Berbagi Segenggam Cinta
<

__________________________

Sebuah hikmah tentang kekuatan silaturrahim

 

Suatu ketika, aku mengirimkan sms kepada seorang teman yang
sudah lama tak bertemu. Isi smsnya begini:

 

“Assalamualaikum mba, apa kabar? Bsk ada acr ga? Ketemuan
yuk! Kangen banget nih…”

 

Tak lama kemudian datang pesan balasan dari si mba. Akhirnya
aku pun menelponnya. Ternyata sehari sebelumnya si mba pun mengirimkan sms yang
isinya bernada sama untukku, tetapi salah kirim, 2 nomor bagian terakhir
tertukar. J

 

Esoknya, kami pun bertemu melepas rindu, kembali berkeliling
Depok naik motor berduaan saja dengannya, mengenang saat-saat ketika masih
sering bersama-sama.

 

Di tengah obrolan di jalan sore itu, si mba berkata:

“Her, ternyata kita sehati ya. Ketika aku kangen sama kamu,
ternyata kamu juga, bahkan saling berkirim sms yg isinya sama, meski smsku
salah sasaran” aku saat itu cuma tersenyum sambil berfikir, apa iya yaa…
sama-sama kangen, apa betul sehati? Dulu memang aku sering sekali silaturrahim
ke rumahnya.

 

Dan aku pun tertegun hingga tak terasa air mataku telah
mengalir ketika ia berkata:

 

“Her, mba sayang sama kamu, seperti sama adik kandung
sendiri. Jangan lupa sama mba, sama kaka (panggilan untuk anak pertamanya yg
berusia 4 tahun). Mampirlah ke rumah, kapan pun, pintu rumah kami selalu
terbuka buat kamu. Jangan anggap mba orang lain, mba kakak kamu.” Ah… indahnya…
aku pun memeluknya dengan erat. :-LV :-LV :-LV

 

Di saat lain, dengan orang yang berbeda.

 

Siang itu aku ke toko buku, berniat membeli buku untuk
hadiah milad seorang kawan. Tengah memilih itu, mataku tak sengaja menumbuk
pada sebuah buku berjudul “Untukmu Kader Dakwah” karangan Ustdz. Rahmat
Abdullah. Tiba-tiba aku merasa bahwa aku harus membeli buku itu. Tetapi pikiran
rasionalku memutuskan, aku belum tertarik untuk membacanya, maka, buku itu
hanya sempat melintas dalam memori.

 

Tiba di rumah, tiba-tiba ummi bertanya padaku, apakah aku
punya buku tentang kader dakwah?

 

Aku pun bertanya meyakinkan. “Untukmu Kader Dakwah, Mi? yang
karangan Ustdz Rahmat Abdullah kan.”

 

“Iya” kata ummi (panggilan untuk ibu kostku)

 

Yaaa…. Dengan menyesal aku menuturkan bahwa tadi aku sempat
melihatnya, dan sempat terlintas untuk membelinya tapi ga jadi karena merasa
belum tertarik. Aku menyesal sekali saat itu tidak membelinya. Sebab rupanya
abi seharin tadi nyari2 buku ke setiap toko buku Islam. Aku memang melihatnya
hanya ada satu tadi.

 

Lintasan hati yang tiba-tiba tadi di toko buku itu membawaku
untuk merenung. Aku memang telah lama tinggal bersama mereka, lebih dari dua
tahun! Subhanallah… waktu paling lama untukku ngekost di tempat seseorang. Dan
waktu yang tidak sebentar itu ternyata telah saling menautkan hati kami.

 

Di saat yang lain, aku berkunjung ke rumah seorang kawan
yang telah lama tidak aku datangi. Ketika masuk, anaknya yang saat itu baru
berusia 3 tahun, tiba-tiba memelukku erat sekali sambil berkata:

 

“Ammah (tante), Lukman kangen. Kenapa Ammah ga pernah main
ke sini sih?” tanyanya.

 

Aku betul-betul takjub. Darimana ia bisa bicara seperti itu?
Umminya kah yang mengajari. Ketika ibunya aku tanya, Lukman tak pernah diajari
bicara seperti itu, itu betul2 refleksi dari rasa rindunya padaku. Dia memang
cerdas, banyak kosa kata yang telah difahaminya di usia dini. Tetapi,
mengungkapkan rasa rindunya dengan bahasa verbal? Aku nyaris tidak percaya.

