Tarbiyah dalam pengertian umum Islam di Indonesia boleh dibilang mulai ada sejak Islam merambah nusantara. Namun gerakan pembaruan tarbiyah memang baru dilakukan sekitar 22 tahun lalu. Tepatnya sejak awal 1980-an, gerakan yang terinspirasi oleh al-ikhwan al-muslimin, Mesir ini perjalanannya mulai intensif
Tarbiyah memang banyak meangadopsi pemikiran al-ikhwan al-muslimin. Dalam tahapan dakwah umpamanya, mereka membagi menjadi lima, yakni tabligh (penyampaian, artinya menyampaikan nilai-nilai universal Islam ke seluruh lapisan masyarakat), ta’lim (pengajaran), takwin (pembentukan), tanzim (penataan) dan tanfiz (pelaksanaan). Sedang Hasan al Banna membagi tahapan dakwahnya dalam tiga tahap, ta’rif(pengenalan), takwin (pembentukan), dan tanfiz (pelaksanaan).
Al-Fahmu atau pemahaman, yang merupakan rukun pertama dari 10 rukun bai’ah yang dirumuskan Hasan al Banna menjadi landasan pertama pilar pembentukan pribadi dan jamaah bagi para aktivis tarbiyah. Bagi mereka, pemahaman inilah yang mengawali setiap pemikiran, pertimbangan dan keputusan yang sangat menentukan bagi langkah-langkah selanjutnya. Tarbiyah sendiri adalah proses menuju pemahaman Islam yang benar.
Meletusnya peristiwa Tanjung Priok masih mengiang di benak masyarakat Muslim Indonesia, dimana penguasa represif saat itu membabat habis setiap gerakan dan aktivitas berbau Islam. Peristiwa tersebut tidak menyurutkan aktivitas kelompok ini. Saat sejumlah aktivis Islam ‘tiarap’ dan sebagian mengisi ruang-ruang terali besi (penjara), intensitas Tarbiyah tidak pernah berhenti. Para aktivis Tarbiyah bahu membahu meningkatkan gerak laju dakwah. Mereka menghimpun diri dan berusaha konsisten mengamalkan nilai-nilai Islam.
Mereka terus bergerak, hingga ormas-ormas Islam dan pesantren-pesantren tak luput dari tawaran konsep Tarbiyah. Namun, usaha ini justru menunjukkan titik terang ketika para mahasiswa menyambutnya dengan antusias. Aktivitas keislaman di kampus-kampus yang telah lama redup, mulai marak kembali. Para pelakunya lebih dikenal sebagai aktivis dakwah kampus.
KH. Rahmat Abdullah, tokoh yang dinobatkan sebagai Syaikhut Tarbiyah mengenang bagaimana kondisi Tarbiyah pada etape tahun 1980-an. Saat itu banyak para akhwat yang terpaksa harus keluar dari sekolah mereka (SMU) lantaran menggunakan busana muslimah (jilbab). Namun keteguhan dan kegigihan mereka membuahkan hasil dengan diizinkannya memakai jilbab ke sekolah.
Menurut Ustadz Rahmat, belakangan di tahun 1990-an, kader-kader Tarbiyah mulai bebas berkiprah di masyarakat. Hembusan angin segar mulai dirasakan umat Islam. Di saat yang hampir bersamaan, ICMI didirikan dank ran aktivitas Islam pun mulai terbuka lebar-lebar.
Kondisi ini tidak disia-siakan oleh para aktivis Tarbiyah. Lembaga-lembaga pendidikan, yayasan Islam dan berbagai aktivitas bisnis di kalangan Tarbiyah mulai tumbuh berkembang. Komunitas ini pun tak pernah absent menggelar munaashoroh, penggalangan solidaritas dunia Islam.
Tarbiyah juga merujuk pada peringkat amal yang dicanangkan dalam risalah al-Banna. Di antaranya mulai dari membina pribadui muslim, membentuk rumah tangga muslim, membimbing masyarakat, memperbaiki pemerintahan dan mengembalikan eksistensi negara bagi umat Islam. Setelah membina pribadi, keluarga dan membimbing masyarakat, Tarbiyah dituntut untuk berpartisipasi memperbaiki pemerintahan. Menjawab tuntutan ini, kader-kader Tarbiyah yang juga berperan dalam mematangkan proses reformasi, mendirikan Partai Keadilan (PK) yang kini berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Tentu saja kemunculan partai baru ini mengundang perhatian banyak kalangan, apalagi setelah berhasil menghimpun 50 ribuan massa saat pendeklarasiannya di halaman Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 9 Agustus 1998.
Di tengah mencuatnya nama Tarbiyah, Ustadz Rahmat Abdullah mengingatkan kepada setiap aktivis Tarbiyah agar tidak hanyut dengan segala kebesaran. Jangan sampai kebesaran itu justru menghasilkan kebangkrutan. Seharusnya para aktivis kembali menyadari posisinya dengan senantiasa mengingat akar tarbiyahnya. Jangan sampai aktivis Tarbiyah tergelincir karena orientasi kekuasaan.
Lebih jauh lagi Ustadz Rahmat berpendapat, ada paradigma baru yang harus disosialisasikan kepada umat tentang Partai Keadilan Sejahtera. "Jangan lagi memandang makna partai seperti dulu. Partai Keadilan Sejahtera adalah gerakan dakwah yang merangkumi berbagai lini kehidupan bangsa. Tidak saja politik, tapi seluruhnya." Katanya.
Dengan kata lain, Ustadz Rahmat hendak mengatakan, meski mengusung bentuk partai, sesungguhnya Partai Keadilan Sejahtera adalah gerakan dakwah yang akan turun di semua lini kehidupan bangsa. Karena itu, tak berlebihan jika belakangan partai dakwah ini mengeluarkan slogan yang mencerminkan cita-citanya "Partai Keadilan Sejahtera, Harapan Baru Indonesia."
(sumber: Majalah Sabili EDISI KHUSUS "Sejarah Emas Muslim Indonesia" No.9 Th. X 2003)
Alhamdulillah jalan dak’wah yang begini panjang nantinya akan membuahkan hasil dengan jalan tarbiyah kita akan dapat mmebangun umat
———– )I( ————–
April 13, 2006 @ 2:32 amAsslm
ana copas, ya?
April 1, 2009 @ 11:28 amwaalaikumsalam… silakan ukhty…
April 15, 2009 @ 4:29 am