Berbagi Segenggam Cinta
<

Apa layaknya sebutan bagi sebuah rasa yang bergejolak dalam hati? Ah, biar saja dia kunamakan CINTA. Tetapi, layakkah dia disebut cinta jika warnanya HITAM PUTIH?

Suatu saat aku pernah merasa bahwa aku bisa hidup sendiri, tak perlu siapapun, karena aku tidak membutuhkan siapapun (lama baru aku sadari bahwa itu adalah keliru). Saat itu adalah saat ketika seorang wanita perkasa yang kupanggil Emih, yang kasihnya tak habis didera waktu, menyayangi dengan sepenuh jiwa, Allah yang Maha Pengasih mengambilnya dari sisiku di usinya yang belum lagi senja.  Usinya baru lewat 3 tahun dari 40. Tetapi, levernya yang digerogoti virus hepatitis selama lebih dari dua tahun tak sanggup lagi menopang hidupnya. Saat itu adalah 3 tahun yang lalu, aku akhirnya bisa mengikhlaskannya, meski tanpa sadar sebaris doa aku ucapkan, bahwa aku ingin terus menjumpainya meski lewat mimpi. Entah apa namanya, tetapi aku betul-betul berjumpa dengannya, terus menerus, dalam mimpi.

Lalu, sebuah warna lain aku goreskan untuk mewarnai CINTA. Cinta yang aku curahkan untuk ayah yang kehilangan ceria, dan untuk adik satu-satunya yang tertatih mencari kasih. 

Tetapi itu tidak lama. Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba sebuah kenyataan menghentak jiwaku. Menumpahkan kembali air mata yang susah payah aku bendung. Ayah, dia menghadirkan sosok lain dalam hidup kami yang aku harus berbagi cinta dengannya. Dia kusebut mama, ibu tiriku, dengan dua orang anak perempuan yang tiba-tiba harus kupanggil adik. Dengan terbata, aku kembali menggoreskan warna lain untuk CINTA.

Tertatih aku berdiri, melangkah, sendiri memaknai cinta. Warna cinta yang kugoreskan hampir utuh, bahkan tak peduli meski berkali ada tanya dalam hati, kenapa mamaku, semuda itu? Dia bahkan tak pantas kupanggil mama, dia lebih pantas kusebut kakak, atau bibi. Sebab usinya sebaya bibi ketigaku, adik ketiga ayahku. Dan aku rasa aku telah kehilangan sebuah cinta dan  keakraban yang bernama keluarga.

Aku kembali tertatih mewarnai cinta. Terbata menggumamkan sayang. Tetapi sebelum warnanya menjadi purna, ia kembali terhempas. Ada makhluk bernyawa di dalam rahim mamaku, calon adik keempatku. Lalu, kenapa cinta itu harus terhempas? Meski perih, aku harus tetap mewarnai cinta. Bukankah masih banyak ruang kosong yang bisa diisi? Dan di salah satu bagiannya, kuisi dengan warna cinta untuk dia, makhluk mungil dalam rahim mamaku. Adik, dia adalah adikku, ada darah ayah yang mengalir dalam darahnya, sebagaimana darah yang mengalir dalam darahku.

Aku bisa berbagi cinta dengan orang lain, apalagi dengan mereka, yang sudah diamanahkan Allah menjadi bagian dari tanggung jawab ayahku. Akhirnya, kubuka hatiku lebih lapang, agar cinta itu dapat bersemayam di singgasana kasih yang Engaku Ridhoi.

Ya Allah, berilah aku kekuatan, agar cinta yang kuwarnai menjadi sempurna. Hingga tak tersisa sedikitpun ruang untuk melekatkan warna hitam yang menjadi duka.

Always with love ~~~~~@ izti @~~~~

December 7th, 2005 at 9:52 pm


2 Responses to “Mewarnai CINTA”
  1. 1
      Dajal says:

    sesungguhnya
    kehidupan tak perlu warna-warni
    karena
    memang tak memiliki warna.
    hanya warna TRANSPARANLAH yang cocok untuk mewarnainya, warna yang merupakan persetubuhan para warna.
    hidup ini bukanlah hitam atau putih,
    bukan pula merah jambu yang menjadi warna dari cinta.
    tapi sebuah transparansi kasih tuhan yang menjadikan hidup ini berwarna. jangan kau lihat hidup ini hanya sebatas hitam putih atau merah jambu. sebab jika kau kabungkan skesemua warna akan terciptalah warna baru,TRANSPARAN. yang bening, bersih dan tembus pandang penuh kejujuran. warna yang dapat mendekatkan kita kepadaNya.

  2. 2
      Iztiqoma says:

    hmm… begitukah?
    ada banyak cara pandang orang mengenai cinta. begitu juga dengan warnanya.
    apa yang kita rasakan, itulah yang nyata ^_^