 

Tetapi, aku mengakui keterpautan hati kami ketika aku
beranjak untuk pulang, Lukman kembali memelukku dengan erat sambil berkata:

 

“Ammah, jangan pulang, nginep aja deh.. Lukman kan kangen…”
katanya.

 

Ah… aku betul-betul tidak percaya. Dulu aku memang sering
menginap di rumahnya, bermain bersamanya. Tetapi karena aku betul2 tidak bisa
menginap saat itu, maka dengan berat hati aku tetap pulang meninggalkan gurat
kesedihan di wajahnya. Terakhir, sambil melambaikan tangannya dia berkata:

 

“Ammah… hati-hati di jalan yaa… Lukman sayang Ammah.” Duh…..
mataku pun basah.

 

***

 

Silaturrahim, itulah kuncinya. Aku merasa, kedekatan dan
keterpautan hati itu bukan terjalin tanpa sebab. Itu adalah buah yang sangat
manis dari sebuah usaha mengikatkan tali silaturrahim. Bukan saudara kandung,
tetapi kedekatannya lebih dari kedekatan terhadap saudara kandung. Silaturrahim
yang terjalin karena cinta. Cinta dalam sebuah ukhuwah yang indah dalam naungan
cahaya Islam.

 

Maka, pantaslah jika Rasulullah mengajarkan kita untuk
menyambung silaturrahim, dan membaca seuntai doa untuk kita dan saudara-saudara
kita, agar hati yang berbeda itu bisa saling berpaut.

 

Ya Allah, Engkau tahu hati-hati ini berhimpun dalam cinta
pada-Mu, telah berjumpa dalam taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Teguhkanlah ya Allah, ikatannya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati kami dengan cahaya-Mu yang tidak
pernah padam. Lapangkankah dada-dada kami dengan kelimpahan iman kepada-Mu dan
indahnya bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati ini dengan ma’rifat kepada-Mu.
Matikanlah ia dalam syahid di jalan-Mu. Engkaulah sebaik-baik pelindung dan
sebaik-baik penolong.

 

Silaturrahim, jangan karena kita mengharapkan sesuatu dari
seseorang, sebab makin kita berharap pada makhluk, maka bersiaplah untuk
kecewa. Tetapi sambunglah talinya karena kecintaan kepada-Nya, kepada sabda
rasul-Nya. Sebab Allah menjanjikan pahala yang besar darinya, hingga dosa pun
berguguran dan malaikat mendoakan kebaikan ketika kita berjabat tangan dengan
saudara kita.

 

Masih merasa jauh sama saudara (seiman)? Baca aja doanya!
Datengi rumahnya, kali aja dapet bakwan yang enak *siapa tuh yang begitu?* :-P

 

 

 

 

 

January 21st, 2006 at 8:04 am


2 Responses to “Ketika hati saling bertaut”
  1. 1
      Cing RoesLY says:

    TERIMA KASIH…
    itulah kata yg tepat
    yg dpt kuucapkan setelah membaca tulisan ini..
    Tulisanmu ini telah semakin menyadarkan & menguatkan hatiku akan pentingnya sillaturrahmi…
    aku terhenyak..
    telah lama aku tidak ke Karawang..Ziarah ke Makam Mamahku, bertemu Bapaku,Saudara/i, Kerabat2, & Guru2-ku..
    sangat lama sekali aku tdk ke Sukabumi..Ziarah ke Makam Guru2ku, Bertemu Guru2ku, Teman2, Saudara2 & Orang Tua angkatku…MAAFKAN AKU…!!!
    mgkn aku terlalu egois, sibuk memikirkan urusan & dunia sendiri…Tidak! Aku tidak bermaksud seperti itu.
    msh terngiang dlm Pikiranku sabda Rasulullah SAW:
    “Barang siapa yg beriman kpd Allah & Hari Akhir, maka ber-SILLATURRAHMI-lah (peliharalah jalinan kasih sayang & persaudaraan “seiman”..
    Ya ALLAH, tolonglah Hamba-Mu ini agar bs berSILLATURRAHMI dgn Mereka semua…

  2. 2
      Tips Beauty says:

    I ve been reading along for a while now. I just wanted to drop you a comment to say keep up the good work.

    Joan
    Tips Beauty