Berbagi Segenggam Cinta
<

Taadud?? Kenapa ngomongin ini sih?? Ga ada topik lain apa?

       

Hmm…
di kalangan akhwat, mungkin juga ikhwan, banyak yang bereaksi begitu
ketika disodori topik ini. Banyak juga yang cuma senyam senyum,
mengerutkan dahi, melotot heran campur marah, dan ada pula yang mikir,
ah, gue ga kepikiran ngomongin begini, mending nyari topik laen aja.
Atau ada yang ngomong: “izti, what’s wrong with you?”

       

Ah, whatever lah, yang jelas, kali ini saya ingin menumpahkan kata perkata yang berjejalan dalam memori tentang topik ini.

       

Suka
atau tidak suka, taadud atau poligami adalah realitas. Lagipula, siapa
yang bisa mengetahui kehidupannya yang akan datang. Bisa jadi, suatu
ketika, hal seperti ini menimpa pada diri kita.

       

Taadud
atau poligami adalah sebuah pilihan hidup yang sangat berat, apalagi di
lingkungan masyarakat kita. Saya tidak sedang membahas tentang
dalil-dalil, ayat-ayat yang merangkum tentang hal ini, sebab itu sudah
jelas, dan saya tidak membantahnya. Saya ingin membawakannya dalam kaca
mata saya pribadi.

       

Setahun
yang lalu, seorang ikhwah datang kepada saya. Ia satu almamater dengan
saya, hanya berbeda jurusan. Ikhwah ini memperkenalkan dirinya dengan
sangat lengkap, dengan maksud untuk mengenal lebih dekat kemudian
menikah. Lalu, kenapa saya tidak menerimanya? Dengan jujur ia katakan,
bahwa ia sudah menikah, dan saat ini mengajukan diri untuk menikah yang
kedua kali, alias taadud. Istrinya adalah kakak tingkat saya di
jurusan, mereka ikhwan akhwat senior saya, penggerak dakwah di kampus
tempat saya menggali ilmu.

    

Awalnya
saya pikir ada masalah dalam keluarganya, ternyata mereka baik-baik
saja. Istrinya tidak keberatan (jujur saya ga percaya). Saya
mempelajari profil mereka, dan saya temukan data bahwa mereka baik.
Tidak boleh menolak tanpa alasan yang syar’i bukan? Akhirnya saya
katakan:

       

“saya tidak keberatan menjadi istri antum yang kedua, asalkan yang melamar adalah istri antum yang pertama.”

       

Kalimat
itu bukan penolakan, tetapi penerimaan dengan syarat. Saya yakin, ia
tidak akan sanggup memenuhinya. Sebab, bagaimana pun baiknya, sulit
ditemukan istri yang rela dimadu, apalagi melamar madu untuk suaminya.
Bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.

       

Kenapa
saya mensyaratkan begitu? Sekali lagi, saya tidak ingin digolongkan
sebagai orang-orang yang menolak dan membantah ayat-ayat Allah. Tetapi,
saya membaca realitas di masyarakat.

       

Menjadi
istri yang suaminya menikah lagi, adalah hal yang sangat menyakitkan.
Sebaik apapun dia. Tetapi, sebenarnya hal yang lebih menyakitkan lagi
dirasakan oleh si istri kedua. Ia akan mengalami beban emosi yang
sangat, sangat berat.

       

Gimana
enggak? Lihat saja label yang diberikan pada si istri kedua. Merebut
suami orang lah, ga punya perasaan lah, bodoh *udah tau orang punya
istri, ko mau aja*, dan hal lain yang menyakitkan perasaan. Dan
masyarakat akan memandang prihatin dan penuh simpati pada si istri
pertama. Istri kedua banyak yang dicaci, istri pertama pasti dikasihani.

       

Dan
hak akses istri kedua terhadap penghasilan dan harta suami, saya lihat
tidak sebaik yang diperoleh istri pertama. Saya berbicara bukan tanpa
fakta. Di keluarga saya, ada 3 orang bibi (dari ayah dan ibu) yang
menjalaninya. Dua orang sebagai istri kedua, satu orang istri pertama.
Hanya satu yang bertahan sampai saat ini (yang jadi istri kedua), yang
dua lagi berakhir dengan perceraian. Tetapi, saya melihat ketidak
adilan. Sebagai istri kedua, dia hanya dikunjungi sekali dalam sepekan,
pembagian jatah gaji yang tidak sebanyak istri pertama, dan seringnya
ketidak hadiran suaminya pada momen-momen penting keluarga besar kami.

       

Lalu, di mana letak keadilannya? Dan bagaimana dengan pendidikan anak-anaknya, perkembangan emosi mereka?

       

Memang
belum kuat untuk dijadikan landasan penilaian. Tetapi, itulah fakta
yang saya saksikan. Saya salut pada ikhwan akhwat yang bisa menjalani
kehidupan poligami senormal rumah tangga single wife (satu istri
maksudnyah). Dan saya yakin, itu tidak banyak, bisa jadi satu dari
sejuta.

      

So… wahai para ikhwan, pertimbangkan baik-baik sebelum mengambil keputusan itu.

  Dan untuk mereka yang pernah bertanya tentang ini padaku, itulah jawabanku.   

Yah… lumayan lah, nanti kalau ada yang nanya lagi, ga usah repot ngetik, tinggal kasi link ini aja ^_^

May 9th, 2006 at 1:38 am


3 Responses to “Taadud dalam pandangan saya”
  1. 1
      fadil says:

    izti, nanti kalo cari suami, cari yang kemampuannya mencintai lebih besar dari kemampuan izti mencintainya,

    kalau ga gitu, sulit baginya menampung yang indah dan tidak indah,

    nanti alasanya bisa macam2: manusiawi, libido, atau keutamaan poligami, padahal masalah utamanya(tidak tersentuh) cuma, karena sebelum menikah, ia belum “selesai”denga dirinya sendiri, hingga, dia tidak bisa menampung “kelemahan” atau kekuranglengkapan dari sosok istri yang dia dapat dengan yang diidealkannya,…

    kita tidak berbicara tentang ego lelaki, tapi ego manusia,

    “siapa saja yang sulit mencintai dirinya, takkan sanggup menampung cinta di luar dirinya”

  2. 2
      izti says:

    izti mau kaka…
    doain yaa..
    atau kakak cariin suami buat izti yang kayak gitu :’>

  3. 3
      wanda says:

    kalau saya prefer : pilihlah lelaki yang komit alias bukan penghianat. Ketika seorang sudah komitmen, maka, dia tidak melandaskan segala sesuatu itu pada yang namanya like and dislike.

    Seseorang bisa saja, ketika telah menikah, merasa kurang sreg dengan pasanggannya, namun karena komitmennya, yang dilandaskan pada nilai-nilai islam, tidak akan menyebabkan dirinya berkhianat.

    Pun dalam suatu pegerakan, ketidak cocokan seorang “Yg Di Bina dan Yang Membina” tidak akan menjadikan salah satu pihak mengundurkan diri, karena “we believe the truth of the system not believe to our feeling=>like and dislike”