“Assalamualaikum ukhty.. apa kabar? Ukhti… ana mau taaruf sama anti. Gimana? Udah punya calon belum” ujar seorang ikhwan kepada seorang akhwat lewat pm.
“Hah. Taaruf?” si akhwat bingung. “Jawab apa nih? Belum kenal ko dah ngajakin taaruf. Eh, taaruf kan ngajakin kenalan. Hmm.. engga deh, kayaknya taaruf ini maksudnya bukan kenalan biasa deh.” Berfikir begitu, si akhwat pun mengabaikan isi pm.
Kenapa demikian? Sangat wajar. Perempuan sebagai makhlus yang perasaannya sangat halus, pasti sangat hati-hati ketika mendapat pertanyaan semacam ini. Kalau dia tidak diam, biasanya akan mengalihkan pembicaraan, itu kalau maksud disampaikan lewat dialog langsung.
“Terus, gimana dong… kan aku mau taaruf sama kamu.”
Waduh… tambah bingung
Akhirnya… dua2nya malu. Si ikhwan akan menganggap akhwat itu menolaknya, sementara si akhwat masih bingung, ini orang serius apa engga siiyy?
Lalu… akhirnya… sama-sama saling menghindar, bahkan putus komunikasi.
Pernahkah mengalami hal seperti ini? *ga usah ngaku di sini, dari senyumnya aja dah ketauan deh…*
Nah, di sinilah pentingnya peranan perantara yang bisa dipercaya, seperti murobbi, keluarga, atau teman. Sebab dengan adanya perantara:
1. Menjaga kebersihan niat dan kebulatan tekad masing2 individu, sebab dengan melibatkan orang lain, akan lebih kelihatan keseriusannya ketimbang ‘nembak’ langsung. Masa ngelibatin orang ketiga buat main-main?
2. Orang ketiga / perantara dapat berperan sebagai penasehat maupun sebagai motivator.
3. Menjaga harga diri individu yg akan melaksanakan proses ini. Kalo ga jadi, ga semalu ‘nembak langsung’. Apalagi kalo ditolak. Paling tidak, dengan tidak berhadapan langsung, rasa malu atau sakit hati tidak sebesar ‘nembak’ langsung.
At last, ini cma saran lho……. Tapi, ada baiknya kalau dipertimbangkan. Selanjutnya, ya terserah anda
Eh, satu lagi nih…. Kalo bisa, pilih perantara yang udah walimah, sebab kalo sama-sama belum, hehe….. entar jadian sama perantaranya
Assalamualaikum..
February 22, 2006 @ 3:14 amblognya bagus bu….artikele lumayan berbobot dan gak terlalu panjang…
cuma kurang variatif aja artikele…lah tentang munakahat semua..:D
@abu
February 22, 2006 @ 9:37 pmcoba dunk baca artikel yang sebelum2nya. ga cuma munakahat ko. banyak yang lainnya dunk.
Assalamu’alaykum…
Hhmm……… nih orang lagi menguatarakan pengalamannya yak kali ajha iya lewat tulisan :D:D Ane tau100x siapa yuk?

February 23, 2006 @ 1:29 amBingun…….
@JB
February 28, 2006 @ 3:51 amgeer! :p
mangnya dikau ajah yang pernah ngajakin izti taaruf?
@izti
March 1, 2006 @ 12:00 am:D:D, GeeR!?:P
mang diriku bilang, hanya aku yang ngajakin dikau ta’aruf?
*pletak*
:-P 
March 1, 2006 @ 9:39 pmjitak JB pake gagang sapu!
kalo teh izti gimana? maksudnya kalo terpaut hati dengan seseorang, lebih suka menyampaikan sendiri atau lewat orang lain? hihihihi, rahasia yah…
April 4, 2006 @ 10:49 pm(saya suka baca-baca blognya, tulisannya banyak sih)
@vina
April 5, 2006 @ 3:03 amcukup simpati aja deh *alias SIMpan dalAm haTI*