Saat karir sekolahku di SMP Negeri
Telagasari baru dimulai, aku ditemani sepeda onta merah setiap pergi
dan pulang dari sekolah. Jenis sepeda jaman beheula, seperti sepeda
onta hitam, tetapi untuk perempuan. Sepeda miniku sudah dimuseumkan,
karena tidak bisa lagi menopang tubuhku yang bongsor.
Saat itu tengah ngetrend sepeda gunung
merk Federal. Hampir semua teman sekolahku yang bersepeda ke sekolah,
memilikinya, kecuali Idon, yang juga masih memakai sepeda onta hitam
untuk laki-laki.
Hampir setiap pulang sekolah, aku
merengek minta dibelikan sepeda Federal. Malu atuh ayah, masa hari
gini masih pake sepeda onta?
Tapi ayah cuma bilang “engke neng,
engke!” (nanti neng, nanti). Seperti biasa, aku cemberut sama ayah
sepanjang hari sampai mukaku pegel.
Sepeda onta itu sangat menyebalkan.
Sudahlah bentuk bodynya yang tinggi dan ramping, tidak kekar seperti
sepeda Federal milik teman-temanku, rantainya juga sering lolos.
Membuatku berkali-kali terpaksa turun membetulkan rantainya. Saat aku
mengeluhkannya, ayah bilang, itu sepeda kenangan. Sepeda yang mereka
pakai saat pengantenan. Hehehe.. sekarang mah penganten pake sedan
yah, bukan pake sepeda onta.
Kadang ketika aku benar-benar sebal
dengan sepeda itu, aku memilih untuk jalan kaki dari rumah ke jalan
raya, yang jaraknya lebih dari satu kilometer, kemudian naik angkutan
umum ke sekolah. Tapi, saat pulang sekolah, panas yang terik tengah
hari, berjalan kaki sejauh itu membuatku nyaris pingsan setibanya di
rumah. Akhirnya, aku kembali berbaikan dengan si sepeda onta.
Saat kenaikan kelas, akhirnya, aku
benar-benar berpisah dengan si onta merah. Sebab karirnya telah
digantikan oleh sepeda Federal idamanku. Hadiah ayah, karena aku
berhasil menembus rangking 3 besar. Terima kasih ayah. ^_^
ternyata sepeda onta itu punya nilai historis yang dalam, sampe2 ayah (pak ruslan) bilang;”engke, neng, engke” maksudnya mungkin ‘pahami dulu nilai kesetiaan dan kesahajaan dari sepeda itu. hihi…jadi inget adegan waktu fatimah mengeluh kepada Rasulullah, karena harus mengambil air di tempat yang jauh setiap hari.
aku juga naek sepeda lo iz, dari kelas 1 smp, sampe tingkat 1, terakhir pake speda
saat kecelakaan di lembah UGM (Depan Masjid Kampus UGM) tahu n 1999.
seandainya setiap orang seperti izti, selalu punya cerita untuk dibagi bersama, kata erich fromm: orang yang betah dengan dirinya sendiri, dia akan betah dengan orang lain, orang yang dapat mencintai dirinya sendiri, baginya akan selalu ada cinta buat orang lain.
March 30, 2006 @ 3:57 amtabik
kaka kok tau siiyy… ayahnya izti namanya Ruslan?
kalimat terakhir, very.. very… nice… ^_^
March 31, 2006 @ 2:54 am