Berbagi Segenggam Cinta
<

Dalam hidup, ada banyak hal yang harus
diperjuangkan. Tetapi, berjuang untuk menang tidak selalu harus
nampak ‘menang’. Kadangkala, ada peristiwa yang membutuhkan
kesabaran, kelapangan dada, dan sikap legowo ketika harus mengalah.
Rasanya pasti sangat menyakitkan. Tetapi, buah yang didapat dari
kesabaran dan keikhlasan itu sungguh begitu manis.

Sejak kecil, aku tak terbiasa mengalah.
Sebagai anak tertua, dengan karakter yang manja dan keras kepala,
nyaris segala keinginanku dipenuhi orangtuaku. Rasa kepemilikanku
begitu besar. Apa pun, yang menarik hatiku kuperjuangkan untuk
dimiliki, tak peduli bagaimanapun caranya. Sebab aku tidak biasa
kalah dan mengalah.

Tetapi, ada satu hal yang tidak pernah
aku perjuangkan. Cinta. Mencintai seseorang, membuatku belajar untuk
mengalah. Semakin besar aku mencintai seseorang, semakin aku
sembunyikan. Entah kenapa, untuk perasaan yang satu ini, aku demikian
malu untuk mengakuinya.

Tetapi, aku tidak pernah merasa begitu
mencintai seseorang dengan mendalam, hingga aku merasakan manisnya
iman, indahnya berIslam dengan kaaffah. Dan justru, perasaan
mencintai itu besar ketika aku tahu bahwa tidak selayaknya
mengembarakan perasaan cinta dengan cara berpacaran.

Rasa cinta yang timbul, malah dengan
orientasi ke arah pernikahan. Sekali lagi, makin aku jatuh cinta,
makin kusembunyikan. Maka, ketika perasaan yang timbul semakin besar,
aku hanya bisa menyandarkan hatiku yang terkapar ke hamparan kasih
sayang-Nya.

Sering, aku meminta pada-Nya, agar aku
tidak usah jatuh cinta, aku tidak mau jatuh cinta. Tetapi parahnya,
aku sangat mudah jatuh cinta. Hingga aku sendiri hampir tidak bisa
membedakan apakah aku benar-benar jatuh cinta, atau hanya ingin
memperoleh ungkapan cinta dan curahan kasih sayang yang besar,
sebagaimana yang biasa aku dapatkan sewaktu kecil. Pada saat seperti
ini, penyakit pelupaku rasanya sangat membantu. Menolongku untuk
segera melupakan, dan kembali menatap hari-hari dengan keceriaan.

Lagi-lagi aku memang harus mengalah.
Mengalah pada idealisme yang tertanam kuat dalam benakku. Cinta,
hanya Dia yang pantas mendapatkannya. Sebab hanya Dia yang tidak
berhenti mencintai, hanya Dia yang tidak pernah memutuskan rantai
kasih-Nya. selalu ada cinta, dari Dia yang Maha Mencintai.

Yaa muqollibal quluub…. Tetapkan
hatiku agar selalu dalam ingatan kepada-Mu. Jangan biarkan sedetikpun
ada nama lain selain nama-Mu. Dan tunjukkanlah kepadaku jalan menuju
cinta-Mu.

March 29th, 2006 at 4:52 am


3 Responses to “Ketika harus mengalah”
  1. 1
      fadil says:

    “Sering, aku meminta pada-Nya, agar aku tidak usah jatuh cinta, aku tidak mau jatuh cinta. Tetapi parahnya, aku sangat mudah jatuh cinta. Hingga aku sendiri hampir tidak bisa membedakan apakah aku benar-benar jatuh cinta, atau hanya ingin memperoleh ungkapan cinta dan curahan kasih sayang yang besar, sebagaimana yang biasa aku dapatkan sewaktu kecil. Pada saat seperti ini, penyakit pelupaku rasanya sangat membantu. Menolongku untuk segera melupakan, dan kembali menatap hari-hari dengan keceriaan.”

    aku suka kata-kata diatas, bernas

  2. 2
      izti says:

    @fadil
    thanx a lot…
    always give spirit for me! that’s u!

  3. 3
      LoViNa says:

    emang sih, bagian paling tidak enak dalam episode jatuh cinta adalah patah hati. Apapun sebabnya. Tapi, jangan pernah berdoa agar tidak jatuh cinta. Namun berdoalah agar kamu diberikan cinta yang benar oleh seseorang dan pada waktu yang tepat. Percayalah, bahwa orang yang ingin dilupakan itu, tidak seindah pandangan mata.