Berbagi Segenggam Cinta
<

Catatan milad ke-26,

16
April 2006

Carry putih melaju dengan cepat, membelah jalanan pagi itu.
Membawa kami dari Rumah Sehat Holistik Purwakarta menuju Karawang. Aku duduk di
depan, di belakang, terbaring lemah tubuh Ibu dikelilingi ayah, adik, nenek dan
kakekku. Isak tangis nenek tak henti-henti. Ibu telah kehilangan kesadarannya.
Sehari sebelumnya, dokter menyedot cairan dari dalam perutnya yang membengkak. Sepekan
ibu dirawat di Holistik. Sirosis telah sampai di stadium 4. Dokter tak sanggup
mengobati, ia hanya berkata, pasrahkan semua kepada-Nya.

 

Sejak semalam, aku tak hanya berdoa memohon kesembuhannya.
Aku tak sanggup melihat penderitaannya lebih lama lagi. Aku meminta pada-Nya,
agar ia memberikan yang terbaik bagi kami. “Ambillah ya Allah, jika memang itu
yang terbaik untuknya. Aku ikhlas.” Doaku sepanjang jalan.

 

Melewati jalanan Bukit Indah Cikampek, isak tangis terdengar
makin keras. “Innalillahi wainnailaihi roojiuun…” suara ayahku, diiringi isak
tangisnya. Ayahku menangis. Tidak mungkin, aku tidak percaya, aku tidak berani
menengok ke belakang. Ibuku kuat, ibuku pasti kuat, ibuku akan sembuh.

 

Mobil melesat makin cepat, berkali-kali sopir mengklakson
kendaraan di depan agar memberi jalan. Tidak boleh panik, aku tidak boleh
panik, semua akan baik-baik saja setibanya nanti di Karawang. Semua akan
kembali seperti dulu.

 

Tak lama kami telah tiba di rumah. Aku masih tak berani
menengok ke belakang. Aku langsung keluar dan duduk di kursi teras. Aku
terpaku. Ayah dan beberapa kerabat yang begitu mobil tiba langsung berdatangan
membopong jasad kaku ibuku.

 

Sekujur tubuhnya tertutup kain batik. Kenapa mereka menutupi
wajahnya juga? Mereka pasti salah. Bukankah ibuku akan baik-baik saja? semua
akan kembali seperti dulu. Mereka melewatiku. Aku masih terpaku.

 

Seseorang mendekapku dengan erat, menumpahkan isak
tangisnya. Kenapa mereka semua menangis? Aku masih terpaku. Dekapan dan
tangisan itu makin keras. Satu orang, dua orang, beberapa orang mendekapku. Oh,
bibi-bibiku.

 

“Duh.. Gusti… Neng, geulis… bageur… teu boga indung. Sabar
nya Neng…” tangisan makin bergemuruh di sekelilingku.

 

Aku melepaskan dekapan mereka. Lunglai kuhampiri jasad ibu
yang telah di baringkan di ruang tengah. Aku bersimpuh disisinya. Sepasang
tangan berusaha menarikku. Aku menepiskannya. Pelan kusibakkan kain yang
menutupi wajahnya. Kubelai lembut wajahnya. Ia tertidur dengan tenang. Aku
belum pernah melihat wajahnya setenang ini. Kucium dahinya yang pucat.
Seseorang berusaha menarikku, aku kembali menepiskannya. Ruang rasaku hampa,
hening, dan sunyi. Mataku basah. Aku kembali membelai wajahnya. Tanpa sadar,
sebaris doa kuucapkan dalam hati.

 

“Ya Allah… izinkan aku berjuma dengannya. Izinkan aku selalu
bersamanya, meski hanya dalam mimpi.”

 

Seseorang mendekapku. Bibi, ia menangis, tangannya membelai
kepalaku. Ia berbisik, “ikhlaskan Neng, ikhlaskan…”

 

“Innalillahi wainnailaihi roojiuunn…” lirih kuucapkan
kalimat itu. Berbisik nyaris tak terdengar. Beberapa orang menarikku, aku
pasrah. Bibi membimbingku ke kamar, aku menurut. Beberapa langkah berjalan, aku
terkulai pingsan.

 

***

4 tahun mengenang kepergian Bunda tercinta,

13 April 2002

, menjelang miladku yang
ke-22. Di rentang waktu itu, kami masih sering berjumpa, dalam mimpi.

April 24th, 2006 at 3:28 am