Berbagi Segenggam Cinta
<

Ist2_336574_glasses

Huh! Badanku sakit semua. Aku dipegang,
dielus, disematkan di hidungnya, tapi setelah itu dia menghempaskan
tubuhku di atas kasurnya yang ga empuk sambil cemberut.

Gimana sih cewek ini? kalo aku udah
dibeli tuh, mbok ya dipake gituh loh. Padahal aku seneng banget waktu
dia memilihku, meski juga sedih sebab harus berpisah dengan
teman-temanku yang selama ini bersama-sama, berjejeran,
berdesak-desakan di gerai optic itu.

Waktu dia mengambilku, dia sepertinya
sudah nyaris putus asa menemukan teman sebangsaku yang pas dengan
bentuk wajahnya yang oval dan agak tirus.  Heran juga sama cewek satu
ini. Sudah jelas kerusakan matanya makin parah. Minus satu, silinder
0,25. bayangkan kalau dia ga dibantu sama aku, sementara nyaris dari
mulai buka mata sampai tutup mata dia bermesraan dengan pacar
pertamanya, komputer kesayangannya.

Tapi dia keukeuh ga mau bersahabat sama
aku. Sekarang malah aku dibanting-banting. Disematkan di atas
hidungnya, dilepas lagi, disematkan lagi, terus begitu.

Nah, ini hari pertamanya membawaku ke
kantornya. Dia pede juga. Teman2nya yang mengenalkanku padanya,
bilang kalau dia tambah manis, kelihatan lebih dewasa, lebih matang
sejak berteman denganku. Dan saat di optic itu dia percaya. Dia ingin
karakter oldies melekat di dirinya. Katanya sih, jadi terkesan
seperti gadis imut, innocent yang hidup di era djadoel, di era 70-an
gituh. Aneh! Orang mah milih yang kontemporer, dia malah milih yang
djadoel.

Eiitt… tunggu! Apa kata bosnya tuh!

“Yah… ampun… dia pake kacamata
begitu. Tua banget sih! Ga cocok sama bentuk wajah kamu tau!”

Waks! Gedubraks! Bibirnya langsung
cemberut. Aku sudah khawatir dia akan menghempaskanku lagi. Eh, dia
langsung lari mencari cermin. Begitu ketemu, dia langsung mengamatiku
yang bergelayut mesra di hidungnya.

Cemberut, manyun, senyam senyum, lepas,
pakai, melotot, menyipit. Ah! Gadis aneh! “Kamu ga akan kehilangan
kecantikanmu hanya karena aku sayang…. Dengan atau tanpa aku, kamu
tetap cantik. Allah telah menciptakanmu dengan bentuk yang paling
sempurna, bersyukurlah pada-Nya.” Bisikku padanya.

Tampaknya dia percaya, dan dia pun
tersenyum sambil berkata, “ Ah, pantes kok! Yang begini yang aku
mau! Kesannya sederhana, klasik, dan innocent gituh loh…”

Waks! Gubraks! Ini cewek memang aneh!
Tetep narsis di mana pun dan kapan pun.

Dan akhirnya, aku bergandengan
bersisian dengan komputer kesayangannya, menemaninya kapan pun dia
mau. Nah,  gadis, aku mencintaimu, cinta. Janji deh, aku ga akan
ninggalin kamu, justru aku malah khawatir, kamu yang akan ninggalin
aku. Kalau kamu lakukan itu, aku rela asal kamu telah menemukan yang
lebih baik dari aku. Meskipun sebenarnya aku akan merasa sangat
sedih.

Nah lho! Aku kan kacamata, kok jadi
ikutan mellow kayak pemiliknya yak! :-P

June 14th, 2006 at 7:41 am


2 Responses to “Balada si kacamata”
  1. 1
      DeJavanesePrins says:

    ha..ha..ha izti, kacamatanya punya ruh ya…wahhhh sammmma donggg dengan sendal jepitkuuu…
    awas kacamatanya jangan didudukin!!

  2. 2
      Sari says:

    Subhanallah, mbak….aku jadi tambah sayang sama teman hidupku yang sudah mendampingiku 15 tahun. Tanpanya dunia ….gak kelihatan….
    Tapi kenapa ya….temanku ini sering banget miring….? Gak serata waktu pertama kali.