Berbagi Segenggam Cinta
<

“Sabar… dia bukan jodohku.”

Hmm…. Para lajang seringkali berlindung di balik kalimat itu ketika proses pernikahannya batal. Mencari pembenaran dari tindakan memutuskan proses, khitbah, atau apa pun namanya yang menuju ke arah pernikahannya yang tidak sesuai dengan harapannya. Harapan, atau kemauan? Atau jangan-jangan sekedar egosime?

Hati-hati, sebab kemauan yang tinggi kadang mendorong nurani dan akal untuk menolak sebuah kebaikan (meski awalnya kita tidak tahu).

Contoh:
Si Fulan mengajukan diri untuk memulai proses taaruf dengan fulanah. Biodata pun ditukar, lengkap, idealis, dan penuh pengharapan. Masing-masing murobbi mendampingi prosesnya. Tidak ada yang kurang, pihak perantara menilai mereka cocok. Hingga murobbi si Fulan berkata:

“Afwan, mutarobbi ana tidak bisa melanjutkan proses.”

Fulanah bertanya-tanya, why? Si Fulanah tidak akan tahu jika saja si Fulan tidak kelepasan bicara kepada seorang kawan Fulanah: “Tidak ada hal yang bisa membuat saya mencintai Fulanah.”

Oh God! Cinta! Manusiawi bukan?
Ah, berapa persen kadar cinta yang bisa menjamin kelanggengan sebuah hubungan? Cinta atas dasar apa?

Jawablah dengan hati nurani. Jika cinta itu didasarkan atas cinta karena Allah, parameternya bukan kecantikan, kekayaan, kehormatan, atau jenis kesenangan duniawi lainnya. Parameternya adalah kesholehan, ketaatan, dan keridloan pada Allah.

Maka katakanlah:
“Ya Ukhty… cukuplah jilbabmu menjadi perhiasan bagi kecantikanmu. Akhlakmu menjadi gambaran dari kehormatan dan kemuliaanmu, dan ketaatan serta keridoanmu pada suami menjadi harta kekayaan yang tak ternilai.”

Hmm… dimana kami (para akhwat) bisa mencari sosok imam yang seperti itu?

Dan duhai akhwat, katakanlah:
“Ya akhy… cukuplah agamamu menjadi jaminan perlindunganmu terhadapku, akhlakmu menjadi siraman cinta yang tidak akan pernah kering, ketawadluanmu menjadi berlian yang bersinar cemerlang, dan kau memuliakanku ketika kau mencintai, tetapi tidak menyakiti ketika cinta itu tak juga hadir.”

Materi? Oh, itu juga manusiawi. Tetapi logikanya, seorang laki-laki yang berani meminang seorang wanita, maka dia telah yakin bahwa ia mampu menafkahi keluarganya. Cukuplah bahwa ia tetap bekerja mencari nafkah, tidak harus memiliki pekerjaan tetap. Sebab keberkahan bukan terletak pada berapa banyak harta yang didapat, tetapi pada cucuran keringat yang dilandaskan atas keikhlasan dan pengharapan hanya pada keriloan-Nya.

Maka, tengoklah ke dalam hati, mengapa masih belum menikah? (termasuk saya juga) :D Betulkah karena belum tiba jodohnya? Atau sebenarnya menunda, menunda, dan menunda untuk mendapatkan seorang pendamping yang tanpa cela? *ah, jadi kesindir nih…* :-P

_____________________________________________________
Ya Allah, ampuni dosa-dosa kami, bersihkanlah karat-karat keburukan yang menodai hati kami, agar kami bisa melihat bahwa yang haq adalah haq, dan bimbinglah kami untuk mengikutinya, dan yang bathil adalah bathil, dan tuntunlah kami untuk menjauhinya.

July 18th, 2006 at 9:36 pm


11 Responses to “Dia bukan jodohku??”
  1. 1
      Donny says:

    Masalahnya adalah…
    mmmm…ikhlas itu susah ya..? Heu heu heu….yeah, that’s my comment….

