Berbagi Segenggam Cinta
<

Izti_nyoba2_copy

 

Endeh Nur Linda. Namanya indah seindah parasnya. Di antara
semua adik sepupuku, dia yang paling cantik. Wajahnya bulat bagaikan bulan
purnama. Bibirnya penuh merekah sesegar bunga mawar. Usianya 4 tahun lebih muda
dariku.

 

Tetapi, garis hidupnya tak seindah nama dan parasnya. Saat
kecil, keluarga besar kami disentakkan dengan berita perceraian ibunya yang
berakhir perebutan harta dan anak. Anehnya, hanya Linda yang diperebutkan,
sedangkan adiknya tidak. Aku masih ingat bagaimana tangan kanannya ditarik
ibunya, dan tangan kirinya ditarik ayahnya. Saat itu, aku hanya menangis dalam
pelukan ibuku. Aku belum mengerti tentang konflik orang dewasa. Yang kutahu,
ayahnya Linda yang tua itu menjabat sebagai lurah di desa sewaktu menikahi
ibunya sebagai istri kedua.

 

Tetapi aku salut pada perkembangan psikologisnya. Setelah
bercerai, ibunya sempat menikah lagi dua kali, dan dari pernikahannya itu,
masing-masing melahirkan satu anak. Luar biasa, 4 bersaudara dari tiga ayah.
Dan mereka sangat rukun.

 

Saat remaja, ia tak sempat mencicipi sekolah tinggi, sebab
sebagai orang tua tunggal, ibunya pun masih harus membiayai hidup 3 orang
adiknya. Tapi, aku tak pernah mendengarnya mengeluh. Ia tak pernah kehilangan
senyumnya.

 

Dan saat kuncupnya belum lama mekar, seorang pemuda
memetiknya. Bukan orang jauh, tetapi tetangga sebelah, teman mainku waktu
kecil, masih saudaraku juga dari pihak ibu. Tidak ada yang tidak iri pada
kemesraan mereka. Kalau orang bilang Linda adalah Shinta, maka suaminya adalah
sang Rama. Jika Linda adalah Srikandi, suamainya adalah sang Arjuna. Benar-benar pasangan yang serasi.

 

Lalu 5 tahun setelah pernikahannya, Linda hamil. Aku tahu
mereka menunda kehamilan atas saran kedua orang tua mereka, sebab kesiapan
menjadi orang tua jelas lebih sulit ketimbang sekedar siap menikah.

 

Di sinilah letak permasalahannya. Sebagai pasangan muda,
dengan keluarga besar yang jarak rumahnya berdekatan, nyaris setiap desah nafas
kehidupan mereka ada campur tangan dari orangtua. Sebaik apa pun mertua, tentu
tidak sehat. Tapi, seperti biasanya, Linda easy going menghadapinya. Ah, dia
benar-benar patuh.

 

Dan saat melahirkan, saat seharusnya menjadi momen yang
paling membahagiakan, suaminya sakit. Bukan sakit biasa, dia kesurupan.
Innalillahi… aku sempat menengoknya waktu itu, dan terus terang, saat aku
mengahadapi suaminya, mencoba berdialog dengannya, aku merasa cemas luar biasa.
Apalagi saat matanya tak henti melotot menatapku. Aku bergidik jika ingat saat
itu.

 

Dia kesurupan sampai lebih dari sebulan. Dan saat sakit itu,
dia hanya menceracau menyebut nama Linda, dan jika tangan dan kakinya tak
diikat, dia mengejar2 istrinya. Hingga akhirnya Linda diamankan keluarga kami,
dan suaminya juga diamankan keluarganya.

 

Karena kesibukanku di Depok, aku kehilangan berita tentang
mereka. Hingga ketika aku pulang 3 bulan kemudian, suaminya Alhamdulillah sudah
sembuh, tetapi mereka diceraikan oleh keluarga masing-masing. Ah, sungguh garis
nasib yang memilukan. Saat di mana seorang istri membutuhkan suaminya, justru
Linda kehilangan suaminya. Menjadi janda saja, itu sudah merupakan beban moril
yang berat, tambah lagi menjadi orang tua tunggal. Tetapi, tak ada gunanya
mencari siapa yang salah. Semua sudah terjadi.

 

Ketika aku menemuinya, Linda masih bisa tersenyum! Jika aku
yang mengalaminya, belum tentu bisa sekuat itu. Aku berharap mereka bisa
bersatu lagi, karena aku yakin mereka masih saling mencintai.

 

Sungguh, Allah akan menimpakan kesulitan dan kesusahan
kepada manusia, hingga manusia itu kembali dan hanya bergantung kepada-Nya.

 

Dan bukankah kita belum bisa dikatakan beriman sebelum Allah
menimpakan ujian, untuk mengetahui kadar keimanan kita.

 

Tetapi, sesungguhnya Allah tidak akan menimpakan cobaan
sekiranya manusia itu tidak sanggup untuk memikulnya.

 

Dan percayalah, sesungguhnya di balik kesulitan itu ada
kemudahan.

 

Lalu, mengapa masih bersedih? Belajarlah melihat sisi
positif dari setiap permasalahan yang dihadapi. Dan sungguh menakjubkan, karena
setelah itu kita akan bisa menerima segala ketetapan-Nya, dan menambah
kesyukuran atas nikmat yang ada di diri kita.

 

_______________________________

Semua yang ada di langit dan bumi selalu
meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibuka.  Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu
dustakan? Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin. Maka
nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
(QS. Ar Rahmaan : 29-32)


____________
visit my newwebblog: http://izti-bidadaribiru.blogspot.com/

 

 

May 18th, 2006 at 3:07 am


2 Responses to “Belajar bijak memaknai hidup”
  1. 1
      yoan says:

    maaf, saya sedang menulis tentang single parent. mungkin mbak izti bisa menghubungkan saya dengan mbak linda?

  2. 2
      izti says:

    wah, sayang sekali. Alhamdulillah beberapa waktu setelah mereka bercerai, Linda menemukan kembali jodohnya, menikah dan sekarang sudah dikaruniai anak kedua.. :)