataku itu tentu melukainya. Sebab masih saja aku
menanggapi keseriusannya dengan gurauan.
Maka ketika aku membaca
pengakuannya, aku pun faham, mengapa ada cerita sms 3 x sehari, mengapa
ada orang-orang yang begitu gigih bertahan dengan perasaannya, meski
aku berkali-kali menolaknya.
honestly, until now, aku masi
engga ngeh, apa yang bisa membuat seseorang dikatakan cantik, lebih
cantik, atau biasa saja. aku cuma tahu, bahwa semua yang terproyeksikan
ke dalam mataku adalah bentuk sempurna dari ciptaan-Nya.
Then,
sejujurnya aku katakan, betapa aku sangat tersanjung dengan semua kata
yang tertuang dalam 5 halaman ‘diary’ itu. Tetapi dia memintaku untuk
melupakannya, meski sebenarnya naluri wanitaku berkata bahwa aku
teramat senang saat membacanya.
Finally, tembok di dalam hatiku
mungkin terlalu tinggi untuk bisa dilewati. Tetapi tidakkah di luar
sana ada seseorang yang bisa menghancurkannya? I’m still waiting….
Nayla yang berumur 3 tahun sedang bermain-main sendiri di pekarangan rumahnya, saat
pembantunya sibuk menjemur pakaian di belakang rumah. mulanya dia
menggambar di atas tanah menggunakan lidi. makin lama lidinya makin
pendek karena berkali2 patah. lalu ia menemukan sebuah paku berkarat,
dan kembali menggambar.
Bosan menggambar di tanah, ia pun mulai
mencorat-coret tembok pekarangan hingga ke mobil ayahnya yang memang
lebih sering diparkir di rumah daripada dibawa ke kantor, karena masih
baru.
begitu ayah ibunya pulang kerja, dengan gembira Nayla
menunjukkan ‘hasil karya’nya kepada ayahnya. Bukan main marahnya sang
ayah. Bukan pujian yang Nayla dapat, tetapi malah makian dan pukulan
keras bertubi-tubi. dipukulnya tangan Nayla keras-keras, dengan benda
apa saja yang tergeletak di dekatnya. mulai dari mistar yang kemudian
patah hingga kayu dan gagang sapu. Ayahnya tak peduli meski Nayla
berteriak-teriak kesakitan dan meraung-raung meminta ampun. ayahnya
terlalu kalap, sementara ibunya diam membisu menyaksikan semua itu,
menganggap seolah apa yang dilakukan suaminya memang sudah seharusnya,
sedangkan sang pembantu hanya terisak di sudut ruangan.
Ayahnya
berhenti memukul setelah tangannya tak mampu lagi memukul karena
kelelahan. Setelah puas meluapkan amarahnya, sang ayah menyuruh
pembantunya membawa Nayla ke kamar.
besoknya, Nayla demam,
tangannya bengkak dan membiru. ayah dan ibu hanya menyuruh pembantunya
mengompres Nayla, dan kembali sibuk bekerja. siangnya sang pembantu
menelpon dan mengabarkan bahwa tangan Nayla semakin bengkak, tapi ayah
dan ibu hanya menyuruh pembantunya mengobatinya dengan salep luka.
hingga
keesokan harinya, ayah dan ibu tetap pergi bekerja, dan tangan Nayla
semakin bengkak, lukanya infeksi dan bernanah. Saat orang tuanya
ditelpon kembali, mereka menyuruh sang pembantu membawanya ke dokter.
tiba
di dokter, dokter merujuknya ke rumah sakit. Hingga saat Nayla tiba di
sana, tangannya sudah tidak bisa diobati. akhirnya tangan Nayla pun
diamputasi, dua-duanya.