  2. 2
      Renny says:

    Dan duhai akhwat, katakanlah:
    “Ya akhy… cukuplah agamamu menjadi jaminan perlindunganmu terhadapku, akhlakmu menjadi siraman cinta yang tidak akan pernah kering, ketawadluanmu menjadi berlian yang bersinar cemerlang, dan kau memuliakanku ketika kau mencintai, tetapi tidak menyakiti ketika cinta itu tak juga hadir.”–>terkadang kata2 ini bila keluar dari mulut seorang akhwat malah nanti dianggap sebuah klise oleh seorang ikhwan…

  3. 3
      Mohammad says:

    baca artikel herni ini, agak tertusuk hati ini, tempo hari juga sempet ada yang nyindir, katanya: untuk makan sendiri aja sulit, mau ngajak akhwat nikah….

    iya, untuk makan sendiri emang sulit, tapi ada aja rejeki yang datang, jumlah keringat yang dikeluarkan juga insya ALLAH sama dengan ikhwan lain yang penghasilannya lebih besar, jadi proses yang dilakukan untuk menghidupi diri sendiri insya ALLAh sedang dilakukan, tapi lagi-lagi jangan lagi deh, menghukumi masalah HASIL, karena Hasil itu masalah kekuasaan ALLAH….
    (jadi hargai kerja keras ikhwan yang ingin menikah demi menjaga kehormatan)

    Ust Fauzil adhim bilang, katanya: sbuah pertanyaan untuk hati nurani,apakah lambatnya jodoh adalah karena : 1. ujian atas keimanan kita yang besar …2. sebagai penebus atas kekhilafan dan dosa yang telah kita lakukan..3. atau kah jodoh seperti halnya kematian dan rejeki, datang pada waktu, dan kondisi yang berbeda bagi setiap orang….

    merenungi ucapan ust fauzil adhim di atas, saya makin tidak simpatik pada diri saya, saya merasa 3 alasan itu yang menjadikan saya belum juga dapet jodoh.3-3nya!!….

    sekarang berusaha sajalah untuk tidak mengeluh, yang akhwat juga jangan merasa cuma kalian yang menderita, kami kaum ikhwan juga sama menderitanya….menderita di saat mengumpulkan receh demi receh buat menebus walimah, menderita ketika mengungkapkan perasaan, menderita ketika belum juga ada jawaban….

    sama aja, bobot [enderitaan kita sama……hanya untuk kalian kaum akhwat, kalian dianugerahi untuk lebih menghayati sebuah rasa “sakit”, jadi wajar saja kalau di artikel2 banyak tulisan2 kaum akhwat yang mengaku merindu sesosok imam….

    trus jangan lagi deh, mengklaim sebuah pengalaman pribadi menjadi sebuah harga mati, seperti kaum ikhwan banyak maunya, cari akhwatnya maunya yang cantik-cantik….dan segala macam yang munculnya hanya karena ketidakdewasaan realitas yang kita tonton sekaligus ketidak dewasaan kita dalam memaknai realitas itu….

    jangan lagi deh….
    tolong dong berfikir ynga proaktif…..

    Dialog…dialog…dialog….
    untuk menjernihkan hati

  4. 4
      Abdurrahman says:

    Afwan… kalo judulnya “DIA BUKAN JODOHKU” trus jodoh yang mana yang bisa dijadikan perkataan bahwa ia adalah jodohku.

    Termasuk gimana sosoknya, trus kepribadiannya, dll…

    Bener… saya setuju dengan ungkapan mas Mohammad tapi saya perhalus kembali.

    Tidak ada makhluk didunia ini yang sempurna, jadi… bila merasa mencari suatu sosok (jodoh) yang sempurna sesuai dengan nafsu kita, nah susah ketemunya atuh.

    Ada baiknya jika dalam masalah “ta’aruf” (perkenalan) didampingi oleh seorang ahli ilmu (ust & wali) bila perlu salah seorang ahli keluarga atau orang tua, seorang ikhwan sebaiknya jangan malu untuk mengatakan bahwa ia masih nganggur alias belum berpenghasilan tapi berniat untuk walimah dengan alasan untuk menjaga keimanan dan menyelamatkan diri dari bahaya zina terutama zina hati (apa alasan ini juga terlihat klise?).

    Nah, kalo sudah diungkapkan seperti ini… Apa pihak akhwatnya juga mau menerima, terlebih lagi bila berhadapan dengan orang tua akhwatnya sendiri ???

    >
    Perlunya sikap Qonaah pada diri kita sehingga apa Allah berikan pada kita menjadi jalan kesyukuran. Syukur atas keni’matan yang telah dirasakan bukan berharap pada angan-angan yang belum datang menghampiri.

