Berbagi Segenggam Cinta
<

 

Di halaqah, aku punya teman bernama
Ratih. Orangya kalem, bicaranya pelan, lembut, dan sangat perhatian.
Dia tidak pernah berbicara kasar, lebih banyak tersenyum, tidak
pernah tertawa keras apalagi terbahak-bahak. Aku dan dia, bagai bumi
dengan langit, karakter yang bertolak belakang seratus delapan puluh
derajat. Terkadang, aku ingin seperti itu, pendiam, lembut, pelan,
penurut, bak putri keraton Solo. 

 

Ternyata, Ratih justru ingin seperti
aku. Ceria, ramah, supel, aktif, enerjik, meski kadang sering
grasa-grusu ga sabaran.

 

Di kantor, aku kenal dengan Bu Imas.
Tipe orang yang super aktif. Talk aktif, ketika berbicara dengan
intonasi cukup keras, cepat, dan tegas. Nyaris tak ada yang berani
membantahnya, apalagi mendebatnya. Sebab wawasan dan kecerdasannya
luar biasa. Dia seperti singa betina, tetapi berhati sangat lembut.
Satu hal yang sangat ingin aku tiru, kebiasaannya untuk selalu
berbagi dengan orang lain. Dengan power yang tinggi, dia bisa
melakukan banyak hal dalam satu waktu.

 

Meski tak ingin berubah sepertinya, aku
tetap ingin memiliki karakter tegasnya, memiliki kepastian penuh
ketika melakukan sesuatu, tidak plin plan dan mudah terpengaruh
seperti aku. Keteguhannya memegang prinsip, membuatku semakin kagum.
Sayangnya, dia terlalu mendominasi setiap hal, sehingga seringkali
membuat orang lain gusar.

 

Di TK dahulu, aku kenal dengan Arti.
Dia orang paling asik yang pernah aku temui. Easy going, ringan,
seperti tanpa beban. Belum pernah sekalipun aku melihat dia cemberut.
Cara dia marah, cara mengungkapkan rasa tidak suka, enteng, membuat
lawan bicara menanggapi secara biasa. Dia nyaris tidak pernah
bermasalah dengan siapa pun.

 

Di MyQuran, aku kenal dengan Ririn.
Rame seperti aku, enerjik, dan sangat aktif. Kepolosannya membuatnya
nyaris tak punya rahasia. Berbagai cerita ia bagi dengan
kawan-kawannya, ringan, enteng, ceria. Berbeda denganku yang ketika
serius terkesan galak, reaksinya, tak pernah berubah. Belum pernah
aku melihatnya cemberut, apalagi marah-marah. Aku bahkan menyangka ia
tidak bisa marah.

 

Aku, seringkali ingin menjadi orang
lain. Seringkali merasa tidak pantas begini, tidak pantas begitu.
Bahkan sering kehilangan kepercayaan diri. Manusiawi bukan?

 

Aku tidak tahu apakah ada orang lain
yang ingin seperti aku, selain Ratih. Yang jelas, keinginan-keinginan
untuk berubah, aku fakir itu positif. Tetapi, ketika keinginan untuk
menjadi orang lain lebih kuat daripada keinginan untuk mempertahankan
karakter diri sendiri, bukankah itu terlalu berlebihan?

 

Jika demikian, berarti kita telah
berlaku tidak adil terhadap diri sendiri. Bukankah tidak ada manusia
yang terlahir sempurna kecuali Rasulullah SAW. Maka, dengan keyakinan
bahwa Allah menciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna,
aku berusaha untuk lebih proporsional dalam menilai diri sendiri.

 

So, krisis pede, engga la yau!!! ^_^

March 29th, 2006 at 4:49 am