Ayah ibu menangis dengan sangat menyesal.
saat Nayla sadar, Nayla menangis dan memohon-mohon kepada ayah dan ibu,
"Ibu, mana tangan Nayla, kenapa tangan Nayla diambil? kembalikan tangan
Nayla, Nayla janji tidak akan mencoret mobil ayah lagi. Nayla janji
tidak akan menggambar lagi. kembalikan tangan Nayla."
ayah ibu tak
sanggup berkata apa pun, dalam hati mereka sungguh-sungguh
menyesalinya, penyesalan yang terlambat dan tidak ada artinya.
—————————-
Kisah
di atas hanya cerita. Ayah dan Ibu, atau pun calon ayah dan ibu yang
saya hormati, terkadang kita begitu jengkel dan kesal menghadapi
‘kenakalan’ anak-anak kita. Ada kalanya hukuman pun diberikan untuk
mengajarkan kedisiplinan kepada anak-anak, untuk mengenalkan bahasa
emosi bahwa apa yang mereka lakukan tidak baik atau melanggar tata
tertib.
Tetapi, bagaimana sebenarnya memenej hukuman yang efektif
terhadap anak. efektif untuk memberitahukan kesalahan anak, dan efektif
untuk membuatnya jera.
Seorang teman saya biasa mengurung
anaknya yang berusia 4 tahun di sebuah kamar saat memberikan hukuman
kepada anak laki-lakinya yang cenderung hyper aktif, sering usil
mengganggu, mencubit, atau memukul adiknya, atau berteriak-teriak dan
berlari-larian di dalam rumah dan membuat rumahnya berantakan.
Saat
dikurung, si anak akan menggedor-gedor pintu, menjerit2 dan
berteriak-teriak, "Bunda!! tolong buka pintunya!! aku engga mau di
sini!! aku sudah minta ampun sama Allah!!!"
Ibunya akan menjawab
dari luar, "Bunda engga akan keluarkan kamu sampai kamu tenang. Diam di
sana, kalau sudah tenang akan Bunda keluarkan. kalau masih berteriak,
berarti kamu belum tenang."
dialog bolak-balik dan perjanjian
gencatan senjata antara ibu dan anak akan berlangsung beberapa saat,
sampai hanya terdengar isakan dari dalam kamar, "Bunda… buka
pintunya…."
Setelah itu, ibunya baru mengeluarkan anak itu,
membimbingnya ke kamar mandi, membersihkan badannya, dan memberinya
susu. Terjadi lagi dialog gencatan senjata, kali ini lebih pelan, dan
ditutup dengan kata-kata, "kalo kamu baik, Bunda kan juga senang."
end —
Apa yang terjadi padaku saat ini adalah sebuah lindasan kereta kehidupan yang menghancurkan dan meremukkan semua keinginan dan pengharapan yang kubangun. Hingga, yang tersisa hanyalah kepasrahan, pada takdir yang belum juga memihak pada kebahagiaan.
Dan kebahagiaan itu sendiri hanyalah gambaran dari sebuah keinginan yang mustahil untuk diraih. Kehidupan sufistik yang kupelajari pun tak akan sanggup kujalani, sebab aku tak punya kesucian dan kebeningan jiwa sebagaimana mereka menjalaninya bersama Rabb mereka.
Aku, hanya manusia biasa, yang sedang menapaki tangga kesabaran menuju puncak tertinggi dari segala tujuan mengapa manusia ada di muka bumi. Mengabdi kepada Rabbnya, dan hanya mengharap ridho-Nya saja.
Segala keinginan duniawi mencoba kujejalkan ke keranjang sampah penyesalan. Aku hanya ingin menjalani semua ini tanpa beban, tanpa tekanan. Tetapi, mana ada hidup yang tanpa beban, tidak ada tujuan yang dapat dijalani tanpa tekanan.
Maka, tutuplah segala lembaran buram, buanglah segala kenangan yang menyakitkan.
Bukanlah yang benar itu menuntut untuk dicintai, tetapi adalah memberikan setiap butir cinta yang masih dimiliki, kepada sesama. Meski pohonnya telah meranggas, tetapi belum mati.
Aku, harus berjuang untuk menyuburkannya kembali, hingga siapa pun yang berdiam di dekatnya, akan merasakan kedamaian, kesenangan, dan ketenangan. Perasaan nyaman yang didambakan oleh setiap orang.
