Dalam benak saya selama bertahun-tahun, cinta tak harus diungkapkan dengan kata-kata. Cukup tersiratkan dengan perhatian dan perbuatan. Sebab saya tumbuh dalam keluarga seperti itu.
Ayah, terkesan tegas dan keras mendidik saya. Tetapi, cintanya yang besar tetap nyata terasa meski tak sekalipun beliau ucapkan. Suatu ketika, karena hobby saya main di sungai, –kata orang Karawang mah ngebak di kali– (padahal saat itu saya sudah SMP), saya terkena penyakit kulit. Penyakit anak kampung, gatal-gatal, korengan (jorok banget yak! ^_^). Tapi kali itu, korengnya ternyata parah. Lewat seminggu tak kunjung sembuh. Emih yang terbiasa menggunakan obat2an alam, tidak membawa saya ke dokter, dan saya juga segan ke dokter. Korengan saja ko ke dokter. Koreng itu hanya diolesi obat merah setiap hari, dicampur serbuk dari suatu kapsul.
Ternyata, ayah yang menurut saya tipe orang yang sangat cuek (saking cueknya, saya bilang gempa di tetangga sebelah juga beliau masih bisa tenang). Sore itu, setelah mandi, ayah memanggil saya, dan membubuhkan sejenis obat ke koreng itu. Selama membubuhkan obat, beliau tak berkata sama sekali, hingga setelah itu ia berkata:
“Nih, neng olesin lagi kalau sakit ya, lain kali jangan ngebak di kali, apalagi sama anak laki-laki. Udah gede.” Heheh… emang udah SMP sih, tapi kan baru kelas satu, dan belum baligh pula, lom dapet tamu bulanan Yah. Ssstt… itu sih cuma dalam hati, aslinya, saya cemberut. Tapi dalam hati, terharu dengan perhatian ayah, saya berjanji pada diri sendiri, ga ngebak di kali lagi. Dan setelah itu, saya benar-benar tidak pernah lagi ngebak di kali, kalaupun rame2 main di sana, cuma mengawasi di pinggir kali, sambil sesekali ikut manjat pohon jambu yang tumbuh di sekitarnya. Heheh… bisa metik jambu sendiri ngapain nunggu dikasi sambil manyun di bawah, apalagi jambu adalah buah kesukaan saya ^_^
Esoknya, saya tak perlu mengoleskan obat itu lagi, sebab korengnya sudah kering. Ajaib! Saya bilang sekarang, cintalah yang mengobatinya. Sebab, itulah kali pertama Ayah bercakap-cakap dengan saya, tanpa saya merasa takut atau pun segan. Ternyata, Ayah mencintai saya.
Emih pun tak jauh berbeda. Tak ada ungkapan verbal tentang cinta. Hanya belaian di kepala, gurat cemas di wajahnya jika saya terlambat pulang, atau sentuhan lembutnya di kening dan pipi saya ketika saya sakit, sudah cukup membesarkan hati saya, sudah cukup untuk saya tahu, bahwa saya dicintai.
Tetapi, keyakinan saya berubah begitu saya berjumpa dengan mba De, satu2nya orang yang mengaku bahwa saya bukan orang lain baginya, tetapi saya adiknya. Mba De, orang pertama yang berkata:
“Her, mba sayang kamu. Cinta sama kamu, karena Allah.” Dan saat kalimat itu terucap, hati saya menangis, tetapi tetap tak mampu berkata apa pun. Ah, bahkan untuk sekedar menjawab “Saya juga sayang sama mba.” Begitu sulit. Kalimat itu sederhana, tetapi sungguh sakti, kalimat yang telah merekatkan hati kami.
Dan kalimat itu tak hanya indah di bibir, ia buktikan lewat perhatiannya, ketulusannya berbagi dan memberi. Mba De, yang menjadi keluarga saya, saat saya merasa sebatang kara. Mba De, yang menjadi kakak saya, saat saya merasa kehilangan kehangatan saudara. Mba De, yang mengambalikan kepercayaan diri saya, saat saya merasa tak berarti. Mba De, yang memeluk dan membimbing saya, saat teman-teman lain mengambil jarak karena begitu seringnya saya berkonflik dengan mereka.
Saat ini, banyak yang berubah dalam diri saya. Emosi yang tidak meletup sesering dulu, dan kelapangan dada saya dalam memaafkan. Nyaris tak ada dendam, saya berusaha untuk selalu mengikhlaskan, setelah merasakan demikian sakitnya mendendam, demikian sakitnya meradang, dan begitu sakitnya menyimpan amarah.
Begitu indahnya hidup, dengan sebuah kalimat, “Her, mba sayang sama kamu.” ^_^
Dan sekarang saya sedang belajar untuk mengungkapkan perasaan indah yang saya miliki. Meski sebenarnya, sentuhan penuh kasih, belaian penuh perhatian, terlebih dikala hati dililit sedih, sudah cukup untuk meluluhkan hati saya.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:
“Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang di samping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasulullah’. Lalu Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ orang tersebut menjawab: ‘Belum’. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: ‘Beritahukan kepadanya’. Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah’. Kemudian orang yang dicintai itu menjjawab: ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya’ .” (HR Abu Daud)
Katakan Cinta? hm…. hmmmm hmmmmm, keluar dari tema tulisan teh izti, mungkin dalam bingkai rumah tangga dengan mengatakan cinta kepada pendamping hidup kita mungkin bisa manambah keharmonisan rumah tangga, dalam bingkai keluarga dengan mengatakan cinta dengan anggota keluarga bisa meningkatkan ikatan hati untuk saling menghargai dan saling mencintai seperti yang ukhti izti rasa saat ini, dan dengan seorang sahabat kita mengatakan cinta bisa menguatkan tali persahabatan.. (tentu saja hal ini harus dengan sahabat yang sejenis, kalau dengan sahabat yang beda jenis mengatakan cinta, gimana ya …)
March 7, 2006 @ 7:38 pmmm… aku.. sayang kamu >:D
March 7, 2006 @ 8:51 pmI Love you My Sis, *_^
March 9, 2006 @ 3:10 amkalau aku boleh ga ikut?
March 9, 2006 @ 4:03 amgw cinta lo semua
March 9, 2006 @ 4:14 am^_^
March 9, 2006 @ 4:33 amizti juga cinta sama kamu-kamu ^_^
tapi, jangan ngomong doang, buktiin dunk! *_^
March 9, 2006 @ 9:02 pmaaahh … postingan yang indah … tapi bakal sangat aneh sekali kalau yang ngomongnya sesama ikhwan “Mas, aku sayang kamu …” “Ya, aku juga sayang …”
March 11, 2006 @ 9:42 amwueekkk ….
hihihihihihi
April 6, 2006 @ 3:10 am