Berbagi Segenggam Cinta
<

TENTANG SEBUAH PANGGILAN

"Bu, aku mau menggambar perahu." kata seorang gadis kecil.

"Bu, aku mau main balok." kata yang lainnya.

Itu adalah panggilan anak-anak TK kelas B di sebuah Taman Kanak-kanak Islam kepada saya 5 tahun lalu.

"Bu, gimana perkembangan Dina, anak saya?"

Nah, kalau yang ini adalah pertanyaan dari seorang ibu wali murid yang anaknya berada di kelas saya. Masih 5 tahun yang lalu.

Semua orang, anak-anak, kepala sekolah, rekan-rekan guru, orang tua, abang sayur, abang ojek, tukang parkir, memanggil saya dengan panggilan kehormatan itu. Dan saya bangga menyandang panggilan itu. Meski saat itu usia saya belum lama lewat dari 20 tahun, dan belum mempunyai anak, bahkan belum menikah. Dan saya merasa sangat tidak nyaman jika ada yang memanggil saya dengan panggilan ‘mba’. Sebab konotasi mba saat itu di lingkungan tempat saya tinggal adalah sebuah panggilan yang secara khusus kerap dilekatkan pada seorang khadimat (pembantu rumah tangga).

3 tahun berikutnya, saya meneruskan kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri dengan mengambil jurusan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pendidikan Islam. Jurusan yang saya ambil sangat erat kaitannya dengan perkembangan multimedia, dan dekat dengan dunia entertainment. Di kelas, saya adalah mahasiswa tertua

J, padahal di kantor, saya pegawai termuda J

. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa usia saya di atas teman2 sekelas. Maka, mulailah melekat nama kecil saya sebagai panggilan. Di sini, tentu saja tidak ada yang memanggil saya dengan panggilan ‘Bu’.

Lama kelamaan, saya merasa lebih nyaman jika nama kecil saya yang dijadikan sebagai panggilan, dan tidak lagi alergi dengan panggilan mba. Dan bersamaan dengan itu, jabatan saya berubah di kantor. Tidak lagi mengajar, tetapi menjadi staff bidang akademik dan kurikulum. Anak-anak tetap memanggil saya dengan panggilan Bu. Namun banyak perubahan. Teman-teman kantor tidak lagi memanggil Bu, tetapi memanggil dengan nama kecil saya. Abang ojek, abang sayur, dan abang-abang lainnya memanggil saya ‘mba’.

Lalu, perlahan-lahan saya mulai tidak menyukai jika ada yang memanggil ‘Bu’ (kecuali rekan-rekan guru, anak-anak di sekolah, atau staff yang jabatannya di bawah saya

J). Saya menjadi lebih suka jika dipanggil dengan nama kecil saya, atau dipanggil ‘mba’ jika di luar lingkungan sekolah. Saya merasa sangat tua jika ada yang memanggil Bu di luar lingkungan sekolah (ah, memang sudah mulai tua ternyata J

). Pergaulan saya dengan kawan-kawan di kampus banyak mempengaruhi saya, dan membuat saya merasa masih muda.

Saat ini, belum seumur jagung keberadaan saya di myquran. Tetapi ada panggilan baru lagi untuk saya. Sebuah panggilan yang hanya bisa saya temukan ketika saya pulang kampung dan menjumpai adik-adik sepupu saya. Panggilan kepada seorang wanita sundanistus :D, yaitu ‘TETEH’. Awalnya sangat tidak suka, sebab saya tidak mau terlalu dibedakan karena usia saya berada jauh di atas sebagain besar penghuni myquran :D. Berkali-kali saya protes, tetapi teman-teman tetap saja keukeuh memanggil saya begitu. Lama-lama saya berusaha menikmati dan mulai menyukainya. Sebab panggilan itu didasarkan atas rasa persaudaraan dan rasa sayang terhadap seseorang yang dianggap lebih tua/dihormati. Dan, saya mulai mencintai panggilan ini, sama cintanya ketika adik-adik sepupu saya yang memanggil saya dengan sebutan itu. Dan dari panggilan itu pula tiba-tiba saja saya dianugerahi begitu banyak ‘adik’.

J

Berdasarkan pengalaman-pengalaman tadi, saya faham bahwa sesuatu yang tidak disukai bisa menjadi hal yang dicintai jika bisa menyesuaikan dan membiasakan diri. Dan tidak benar jika ada yang mengatakan, apalah arti sebuah panggilan (plesetan dari ‘apa arti sebuah nama’ :D). Sebab, bukankah Rasulullah mengajarkan kepada kita agar saling panggil-memanggil dengan panggilan yang baik. Dan bukankah menjadi berpahala jika kita dapat menyenangkan hati saudara kita. Dengan memanggil seseorang dengan panggilan kesukaannya, bukankah itu salah satu cara menyenangkan hatinya. Dan itu adalah pintu pertama untuk memasuki dunia persahabatan dan persaudaraan yang indah. Wallahua’lam bishawwab.

 

 

Always with love ~~~@ izti @~~~~

September 15th, 2005 at 4:21 am


One Response to “tentang sebuah panggilan”
  1. 1
      trz says:

    Nice Article. Keep up The Good work.
    Thanks for the information!!