Maka kumulai dari keluargaku. Sungguh sebuah hal yang luar biasa, setelah 5 tahun ‘tanpa keluarga’, tiba-tiba aku seolah memiliki segalanya. Ayah, mama, Mbah, Ema, adik-adik, mamang, bibi, bahkan uwa.
Baru kali ini, mataku benar-benar terbuka. Aku memang bukan siapa-siapa dalam keluarga besar mama tiriku, tetapi aku adalah bagian dari mereka. Dan mamaku memperkenalkanku sebagai anak bapakku, bukan anaknya. Memang, tetapi mereka menerimanya dengan senang hati.
Tak ada yang perlu disesali, sebab semua ini terlalu berharga untuk dilepaskan. Bahkan meski kehadiranku hanya sebagai ‘tamu’, tetapi itu tak mengapa, sebab ‘tamu’ ini hadir bukan tanpa undangan.
Sekali lagi, aku harus bangkit, meski lutut telah goyah, meski tubuh basah oleh duka. Tetapi, ini adalah tangga kesabaran.Sebab segala urusan selalu menakjubkan bagi seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kegembiraan, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Dan jika ditimpa kemalangan, ia bersabar, dan sabar itu baik baginya. (al Hadits)
Ganbatte Kudasai !!
pernahkah merasa hati teramat sakit, pedih, dan pilu?
pernahkah merasa begitu sepi dan kehilangan?
pernahkah merasa sangat malang menjalani kehidupan ini?
cobalah resapi sebait syair di bawah ini:
antara dua cinta
apa yang ada, jarang disyukuri
apa yang tiada, sering dirisaukan
nikmat yang dikecap baru kan terasa
bila hilang di dalam genggaman
apa yang diburu, timbul rasa jemu
bila sudah di dalam genggaman
dunia ibarat air laut, diminum hanya menambah haus
nafsu bagaikan fatamorgana, indah di mata namun tiada
panas yang membara, disangka air
dunia dan nafsu bagai bayang-bayang
dilihat ada, ditangkap hilang
Tuhan, leraikan dunia yang mendiam di dalam hatiku
kerana di situ tidak kumampu mengumpul dua cinta
hanya cinta-Mu kuharap tumbuh
dibajai bangkai nafsu yang kubunuh…
so…
jika
tujuan hidup adalah dunia dan segala kesenangannya (harta, suami/istri
(pernikahan), anak, karir, dll) yang sifatnya fana, maka selalulah
bersiap untuk kehilangan, sebab semua itu tidak akan kekal.
tetapi,
jika tujuan hidup adalah ridho Allah, Rasul-Nya, serta orang-orang
mukmin, maka sesungguhnya tempat kembali di sisi Allah-lah
sebaik-baiknya tempat tinggal.
Laa tahzan… janganlah engkau bersedih.
"Sungguh
menakjubkan urusan orang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan.
Dan itu tidak terjadi kecuali pada orang yang beriman. Jika mendapat
nikmat, dia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa
musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya." (HR Abu Dawud dan
At-Tirmidzi)
mencoba memotivasi diri sendiri juga, agar senantiasa mebangkitkan semangat ruhiyah.
Suatu siang, saya meninggalkan perpustakaan beberapa jam
untuk suatu kepentingan sekolah, dan baru kembali menjelang Ashar. Saat tiba,
saya melihat setumpuk sepatu di depan pintu, tanda di dalam ruangan ada
anak-anak. Saat saya masuk dan mengucap salam, mereka begitu terperanjat,
mereka tengah menonton televisi tanpa pendamping, sambil tidur2an, bahkan ada
salah seorang yang tidur di atas meja ala Jepang (meja berkaki pendek) di dalam
ruangan.
belakang meja kerja saya. Lalu saya bertanya, tanpa ekspresi:
“Siapa yang mengijinkan kalian menonton televisi?”
