Berbagi Segenggam Cinta
<

 

“Seperti apa lelaki pilihanmu?” ia mengajukan pertanyaannya
tanpa basa-basi. Matanya tepat menatap, menghujam ke dalam mataku. Kami duduk
berhadapan di rerumputan, di halaman villa Mawar, tempatku dan kawan-kawan
halaqah berlibur akhir pekan itu. Di halaman itu hanya ada kami berdua,
teman-teman yang lain ada di dalam villa.

 

“Lelaki pilihanku?” aku balik bertanya.

 

“Ya, lelaki pilihanmu. Seperti apa?” tatapan matanya tak
beralih. Tajam menghujam.

 

Lalu aku pun menerawang menatap langit biru. Mencari
bayangan sosok lelaki pilihanku di barisan awan putih. Aku tersenyum.

 

“Ia cerdas seperti Ali bin Abi Thalib, bijak seperti Abu
Bakar, gagah dan berani seperti Umar. Ia pun lembut dan pemalu seperti Utsman.”

 

“Ia pasti lelaki yang luar biasa. Idealis sekali pilihanmu.”

 

“ya, dia lelaki yang luar biasa, lelaki yang dipilih oleh
idealismeku.” Aku tersenyum.

 

“lalu, bagaimana usahamu untuk mendapatkannya?” ia bertanya.

 

“Hei, apa kau tak ingin tahu lelaki pilihanku yang
sebenarnya?” aku balik bertanya. Ia diam. Tak lama ia mengangguk. “katakan.
Seperti apa dia?” tanyanya kemudian.

 

“ia cerdas, bijak, gagah, berani, tetapi lembut dan pemalu.
Dia…”

 

PLETAK!! Aduh!

 

“kenapa aku dijitak?” aku cemberut. Gemas dia mencubit
pipiku.

 

“itu mah sama aja neng!” dia melotot pura-pura kesal. Aku
tertawa.

 

“jadi, seperti apa?” ia bertanya lagi. Tampaknya ia masih
penasaran.

 

Duh… seperti apa yaaa?

 

“apakah akhwat seperti kita boleh memilih? Bukankah kita
dipilih?” aku balik bertanya.

 

“tentu saja kita boleh memilih. Memilih untuk menerima atau
menolak, hingga menemukan lelaki pilihan itu. Lelaki yang paling tepat.” Ia
memberikan pendapat.

 

“Baiklah, lelaki pilihan itu….

 

To be continued…..

 

_________________

Sekedar cerita. ^_^ lanjutin sendiri deh! :p

April 24th, 2006 at 3:47 am