Saat kabar tentang Gempa Bumi yang terjadi di Jogja sampai
di telinga saya, hal pertama yang saya pikirkan adalah saya akan ke sana, bagaimanapun
caranya, membantu apa pun yang saya bisa bantu. Saat Tsunami di Aceh, saya tak
bisa ke sana, maka sekarang saya harus ke sana. Dan saya pun mulai
mencari cara untuk berangkat ke sana
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kesempatan itu datang. Teman di
kantor, yang ketika Tsunami menjadi relawan di sana dan kemudian mendirikan TK di sana,
mengabarkan bahwa ia dan kelompoknya akan berangkat ke Jogja akhir pekan itu.
Dengan antusias saya bertanya: “Aku ikut ya Bu! Boleh ga?”
Dia pun menelpon temannya, dan, saya boleh ikut.
Alhamdulillah…. Kesempatan emas tidak saya sia-siakan, saya batalkan rencana
keberangkatan ke walimahan Arul di
Bandung. Punten nya Rul L
Ratu Plaza, Sudirman,JakartaPusat
Kami memilih Ratu Plaza yang berada di
Jakarta Pusat sebagai titik keberangkatan. Anggota kelompok itu adalah para
profesional senior yang sukses di bidangnya masing-masing, dan tersebar di
wilayah Jadebotabek. 50% dari mereka adalah dokter. Sisanya, akuntan,
kontraktor, arsitek, dan pengusaha. Saya? hehe… anak bawang ^_^
Saya baru sekali mendengar debut mereka untuk baksos dari bu
Imas, yaitu ketika mereka mengadakan baksos di wilayah Gunung Halimun untuk
masyarakat Badui –sempet dibeliin oleh-oleh cincin rotan dari sana, sayangnya ilang waktu ke rumah Dwina L–.
Saya begitu terkesan ketika si Ibu menceritakan tentang itu, dan sekarang saya
bersama mereka.
Sambil menunggu anggota kelompok lain, kami belanja untuk
kegiatan besok di Carefour Ratu Plaza.
Mainan anak-anak, permen, biscuit, sabun, shampoo, odol, sikat gigi, dan
sebagainya. Sekitar pukul 22.30 kami bertolak dari Jakarta. Konvoi beriringan terdiri dari satu
buah truk berisi logistic untuk korban gempa, satu kijang, dan satu avanza,
dengan 13 personel termasuk driver, 5 orang perempuan dan 8 orang pria, 3 di
truk, 6 di Avanza, dan 4 di Kijang. 2 orang dokter sudah berangkat duluan.
Khawatir jalur Pantura macet, kami melewati jalur selatan.
Dengan kecepatan tinggi di jalanan naik turun penuh dengan
tikungan tajam, Kijang berkejaran dengan Avanza. Saya dan si ibu kebagian duduk
di avanza paling belakang. Kami nyaris tak bisa duduk. Terbanting ke kanan, ke
kiri, ke atas, ke bawah, ke depan, ke belakang. Waa…. Si ibu nyerah, pindah ke
Kijang. Nah, berarti wilayah belakang avanza mutlak di bawah kekuasaan saya J.
Seterusnya, saya mulai menata tempat, bikin ganjelan di sana-sini supaya ga
kebanting-banting, ngambil ransel untuk bantal, capek, ngantukzz…. Saya pun
tertidur dengan sukses! zzzzz….. zzzz…. zzzz….
Hari pertama di Jogja
Sabtu, 3 Juni 2006
Pukul 07.10 kami tiba di Purwokerto, mampir di rumah mba
Ninik –pemilik avanza—untuk mandi dan sarapan. Baru aja turun, mba Wati sang
coordinator kompanyon berteriak “Silakan mandi dan sarapan, jam 8 kurang
seperempat kita siap jalan!”
Waks! Buru-buru saya ke kamar mandi. Huaa… 3 kamar mandi
penuh. Hmm… ya dah, ngangkutin makanan ke ruang makan, nyiapin sarapan. Sambil nunggu kamar mandi kosong, ikut
ngangkat kardus2 berisi tempe goreng dan telor asin ke truk.
Semua beres, wuss…… Kijang dan Avanza kembali berkejaran.