“Gak tau bu, tivinya udah nyala begitu kita masuk kok!”
jawab salah seorang dari mereka membela diri.
“Begitukah?” Tanya saya masih tanpa ekspresi. “Kelas berapa
ini?” Tanya saya kemudian.
“Kelas 8 bu…” jawab mereka kompak.
“8 apa yaa…”
“campur bu, ada 8C ada 8D.”
“Kamu namanya siapa?” Tanya saya kepada siswi yang tadi
tidur di atas meja. Dan dia pun menyebutkan namanya dengan wajah pasrah. Yang
lain terdiam memandang yang bersangkutan dengan wajah iba.
“menurut kalian, apakah kalian sudah melanggar peraturan?”
Tanya saya masih tetap tanpa ekspresi.
“iya bu… maaf bu…
bla.. bla… bla…” mereka menjawab berebutan untuk membela diri.
“Kalau begitu, sesuai peraturan, ibu akan melaporkan hal ini
ke bagian kesiswaan ya.”
“jangan buu.. ibu… jangan dong…. nanti kita dapet SP bu…
nanti kita kena sanksi, yaa ibu jangan dong…” Mereka memelas, saya diam.
“kalian sudah sholat ashar?”
“belum Bu…!!”
“Baiklah, sekarang kalian bubar dan menuju ke Mesjid untuk
sholat Ashar.” Dan tanpa disuruh dua kali, mereka langsung berebutan keluar
ruangan.
Saat saya hendak pulang, mereka masih bergerombol di
lapangan basket, sebagian mengobrol dan sebagian lain berlatih karate.
“Kalian belum pulang?” saya menyapa mereka.
“Belum bu… nungguin temen2 yang lagi latihan.” Jawab mereka
tak bersemangat, saya pun tersenyum dan berpamitan duluan. Tiba-tiba salah
seorang dari mereka berteriak.
“Ibu, jangan dilaporin ya bu….”
manis. ^_^
“Iya, engga dilaporin kok. Kalian sudah menyesal kan…”
percaya.
cerah banget deh! Bu, saya cinta deh sama ibu!” dan mereka menghambur saling
berebutan mencium tangan saya. Salah seorang dari mereka tanpa melepaskan
genggamannya berkata, “Ibu, saya menyesal bu, saya salah bu, maafkan saya ya
Bu, saya janji engga akan seperti itu lagi.”
Alhamdulillah… saya lega, juga terharu. Saya tidak menyangka
reaksi mereka seheboh itu ketika saya mengatakan akan melaporkan pelanggaran
mereka ke bagian kesiswaan.
***
Hari-hari berikutnya, perpustakaan saya semakin ramai.
Bahkan mereka datang tak hanya meminjam buku, kadang sekedar ngobrol,
mengerubungi saya untuk bertanya banyak hal, yang seringkali segan untuk mereka
tanyakan ke guru lain atau bahkan ke wali kelas atau guru BP. Dan mereka tak
segan-segan bercerita tentang kakak kelas putra yang ganteng, tentang
perasaan-perasaan aneh kalau ketemu cowok, dan lain-lain yang saya tahu bahwa
itulah masa pubertas mereka.
boleh ga sih, kita jatuh cinta?”
“Sama siapa?”
“Sama cowok bu…..” hmm…. ngomongin cinta nih… waktu itu saya
tidak punya kalimat untuk menjelaskan. Saya hanya menjawab, “Karena kamu
perempuan, maka kamu boleh jatuh cinta sama cowok. Kalau jatuh cinta sama
perempuan lagi, itu ga boleh.”
“Ibu, cinta itu apaan sih…? Bu, ada bukunya ga sih bu? Bu,
adain buku-buku tentang jatuh cinta dong Bu….” Saya diam sambil tersenyum, dan
akhirnya mengangguk, lalu saya menyodorkan beberapa buku yang saya tahu di
dalamnya ada sedikit penjelasan untuk menjawab pertanyaan mereka. Yang akhirnya
membuat mereka semakin bertanya-tanya.
