Berbagi Segenggam Cinta
<

Sabtu, 4 Maret 2006

 

Persis tengah hari, kami tiba di terminal Cilacap setelah
puas menikmati pertemuan dengan Akh Amar dan istrinya.

 

Tengah hari di Cilacap, matahari enggan bersahabat.  Tanah kering, hawa panas serasa membakar
kulit. Ubun-ubun rasanya seperti mau mendidih, keringat mengucur deras. Panasss…

 

Sebelum perjalanan ini dilanjutkan, kami menghadapkan wajah
kepada Sang Pencipta. Ah… seger… Alhamdulillah…

 

Panas terik tidak menghalangi perjalanan kami menuju Teluk
Penyu di Pesisir Cilacap. Tetapi tak urung membuatku membuka payung untuk
melindungi wajah agar tak kering dan menghitam terbakar matahari.

 

Menatap lautan yang seolah tak bertepi, debur ombak berkejaran
menggapai pasir, gugusan pulau di kejauhan berpadu dalam cakrawala langit biru.
Angin pantai menyapu wajah, menghanyutkanku dalam sebuah romantisme alam. Ah…
maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

 

Desakan emosi melepaskanku dari sejuta beban dalam hati yang
sempat membuatku sesak tak bisa bernafas. Aku terpaku pada keagungan Sang
Pencipta. Sekelebat kenangan menggangguku, mengingatkan pada romantisme serupa,
di tempat yang berbeda, dengan orang yang berbeda. Hatiku menciut. Tiba-tiba
seperti ada jarum panas yang menusuk-nusuk. Kembali kusandarkan kegamangan
jiwaku kepada Sang Kuasa.

 

Ririn, hampir saja aku lupa bahwa kami tengah bersama. Hmm….
Kenangan seringkali melenakan, entah ia manis ataupun pahit. Yang pasti, aku
tak ingin kehilangan momen indah kali ini. Kembali, pemotretan berlangsung.
Seorang anak penduduk sekitar yang tengah bersepeda kami ‘culik’ untuk menjadi
fotografer gadungan. Objeknya, siapa lagi kalau bukan kami berdua J

 

Romantisme kali ini tak sampai ke penghujungnya. Tak ada
sunset, sebab jam 4 kami sudah bersiap-siap untuk kembali ke terminal. Bis
Cilacap-Jakarta dijadwalkan berangkat jam 6 sore. Dan memang demikian. Jam 6
tepat bis yang akan mengantarkan kami menuju Kampung Rambutan meninggalkan
terminal Cilacap.

 

Bis melaju…. terseok-seok… berjalan… melayang…. Zzzzzzzzzzz
JEDUK! Aduh!

Sekali! Zzzzzzzzzz…. JEDUK! Aduh! Dua kali jidat kiriku
membentur jendela. Hiks…  melewati
jalanan

Bandung

yang penuh tikungan
tajam, dengan kecepatan tinggi, tak heran kalau kepalaku jadi korban. Uuhh…
emang enak duduk di pinggir jendela? Ririn cengar cengir :-P

 

Jakarta

! Aku
kembali! ^_^

March 8th, 2006 at 10:56 pm


2 Responses to “Romantisme Teluk Penyu”
  1. 1
      fadil says:

    “Sekelebat kenangan menggangguku mengingatkan pada romantisme serupa, di tempat yang berbeda, dengan orang yang berbeda.”

    belum selesai tuh kalimatnya……bikin penaasran aja :(

  2. 2
      izti says:

    @fadil
    yaaa gitu deh ^_^