  5. 5
      izti says:

    yah, soal jodoh, susah-susah gampang, gampang-gampang susah. yang ngejar ga dapet-dapet, yang nyantai malah disamperin.

    xixixixi… jadi, nyantai ajah gituh yah? :-D
    eh, yang di tulisan itu pengalaman temen saya loh, beneran tuh, kenyataan.

    pengalaman saya…. masih off the record deh… ;-))

  6. 6
      Renny says:

    iya ya..nyantai ajalah….teu usah ngejar2…kejar daku kau kugampar ;-)he..kiding ah…

  7. 7
      Syarif Azhary says:

    Bagus, lebih fokus lagi, fokus lagi… Narasumbernya lebih banyak lagi ko.. jadi bisa dibuat point of views yg berbeda, sikapi dengan baik pula, para ikhwan juga banyak yang menderita, gk cuma akhwat <– kata Akh mohammad diatas :)

  8. 8
      langkah says:

    i did. tapi ngga pernah terbersit to say:
    “diya bukan jodohku”.
    aku cuma berpikir satu hal:
    “aku bukan jodohnya”

    minimum requirement bisa bikin laki2 pusing juga loh. berapa keping recehan yang kudu diya kumpulin buwat walimahannya aja duyu deh. trus nantinya, berapa keping recehan lagi yang kudu diya kumpulin buwat ini-itu-nya setelah pernikahan. berharap pada sang istri? ah, kaum istri ngga punya kewajiban untuk itu. dan kaum laki2 ngga bole mengandalkeun perempuannya. dan kita baru berbicara sejumlah recehan saja. belun batas kemampuan seorang laki2 hingga ia layak disebut sebagai “imam” atawa “qowwam”? pegimane kaluw si laki2 cuma berbekal alasan klise? jaga hati dari zina dengan keadaan banyak minusnyah?
    penghasilan? mungkin harus lebi sering puasa ketimbang makan. ilmu? mungkin sang istri yang kudu jadi “ustadzah” buwatnya. ya, saat sang laki2 jauh dari harapan (sebagai contra dari anggapan laki2 cuma pingin yang cantik dan muda) apakah mereka (para perempuan) mahu memiliki “imam” yang kudu ngejar banyak ketertinggalannya?

    kerana, ada beban tersemdiri bagi laki2 dengan banyak kekurangan seperti itu saat coba2 berpikir untuk melamar seorang perempuan. sekalipun si perempuan setuju, masih ada “gerbang” lain yang bernama ortu dan keluarga besar. “omongan” atawa “sindiran” miring mungkin bisa dicuekkin, tapi ngga bisa dihindarin.

  9. 9
      raudah says:

    yeah,benar itu,tapi ya serahkan aja kepada allah,tapi tau darimana kalo seseorang itu jodoh kita atau bukan ya? yg patut dipertanyakan lagi,apakah jodoh itu?apakah seorang yg sudah dikatakan mempunyai suami dapat dikatakan bahwa itu adalah jodohnya?lalu bagaimana dengan org yang “afwan” neh,tapi bercerai?apakah sampai diditu aja jodohnya?jadi menurut ane sih,jodoh ga jodoh ya kita terus berusaha aja cari yg terbaik menurut kita,tinggal kita yg menentukan pilihan,terbaik apanya?entah ilmunya?wajahnya?imannya?atau lainnya…….itu yg menjadi pilihan kita,terserah mau milih yg mana,tapi sesuai kata nabi ya iman deh,tapi walaupun itu sudah dipilih,maka menjadi permasalahan lain lagi jika iman sudah mantap tapi emmpunyai masalah teknis lainnya yang membuat sang pria belum atau tidak bisa melakukan khitbah utk sakrg

  10. 10
      hamba ALLAh says:

    lieur,,,,,,,,,,mau pasrah,,,,salah,,,ngejar ga dapet timbulnya dengki dan iri,,,,ga ada harta nambah parah engkinya,,,lagian asal udah ngejar jadi ga inget yang diatas,,salah juga,,,susah deh,,,
    mencari keridoan sama iklas itu bener-bener badai susahnya,,,,Astagfirullah ampuni hambamu ini yang sangat lemah,,,,

  11. 11
      santhy says:

    yeach… aku sendiri juga dalam kebingungan dalam mencari pasangan hidup. ada yang mau aku nya gak mau
    sekarang banyak ikhwan yang datang untuk mengkhitbah ku dan aku terpernagkap dalam kebingungan menentukan pilihan
    yg 1 aku suka dengan siakap dan penampilan nya yang 1 aku suka dengan kedewasaan dan kemapanan nya
    eghah andai ada 1 orang yang melingkupi ke dua nya pasti dia yang ku pilih
    ya ALLAH tuntun lah hati ku ini
    pada siapa ku labuhkan perahu cintaku