Lalu saya pun bilang, “Ibu saat ini belum bisa menjawab
untuk kamu. Nanti ya ibu carikan buku2 yang kamu minta.”
Dan akhirnya saya pun bergumam, Nak, mari kita melukis cinta
pada dunia. Mari kita pelajari ragam ciptaan Sang Maha Kuasa. Mari kita belajar bersama-sama. Ibu tak lebih
pandai dari kamu. Ibu hanya terlahir lebih dulu daripada kamu. Sebab itu, bukan
hanya kamu yang belajar dari Ibu, tapi Ibu pun belajar banyak dari kamu.
jawaban saya atas pertanyaan itu masih belum memuaskan keingintahuan mereka.
Dan saya pun berdo’a, semoga Allah menunjukkan jawabannya
kepadamu, dengan jawaban yang paling baik, dan membimbingmu agar dapat memaknai
sebenar-benar cinta yang DIA anugerahkan.
Dedicated for my beloved teenagers, siswi2 SMPITNF. Semoga kuncup2 itu mekar menjadi bunga-bunga nan harum mewangi, menggelorakan seisi dunia.
Dengarlah…. kicau burung-burung bernyanyi…
menyambut mentari pagi… indah dan berseri…
sebagai tanda… syukur pada Yang Kuasa…
atas nikmat alam raya…. untuk kita semua….
pagi yang indah, bersama gemerisik air dan kicauan burung-burung. bukan di rumahku, coz ga ada euy… ^_^
nuansa Ramadhan kali ini sedikit berbeda dari sebelumnya. di sekolah, nuansa itu tidak terlalu terasa, selain anak-anak pulang lebih awal, dan jadwal tilawah bareng dari jam 11 sampe jam 1. di rumah sih sama saja seperti tahun2 sebelumnya, tahun2 menjadi anak kost, tetap buka puasa dan sahur sendiri kalau tidak ada undangan ifthor jama’i.
tapi, siang tadi, nuansa itu begitu terasa, dan membuatku tersenyum, saat menginjakkan kaki di SD lagi, tempat yang hampir 3 tahun akrab denganku. Begitu memasuki gerbang, sebuah sapaan akrab terdengar, "Eh, Herni ke sini. mo ke mana Neng?" daku membalasnya dengan senyum dan lambaian tangan, sebagai pengganti jawaban: "ada deh…"
di depan ruangan yang dahulu ruangan bagian keuangan, terpampang dua spanduk besar, berisi motivasi untuk Muslim dan muslimah yang berpuasa, khususnya anak-anak SD. Kelas-kelas meriah dengan berbagai macam hiasan, apalagi kelas 1. Subhanallah…. jadi ingat masa-masa waktu masih ngajar TK. Ternyata, jiwaku ada di sini, di lingkungan pendidikan, berkumpul dan berteman dengan manusia, bukan dengan komputer yang selama hampir 5 tahun itu menyedot segala perhatian, setengah nafas, denyut nadi, bahkan senyum dan motivasi diri.
sekuntum penyesalan luruh di dalam hatiku. ini adalah universitas kehidupan, tentang betapa berharganya sebuah jiwa. di mana keinginan dan obsesi hanyalah sepucuk kerinduan tentang sebuah kesuksesan. sedangkan kerinduan yang sebenarnya adalah bagaimana bisa menjalani semua ketetapan Allah dengan hati yang ikhlas. berusaha untuk mensyukuri setiap pemberian-Nya, meski dalam hitungan manusia betapa kecilnya. Tetapi, sesungguhnya tak ada yang kecil dan sia-sia di mata Allah.
semoga… yah semoga… semua ini bisa memicu semangatku, memotivasi diriku untuk berkarya di ranah yang mungkin kuanggap bukan bidang dan kesukaanku. mencoba mencintai apa pun yang ditetapkan Allah untuk berada di tanganku.
yup! setelah sekian lama ‘mati suri’, semoga di akhir tulisan ini, jiwaku yang baru akan menyapa, bersama semangat dan keceriaan hati.