“Her, mba De ingin memberikan PDA ini untuk Katrin. Hadiah
Mba De sama Abi untuk dia, untuk menghiburnya.” Itu permohonan mba De padaku
sepekan lalu.
“Iya mba, aku rasanya tidak terlalu membutuhkan benda ini.
Di rumah sudah ada komputer, di kantor juga. Aku bisa nulis kapan pun aku mau.”
Jawabku.
Dan akhirnya, PDA pun berpindah tangan. Sebagai gantinya,
aku membeli hape yang harganya sepertiga harga PDA itu. Entah kenapa, aku
merasa dadaku demikian plong!
Ada
rasa bahagia yang membuncah.
Aku ingat, awal semester kuliahku, aku pontang panting
mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Entah itu meminjam komputer
teman, ke rental, menggunakan waktu senggang di sela-sela pekerjaanku dengan
memanfaatkan komputer kantor, atau bahkan mengerjakannya selepas jam kerja.
Nyaris setiap hari aku pulang larut malam. Dan bahkan jika tugas-tugas itu
mencapai deadline, aku bermalam di kantor.
Akibatnya, ketika UAS semester satu tiba, aku terbaring tak
berdaya, dirawat di klinik sekolah karena positif typhus. Maka berantakanlah
nilai-nilaiku waktu itu. Aku nyaris mengundurkan diri dari kuliah.
Semester dua, aku masih pontang-panting. Aku bertahan untuk
menyelesaikan kuliah. Dengan biaya sendiri, sangat sayang jika aku berhenti di
tengah jalan. Saat itu setiap hari aku berdoa:
“Ya Allah, aku minta komputer satuuuuu aja! Yang lain ada
yang punya banyak, dan banyak yang punya lebih bagus. Aku minta satuuuuu aja!
Yang biasa aja deh! Masa sih ga dikasih?” aku berdoa antara keinginan yang
menggebu dan kebingungan entah mau membeli komputer dari mana. Sebab uang
tabungan jelas habis untuk biaya kuliah.
Mba De tertawa ketika aku menceritakannya.
“Kamu sih, mintanya cuma satu. Udah dikasih satu, pake beli
pocket pc.
Kan
mintanya satu.”
Komentarnya membuatku tertawa.
“Allah Maha Kaya, Allah ga kikir seperti manusia. Kenapa
kamu ragu-ragu ketika meminta pada-Nya?”
“Iya mba, aku emang minta satu. Lagian,
kan
butuhnya juga satu.” Jawabku membela diri.
“Ah, kamu ini. sebenarnya kamu itu faham. Kadang kalau kamu
ngomong itu ga minta jawaban ya, Her. Kamu cuma pengen didengerin.” Gemas Mba
De mencubit pipiku. Aku cuma tertawa. Aku kabur sebelum jitakannya mendarat di
kepalaku.
Jika dihitung-hitung, aku tak habis pikir. Dengan gaji pas-pasan,
aku mampu menyelesaikan kuliahku tanpa sepeser pun biaya dari orang tua. Bahkan
sedikit-sedikit membantu keluarga. Bisa membeli komputer standar untuk
merampungkan tugas2 disainku, meski dengan mencicil. Bahkan nilai akhirku
sangat memuaskan.
Benar, Allah Maha Kaya. Asal tidak berpangku tangan, dengan
usaha yang gigih, Dia mengabulkan segala permintaan. Bahkan permintaan yang
mungkin paling mustahil sekalipun. Jadi, mengapa meminta sedikit padahal Allah
dapat memberi banyak. Doa, adalah bukti kebergantungan seorang hamba pada-Nya.
“Kamu jangan lupa, Her. Semua tidak kamu dapat dengan
cuma-cuma. Dan kamu jangan kikir terhadap diri sendiri. Kamu harus mulai
memperhatikan kesehatan kamu. Lihat badan kamu, makin kurus, makin ringkih.
Saat UAS semester satu kamu sakit typhus, lepas UAS semester dua kamu sakit
cacar. Cuma semester tiga kamu ga sakit, sebab lepas sidang tugas akhir, kamu
typhus lagi.” Mba De berkata khawatir.
Kembali aku cuma bisa tertawa, mentertwakan diri sendiri.
Mba De benar, aku makin kurus. Aku tak ingat sejak kapan aku ga doyan makan.
Aku makan karena butuh, bukan karena mau. Aku mulai menghitung, makin banyak
jenis makanan yang aku tidak suka.
“Mba tau engga, aku sekarang pengen apa?”
“Apa?”
“Aku pengen melanjutkan kuliah lagi. Aku mau ambil
Pendidikan Anak Usia Dini. Ilmuku waktu belajar di PGTK kayaknya kurang mba,
dan udah banyak yang lupa.”
Mba De geleng-geleng kepala.
“Apa pun keinginan kamu, yang penting kamu sehat. Kamu akan
mendapatkan apa yang kamu inginkan, kalau kamu sehat. Katanya mau melahirkan
generasi tangguh? Gimana bisa kalau kamu sakit-sakitan?” Kembali ia menasihati.
Dan aku kembali tertawa.
Ya Allah, sehatkanlah badanku, sehatkanlah pendengaranku,
dan sehatkanlah penglihatanku. Amiin…
amiin
March 14, 2006 @ 4:13 am