Berbagi Segenggam Cinta
<

Samurai_copy

 

Anda mengetahui sesuatu tentang Samurai? Apa yang Anda ketahui?

 

Saya yakin, jawabannya pasti beda-beda.

 

Tetapi, saya mencatat satu keistimewaan para Samurai.
Kesetiaan.

 

Sekali ia mengikrarkan janji kepada junjungannya, pemimpin
klan tertinggi, atau bangsawan tempat ia mengabdi, ia akan setia sampai mati.
Jiwa, raga, harta, dan keluarga, ia pertaruhkan untuk membela kehormatan sang
junjungan. Apa yang ia dapatkan? Kehormatan, dan nama besar sebagai Samurai
Sejati.

 

Bagaimana jika dia berkhianat? Maka kepalanya beserta
seluruh keluarganya akan tertancap di ujung tombak serta menjadi penghias pintu
gerbang istana junjungannya. Dan jika ia gagal ketika menjalankan tugas, maka,
Harakiri adalah jalan satu-satunya. Mati adalah lebih baik daripada hidup
dengan kehinaan.

 

Menurut saya, itu bukan kesetiaan membabi buta. Ia
sebenarnya setia pada keyakinannya. Keyakinan tentang ketinggian martabatnya,
dan pada keluhuran tradisi nenek moyangnya. Dan siapa pun berhak untuk setia terhadap
segala sesuatu yang diyakininya.

 

Bagaimana dengan kita? Sebagai seorang muslim, bahkan dari
ketika kita masih berada di dalam rahim, Allah telah mengangkat janji atas diri
kita.

 

Allah berfirman: “Bukankah aku ini adalah Tuhanmu?” mereka
berkata: “Ya, Engkau adalah Tuhan kami.”

 

Lalu kenapa kita begitu mudah berpaling. Di mana kesetiaan
pada janji yang telah kita ikrarkan? Jika pada Sang Maha Perkasa saja kita
berani berkhianat, apalagi sekedar janji yang diikrarkan kepada makhluk?

 

Samurai, tidak segan-segan membungkukkan badan
serendah-rendahnya, bahkan bersujud di hadapan junjungannya, demi mendapatkan
simpati dan keridoan sang junjungan.

 

Sebagai muslim, kita tidak akan pernah merendahkan diri di
hadapan makhluk. Tetapi, bukankah terkadang kita masih enggan dan seringkali
terburu-buru ketika bersujud di hadapan-Nya? kita terlalu sering mengharap
simpati pada makhluk, dan sangat jarang mencari simpati dari-Nya.

 

Marilah kita senantiasa mengishlah diri. Tiada manusia yang
sempurna, sebab itu Allah mengaruniakan
akal pada kita untuk berfikir agar selalu memperbaiki setiap langkah kita.

 

Jangan mau kalah sama Samurai! Wake up! Sedikit kerikil
tajam, jangan membuat kita berhenti. Sebab yang kita cari adalah simpati dan
keridoan-Nya, bukan pujian atau decak kagum manusia.

 

So… Tepati janjimu! Jangan sekedar kata!

 

 

____________________

Sekedar opini untuk memotivasi diri yang tengah letih dan
hampir berhenti berjalan. Semoga Allah menambah kekuatan dan kesabaran.

 

April 21st, 2006 at 5:50 am