Sungguh! Dia cantik. Tidak hanya itu. Dia cerdas, supel, dan
sangat ramah. Tetapi aku heran. Dia selalu berdiam diri setiap kali seorang
laki-laki datang kepadanya, meminta hatinya, mengajaknya untuk menikah. Ia
tidak menerima, tidak juga menolak. Dia hanya diam. Meminta biodata dirinya?
Dia hanya akan memberikan untuk kepentingan administrative, tidak untuk proses
menuju pernikahan.
Tak disangka, suatu ketika dia mengobrol denganku.
“Her, ada yang ngajakin kamu taaruf. Mau ga?” tanyanya
“Wah, kalo emang iya, buat mba aja deh!” sambil berkata
begitu, aku tersenyum menggodanya.
“Aku tidak akan pernah melakukannya.” Jawabnya tak terduga.
Jika yang berbicara adalah seorang feminis yang tidak mengenal jilbab dan
kajian, mungkin aku percaya. Tetapi, aku rasa dia faham apa artinya menikah.
“Kenapa mba?”
“Sebab aku tidak mau jatuh cinta!” jawabannya setengah
terluka.
Ah, apa aku telah menyinggungnya? Mataku mulai panas. Aku
ingin menangis.
“Menikah bukan karena telah jatuh cinta. Tetapi karena
pernikahan adalah ibadah, setengah dari agama.” Aku berkata perlahan seolah
pada diri sendiri.
“Aku sudah pernah
menikah sekali. Jadi tidak perlu lagi.”
Aku ternganga. Kali ini air mata sudah mengalir.
“Kalau saja ada hati yang terbuat dari batu, aku akan
meminta agar hatiku terbuat dari batu. Agar tak perlu jatuh cinta, hingga tak
perlu kecewa.” Mendengarnya, air mataku semakin bercucuran. Sungguh, aku sayang
padanya. Mengapa dia berfikir begitu?
“Dia meninggalkanku saat pernikahan kami belum seumur
jagung. Padahal tak kurang, setiap hari dia berkata mencintaiku. Umurku waktu
itu 18 tahun. Lalu aku mulai berislam dengan benar. Aku berjilbab, mengaji,
meneruskan kuliah. Aku menganggap bahwa semua tidak pernah terjadi, tetapi
hatiku teriris setiap hari. ” Dia terus bercerita, sementara air mataku terus
bercucuran. Aku tak ingin bertanya, aku hanya ingin mendengar.
“Tak sedikit laki-laki yang datang setelahnya. Juga berkata
mencintaiku. Dan aku sama sekali tak peduli. Hingga 3 tahun setelah itu,
laki-laki kedua mengisi hatiku dengan cintanya. Kami sepakat untuk menikah.
Orang tua kami setuju, dia menerimaku apa adanya. Dan di hari saat seharusnya
dia mengkhitbahku, Allah memanggilnya pulang.” Bercerita begitu, tak ada
setetes pun air matanya, padahal air mataku telah semakin bercucuran.
“Dan setelah itu, aku tak lagi bisa menghitung, berapa lagi
yang berkata mencintaiku. Tetapi aku sudah tidak berani lagi jatuh cinta.” Dia
mengakhiri ceritanya. Dan dia sama sekali tidak menangis. Kekuatan sekaligus
kerapuhan. Aku hanya tergugu, berharap dia hanya bergurau. Tetapi, dia serius.
***
Kini aku mengerti, mengapa ia meminta hati yang terbuat dari
batu. Mengingatnya, air mataku kembali bercucuran. Padahal kisah itu ia
ceritakan 5 tahun yang lalu. Kami tak pernah lagi bertemu. Entah ia di mana.
Tetapi aku berharap, bahwa saat ini ia tak lagi takut jatuh cinta.
Menikahlah… hingga ketenangan itu melimpah. Wallahua’lam
bisshawwab.
Always with love ~~~~@ izti @~~~~