Aku sibuk menata perasaanku, berusaha menenggelamkan suara-suara yang riuh berceloteh di otakku. Aku duduk nyaris kaku, berusaha menahan getaran tubuhku agar tak sampai menggetarkan kursi yang aku duduki.
“Temenku waktu taaruf ditanya-tanya, berapa harga sekilo cabe, harga sekilo bawang, harga garam, gula, huah! Repot banget tau!” celoteh satu suara. Sisa-sisa obrolan bersama teman-teman kost yang masih terngiang.
“Wah, masa sampe segitunya sih? Mau nyari istri atau nyari tukang masak?” aku berkomentar sekenanya saat itu. Semuanya tertawa.
“Katanya nanti juga ditanyain tuh, hafalan Qurannya berapa juz, ditanya motivasi menikah, terus ada juga yang kalo udah nikah disuruh tinggal di rumah aja, ga boleh keluar-keluar tau!” semua tertawa lagi. Di antara kami belum ada yang punya pengalaman itu, semuanya hanya katanya, katanya. ^_^
“Kalo ada ikhwan yang nyuruh istrinya cuma di rumah aja, ga boleh ke mana-mana, wah, ikhwan itu sudah aku black list dari daftar calon suami deh. Itu namanya berfikir sempit, muslimah kan punya kewajiban untuk berkiprah di masyarakat sebagai seorang daiyah, ga bisa dunk seenaknya membatasi aktifitas istri.” Aku beropini dengan berapi-api saat itu. Teman-temanku mengiyakan.
Kini, duduk di hadapanku seorang laki-laki yang ingin memilihku sebagai pendamping hidupnya. Inilah taaruf yang sebenarnya.
“Silahkan kalau ada yang mau kalian tanyakan. Mungkin ukhti duluan?” ujar Murobbinya setelah sebelumnya membuka pertemuan dengan hamdalah dan shalawat.
Aku nyaris tersedak karena gugup. Ujung mataku mengintip, mencoba melihat reaksinya. Dia terlihat tenang. Aku menatap Murobbiku, mencari dukungan. Ah, mana catatanku? Semua pertanyaan yang sudah aku hafalkan semalam menguap semua. Aih… Tanya apa ya? Ah, ya, Tanya ini aja deh…
“Apa motivasi antum untuk menikah?” pertanyaan pertamaku, yang dijawab olehnya dengan lancar. Lalu, aku menanyakan tentang komitmen dan harapannya setelah menikah, kondisi keluarganya, dan sebagainya. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dari mulutku yang dijawabnya dengan lancar dan dengan ketenangan yang nyaris sempurna. Pertanyaanku sudah habis! Wah, kayaknya bener-bener siap nih ikhwan. Komentar hatiku jail.
“Ada lagi ukhti?” Tanya Murobbinya. Aku kembali melirik Murobbiku, yang dijawab dengan seulas senyum.
“Pertanyaan saya sudah selesai.” Jawabku.
“Akhi, silakan antum bertanya.”
“Ana tidak ada pertanyaan Ustadz, biodata yang diberikan ke ana sudah sangat lengkap.” Jawabnya. Hah! Yang benar saja? Teringat olehku 5 lembar biodataku lengkap! Hehe… jurus jitu menghindari banyak pertanyaan ketika taaruf ^_^
Jadi…. Sudah selesai? Huah! Lega! Akhirnya… tak terasa aku tersenyum puas.
“Bagaimana Akhi, Ukhti, apakah prosesnya mau dilanjutkan?” kembali Murobbinya bertanya.
“Insya Allah dilanjutkan Ustadz.” Jawabnya mantap. Semua menunggu jawabanku.
“Saya akan memberi jawaban tiga hari dari sekarang.” Jawabku. Kulirik dia, masih mempertahankan ketenangannya. Iihhh! Aku gemes! Sama sekali tidak bisa kutebak apa yang tengah dia pikirkan.
Taaruf selesai. Tiga hari lagi aku akan memberikan jawaban.
***
Seperti yang telah diceritakan oleh seorang teman, yang saat ini tengah menantikan detik-detik pernikahannya. Hehe…. Dua minggu lagi! ^_^
Assalamu’alaykum…
Ane salut dengan nih orang izti, tabah, pinter, pokok na’ baik semua na’ :D:D
Selamat iz.. yah, maksud ane buat siapa dhe maksud tulisan tersebut, semoga dimudahkan mah Allah dapet keluarga yang samara.. amin yah Rabbal’alamin..
Jazakillah..
Wa’assalamu’alaykum…
February 23, 2006 @ 1:39 amloh saya kira mah tadi penulisnya yang ta’aruf (???)
April 4, 2006 @ 10:57 pm