“Hah! Mana sepedaku??” usai jam
sekolah aku kesal bukan main. Antara pengen marah dan pengen nangis.
Gimana engga, sepeda kesayangan yang biasa mengantarkanku pulang
pergi ke sekolah tiba-tiba raib.
Ditemani sohib-sohibku, Nasih, Idon,
Eneng, Wahyu dan Ikah aku menjelajahi seluruh bagian sekolah mencari
sepeda kesayangan. Sambil uring-uringan dengan bibir maju lima senti,
hampir menangis aku jalan ke sana kemari mencari sepeda mini hadiah
ayahku saat kenaikan ke kelas 3. Sepeda yang sudah menemaniku sampai
aku kelas 5 sekarang.
Seorang teman yang baik hati
membocorkan rahasia bahwa si Soma jail bin usil yang menyembunyikan
sepedaku. Maka, dengan murka aku mendatanginya dan memaksanya
menunjukkan sepedaku. Entah karena takut atau apa, dia pun
menunjukkan persembunyian sepeda miniku.
Olala…….. hayyahhhhhhhhhhhh!!!
Sepeda miniku tergolek nelangsa di selokan di belakang sekolah,
tertutup pohon berenuk (ga tau berenuk? Cari ajah di google). Untung
airnya kering, tinggal lumpur cokelat lembek, jadi ga ada si kuning
yang mengalir ke situ. Napa ada si kuning? Lah… kan waktu itu lom
ada wc sodara2! Kalo mo BAB tuh, di jamban yang nangkring di empang
ato di jamban di selokan belakang sekolah itu. Primitive banget yak!
Tapi tetap saja, sepeda mini kesayanganku kotor ga puguh warnanya.
Aku mengamuk. Kupatahkan beberapa
ranting berenuk yang dipenuhi daun-daun hijau. Dengan penuh
kemurkaan, sambil berurai air mata kugebuki Soma jail bin usil
habis2an dengan ranting-ranting itu.
“Ampuun euy! Ampun! Tuluung!
Adduuhh…!!” Soma jail bin usil menutupi muka dengan kedua
tangannya. Aku terus menggebukinya tanpa ampun, masih dengan air mata
yang bercucuran dan dengan kemurkaan yang meluap.
Jebret! Jebret! Jebret! Hingga
rontoklah daun-daunnya. Aku terus menghantam bagian tubuhnya manapun
yang masih bisa kuhantam (ugh! Galak banget ternyata diriku).
Soma jail bin usil menangis pasrah. Dia
benar-benar menyesal, salah menjaili orang. Aku masih terus
mengayunkan ranting-ranting berenuk yang sudah tidak berdaun, hingga
sebuah tangan lembut menahan dan menarikku. Bu Engkom, wali kelasku.
“Herni, sudah!” masih dikuasai
kemarahan aku menangis dalam pelukan guruku. Soma diamankan oleh guru
lain dari amukanku.
Setelah kejadian itu, Soma dan
teman-temannya selalu ketakutan setiap berpapasan denganku. Padahal
aku sendiri ketar ketir. Takut dia balas dendam. Alhamdulillah… ga
ada yang membalaskan dendamnya. Heheh… untuk sementara, aman….
^_^
Sekarang aku udah dewasa, masih galak
ga yaa…. Heheh.. kadang-kadang! ^_^ so.. be carefull.. piss……….
To be continued……
Blogwalking ..
December 11, 2008 @ 11:35 amnice posting i found here,.. thanks for the info
hehe galak juga… gmn msih galak jg waktu ngajar?
December 18, 2008 @ 4:21 am