Berbagi Segenggam Cinta
<

IRONINYA BANGSA KAYA

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat ditancap pun bisa jadi tanaman. Negeri ini kaya, hasil bumi melimpah ruah, belum terhitung hasil lautnya. Jika tidak, mengapa kita dijajah Belanda berabad silam.

Tetapi, negeri yang subur, makmur, gemah ripah, loh jinawi itu, kini rasanya hanya ada di negeri dongeng. Kenyataannya kini, setiap hari tak hentinya anak bangsa berteriak, menjerit, mencakar, bahkan membunuh hanya untuk mengisi perut kosong mereka dengan sesuap nasi. Wajah bangsa tak lagi ramah. Senyum menjadi mahal. Masa depan bagaikan angan-angan yang sulit terwujud.

Tangisan pun tak lagi berair mata. Bencana demi bencana terus mendera. Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, gempa bumi, tsunami, hingga busung lapar. Ekonomi bangsa terpuruk, politik dan hukum telah luka, berdarah, bernanah, busuk! Pendidikan mengundang nestapa. Hingga jeritan tak lagi bersuara, hanya tersekat di kerongkongan. Bahkan peluh pun telah banjir, namun hidup tetap saja miskin.

Ironis. Panggung hiburan berdenyar-denyar, gemerlapan menyilaukan. Kesenjangan makin manja, tak malu-malu menampakkan rupa. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin sengsara.

Sementara, pendidikan anak bangsa nyaris sekarat. Sebuah SD Negeri nun jauh di Kecamatan Punduh Pedada, Lampung Selatan, sejak tahun 1982 belum pernah direhabilitasi. Bangunannya nyaris hancur, murid-murid hanya mendapatkan bahan ajar dua minggu sekali, sebab gurunya tak bisa rutin mengajar karena kesulitan transportasi.

Melongok ke pelosok Madura, ada SD Negeri Plakplak V, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, belajar dengan beralaskan tikar dan beratapkan langit, sebab bangunannya telah hancur.

Tak perlu terlalu jauh, masih bertetangga dengan ibu kota, sejumlah 221 bangunan SD di Tanggerang belum juga selesai renovasi. Hingga murid-murid pun belajar di tempat-tempat darurat, bahkan sebagian belajar sambil lesehan.

Padahal, pusat- pusat perbelanjaan, super market, hiper market, pembangunannya selesai tepat waktu. Betapa megahnya para konglomerat membangun usahanya. Betapa mewahnya kehidupan menyapa mereka.

Ironis. Anak bangsa kian terpinggirkan. Indonesia seakan koma!

Ya Allah… selamatkanlah kami dari kebinasaan.

 

 

Dari berbagai sumber, mencoba menggugah nurani. Always with love ~~@ izti @~~

September 13th, 2005 at 6:06 am