Dan… zzz…. zzz…. zzz… saya kembali terlelap. Di Purworejo, sang driver dan
navigator yang ngantukzz berat minta ganti shift. Navigator mengincar tempat
strategis saya, dan dengan terpaksa saya pun menyerahkan daerah kekuasaan saya
dan pindah ke tengah. Dah ah! Ga penting gituh loh!
Bada Dzuhur kami tiba di Jogja. Melewati UGM, melewati UNJ (Universitas Negeri Jogjakarta), kami tiba
di pos I, yaitu rumah keluarga mba Wati –lupa deh jalan apaan, syusyah
ngingetnya– yang selamat dari gempa. Lepas sholat dzuhur dan makan siang, kami
membongkar muatan. Lalu menyiapkan lebih
dari 200 paket berisi selimut, perlengkapan mandi (sabun, odol, sikat gigi,
shampoo, dan handuk), lotion anti nyamuk, alat masak, pakaian dalam dan
pembalut wanita, dan beberapa karung beras untuk setiap RT.
Ba’da Ashar, tim dibagi 2. tim A membagikan paket tadi ke
wilayah Prambanan, dan daerah utara Jogja, tim B ke Bantul. Saya bergabung
dengan tim B. Menurut schedule, ba’da Maghrib saya dan si Ibu mengisi pengajian
ibu-ibu, dan esoknya menghibur anak-anak.
Jam 5 tim B berangkat menuju Bantul. Kalo di daerah kota masih belum terlihat
reruntuhan, mendekati Bantul, mulai terlihat di kanan kiri sisa-sisa bangunan
yang hampir rata dengan tanah. Tenda-tenda didirikan di sekitar reruntuhan, dan
beberapa penduduk mulai mengumpulkan puing-puing reruntuhan rumah mereka.
Menyaksikan semua itu, dengan kedukaan yang terlihat jelas di wajah mereka,
saya menangis. Kalau setelah itu masih sibuk memikirkan diri sendiri, berarti
saya manusia paling egois di muka bumi.
Bantul, Jum’at malam, 2 Juni 2006
Sekitar jam 7 malam kami tiba di Bantul. Anggota rombongan
kami, memang ada yang keluarganya tinggal di sana, daerah Kauman. Alhamdulillah, rumahnya
–yang memang kokoh—masih utuh, tetapi dapur, kandang ayam, dan pendopo samping
runtuh. Meski keadaan rumah masih utuh, tidak ada yang berani tidur di dalam
rumah. Mereka tidur di tenda-tenda yang didirikan di halaman rumah.
Setelah membongkar muatan, kami mengisi pengajian, yang
katanya untuk ibu-ibu, dan ternyata seluruh warga malah berkumpul, ibu-ibu,
bapak-bapak dan anak-anak. Dan setelah itu, pelayanan medis. Semua itu
dilakukan di halaman terbuka yang dikelilingi pohon pisang, beralaskan tikar
dan beratapkan langit.
Selama pelayanan medis, saya mencoba berdialog dengan
beberapa keluarga. Meski kadang pabaliut, banyak kosa kata yang tidak saya
fahami, sebab banyak di antara mereka yang tidak tebiasa bercakap-cakap
menggunakan bahasa Indonesia,
ya dicampur dengan bahasa Jawa. Ah, ya sedikit2 mah saya ngerti, meski
kadang-kadang saya cuma iya-iya tapi dalam hati: “ngomong apaan sih?” lama-lama
saya pun jujur “Maaf bu, kulo mboten ngertos.”
“ooo… iki lho mba, bla.. bla… bla…” tuiing… tuing… tuiing…
kalo udah gitu, saya manggil2 Tri –guide kami—minta diterjemahkan.
To be continued… capek nuliske :p
wah izti, selamat ya, seru juga pengelamana, mudah2an jadi amal sholih…..ane mau ke jogja, cuma lagi nyari tumpangan nih…doain ya nduk, cah ayu, cah gemblung …..;P
June 5, 2006 @ 4:05 amSubhanallah….iz luar biasa ya dengan tekat kuat tapi berani ambil resiko.SALUT!
June 5, 2006 @ 8:17 pm