Aku mengenal wanita itu dalam dua puluh dua tahun hidupku. Ia sungguh perkasa. Aku sering menyaksikan bagaimana tangannya yang lembut ketika membelaiku, begitu kuat mengayun cangkul, membabat rumput, menyiangi padi yang tengah mekar, mencuci, memasak, membersihkan rumah. Semuanya ia kerjakan. Ia cantik ketika menghias diri, tetapi tak segan berpakaian kotor penuh lumpur ketika terjun ke sawah kami.
Dan lelaki itu adalah pangerannya. Pangeran sederhana yang hanya sanggup membangunkan sebuah gubuk untuknya di awal pernikahan mereka. Bahkan, lelaki itu pernah meninggalkannya karena merasa tak sanggup membahagiakannya. Nyaris saja ada lelaki lain mengambil hatinya. Tetapi, lelaki itu tetap pangerannya. Ia kembali membawa cinta dan tanggung jawab yang lebih berharga dari permata.
Tak pernah sekali pun aku melihat mereka bertengkar. Lelaki itu diam ketika wanita itu menumpahkan keluh kesah, marah dan kesalnya. Dan wanita itu menangis ketika lelaki itu tak berkomentar, hanya membelainya dengan lembut dan penuh kasih.
Perjuangan mereka yang penuh diliputi cinta dan kasih sayang, membawa kebahagiaan tak terkira, bersama dua buah hati yang sehat dan cerdas. Si sulung yang cantik tetapi manja, cerdas tetapi keras kepala. Dan si bungsu yang biasa-biasa saja tetapi sangat perhatian, pendiam dan nyaris selalu menurut. Tak ada lagi yang kurang dalam kebahagiaan mereka.
Hingga, takdir pun menjemput mereka. Wanita perkasa itu terbaring lemah di tempat tidurnya. Lebih dari setahun, Rumah Sakit menjadi rumah kedua. Harta yang dikumpulkan dengan lelehan keringat dan air mata untuk buah hati mereka, nyaris habis tak bersisa. Levernya sakit, dan lelaki itu tak sedetik pun beranjak dari sisinya, dan tak setitik pun air matanya menetes. Mereka tetap berbicara, dan bercanda. Lelaki itu tak pernah bersedih, ataukah aku yang tak melihatnya bersedih, karena pandainya ia menutupi kesedihannya?
Dan Allah menetapkan takdir mereka. Hanya sekali dalam hidupku, aku melihat lelaki itu menangis. Yaitu, saat wanita perkasa yang menjadi bidadari hidupnya, berlalu meninggalkannya, kembali ke dalam pelukan Sang Pencipta, Penggenggam Seluruh Jiwa.
Diam, dan nyaris beku. Lelaki itu tak sanggup berkata. Hanya sorot matanya yang bisa bercerita. Dan semua masih beku, hingga suatu hari bidadari lain mengisi hari-harinya.
Kini, akulah yang beku.
___________
Menyibak kenangan lama, rindu ayah dan ibu. Robbighfirlii… waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaani shoghiiroo……
Ya Allah…
kasihilah ibuku di sana,
di dalam kesendiriannya,
lapangkanlah alam kuburnya,
terangilah dengan cahya-Mu.
Duhai Robbi, ampunkan dia,
sejahterakan dengan nikmat-Mu,
yang tak pudar ditelan masa…
izinkanlah aku meminta
ya begitulah hidup.. ada saat bahagia, ada saat bersedih dan kecewa, saat marah.. itu semua adalah bagian dari bumbu kehidupan.. ibarat intan semakin di gosok semakin kelihatan berkilau.. semoga ukhti izti seperti intan yang kian hari tambah berkilau…
February 28, 2006 @ 11:03 pmbukan bidadari lain yang mengisi-hari-harinya,
tetap ada cinta yang tak tergantikan, ada hari indah yang pernah dilewati bersama, dulu…….dengan wanita itu,……..
tetap ada jejak2 cinta dan kesetiaan yang tidak bisa dihapus, buktinya untaian aksara ini, dan doa yang membuat kita tak jadi membeku,……
teruskanlah kasihnya lewat buaian kasihmu…..
March 1, 2006 @ 2:37 am@fadil
March 1, 2006 @ 10:40 pmkata-kata yang indah ^_^
semoga dunia dipenuhi dengan wanita wanita semacam ini
October 15, 2008 @ 3:25 amperputaran kehidupan…..
November 2, 2008 @ 8:13 pm