Minggu, 4 juni 2006
Besoknya, semua kembali berjibaku dengan baksos. Tim medis berangkat duluan. Sasaran kami adalah penduduk di dusun Klabekan –duh, nama dusunnya susah diinget dan susah disebutkan, maaf kalo salah nyebut—saya sendiri menyiapkan acara untuk anak-anak.
Jam setengah 9, saat saya tiba, anak-anak sudah berkumpul di halaman depan Mushollah yang masih utuh. Rumah di depan mushollah itu hanya tersisa bagian depannya, ruang tengah ke belakang rata dengan tanah.
Acara pun dimulai. Anak-anak dibagi dua, usia SD kelas 3 ke-bawah, dengan saya. Usia kelas 4 SD sampai SMP dengan si Ibu. Ini bukan hal yang berat bagi saya. Yang jadi masalah, saya kesulitan memberikan instruksi, menjelaskan permainan, dan berdialog. Rata-rata bahasa Jawa-nya totok, jadi mesti pake EYD. Padahal kadang-kadang keluar juga bahasa ‘
Jakarta ’ saya. Waks! Dah lama ga ngajar, jadi ga terbiasa lagi pake EYD.
Anak- anak sangat antusias mengikuti acara kami. Eh, ga cuma anak-anaknya, bapak-bapak sama ibu-ibunya ternyata ikutan, nyanyi waktu kami nyanyi, tepuk tangan, ikut berebutan waktu kami bagi-bagi mainan. xixixixi… melihat semua itu, jadi lupa kalo di situ daerah korban gempa. Mereka terlihat ceria.
Sekitar jam 11, semua selesai, kami kembali ke posko. Baru akan duduk selonjoran melepas lelah, sang komandan sudah menginstruksikan kami harus ke dusun Depok di daerah pegunungan Gunting. Kembali membagikan paket, pelayanan medis, dan menghibur anak-anak lagi.
Mobil kami dua-duanya di’bajak’ sama tim A. Akhirnya kami pun konvoi menggunakan sepeda motor, dibantu jeep yang membawa obat-obatan.
Dusun Depok, daerah pegunungan Gunting
Bantul, Minggu, 4 Juni 2006 tengah hari
Dusun ini terpencil jauh dari keramaian. Jalanan berbatu-batu, naik bebukitan. Rumah-rumah penduduk saling berjauhan. Pantas kalau belum tersentuh, medannya lumayan berat. Kontras sekali dengan Depok tempat saya tinggal yang padat, rame, penuh hingar bingar hypermarket yang menambah semrawut.
Dusun ini sepi, sunyi, nyaris seperti tak ada denyut kehidupan. Dan yang lebih parah lagi, asli, anak-anak ga ada yang bisa ngomong pake bahasa
Indonesia . Hiks… kulo mboten ngertos sampeyan niki ngomong opo.
Saya bilang, anak laki-laki berbaris di sebelah kanan, yang perempuan di sebela kiri, mereka bingung. Akhirnya, Tri yang mengambil alih. Oo… sing lanang baris kene, sing wadon kene, sambil tangannya mengarahkan kanan kiri. Nah loh, kene-kene
Saya Tanya, mau main apa? Opo wae lah bu. Heheh, saya dipanggil ‘Bu’ lagi.
Tapi, mereka bener-bener nurut, semua instruksi saya dilaksanakan dengan baik. Tambahan lagi, penduduknya benar-benar ramah. Si mbah yang halaman rumahnya digunakan untuk bermain, ternyata menyuguhkan kerupuk dan teh manis untuk kami. Ah, di tengah kemelut hidup, mereka tak kehilangan senyum dan keramahannya. Saya terharu pada ketulusan dan kesederhanaan mereka.
Padahal, sebelum gempa bumi pun mereka hidup kekurangan, ditambah lagi dengan bencana yang meruntuhkan rumah mereka. Semoga Allah melindungi mereka.
Akhirnya, jam 2 semua selesai. Kami pun berpamitan pulang. Si mbah memeluk dan mencium kami. Hiks… sedih… seandainya tangan ini masih bisa menyeka air mata mereka, seandainya ada kesempatan, ya Allah, izinkan saya menghibur mereka, membantu mereka dengan apa pun yang saya bisa bantu.
Melihat mereka melepas kami dengan senyum dan tatapan penuh terima kasih, rasanya semua letih, keringat mengucur, seluruh tubuh yang pegal-pegal hilang semua. Semoga akan tetap ada yang datang membawa keceriaan untuk mereka.
Pulang ke
Jakarta
Jam 4 kami tiba kembali di posko. Sudah ada Avanza terparkir di halaman. Wah, sudah waktunya kembali ke
Jakarta . Tapi kok… sepi…
Huaa… tega banget, tim A pulang duluan. Padahal tim B ini, 6 orang, laki-lakinya cuma satu. Dan yang bisa nyetir Cuma 2, si mba Ninik sama si Om Bastian. Di Kijang
sana , 5 orang, Cuma satu perempuan, dan semuanya bisa nyetir.
Kebayang ga sih, Jogja-Jakarta 12 jam, dengan dua orang driver yang tenaganya tinggal sisa-sisa.
Mba Yuni, pemilik rumah yang dijadiin posko, memutuskan tetap tinggal sehari lagi di Bantul. Dan kami pulang berlima.
Kami memutuskan untuk melewati jalur pantura. Ga kebayang kalo lewat jalur selatan lagi, sudahlah melewati hutan dan pegunungan, malam hari, perempuan semuah, kejahatan lebih berpeluang terjadi pada kami.
Bismillah…. Kami pulang. Jam 5 nyampe
Jakarta , jam setengah 6 nyampe Depok tercinta. Huaaa… capek, tidur ah! Weiitt!! Si Ibu udah wanti-wanti “masuk ya Her, jangan bolos!”
Hiks… si ibu terus ngomong gitu sampai saya mengangguk dan bilang iya. “Iya bu, saya ga bolos.” Masih semangaaatt!!
:D
__________
Ngetiknya capek, yang mbacanya jangan capek yaa….