Berbagi Segenggam Cinta
<

Lagi, berita pernikahan terdengar meriah. Banyak cerita, banyak praduga, berseliweran bagaikan angin yang berhembus kencang. Bagaimana prosesnya, siapa calonnya, kapan, dan lain sebagainya. Satu hal yang pasti, saat ijab qabul terucap, maka terbukalah pintu langit, dan terkabullah segala doa yang terucap saat itu.

“Teh, calonnya fulanah kaya, ganteng lagi.” kata seorang teman.

“Wah, Subhanallah… itu namanya rejeki.” Kataku. Dalam hati aku bertanya, kenapa yang dilihat itunya ya?

“Teh, calonnya fulan cantik. Tau ga, umurnya beda jauuhh… banget. Hihi… akhwatnya masih muda banget.” Kata temanku yang satu lagi.

“Yee… ikhwan juga manusia, laki-laki gitu loh! Pasti lah bakalan nyari yang lebih muda, yang cantik. Meski seabrek akhwat berkualitas oke yang jauh lebih pantas untuk menikah, tengah menunggu.” Komentar temanku yang lain.

Huss! Ko begitu sih ukhty…. Jujur! Meski terlontar dengan candaan, kata-kata itu sungguh menyakitkan, bagi orang yang dimaksud, orang yang mendengar dan orang yang mengucapkannya juga sebenarnya. Tetapi, memang sudah menjadi tabiat wanita untuk cemburu. Asal jangan sampai mendengki saja.

Cukup! Saya tidak sedang membahas soal tabiat para akhwat. Tetapi, ada satu titik yang mengganjal dari situ. Niat. Ya! Niat.

Untuk apa saya menikah? Menggapai ridlo Allah, dan membentuk keluarga samara, tentu. Lalu, di jalan mana saya menikah?

Terngiang obrolan saya dengan seorang akhwat yang menikah di usia yang melewati batas wajar ad-diennya genap.

“Jalan nikah kita tergantung dari niat kita saat menikah. Jangan sekali pun niat kita menikah bukan karena Allah. Jika sedikit melenceng, luruskan, dan luruskan lagi. Jangan menikah karena takut umur sudah tua, takut gunjingan orang, takut ga ada yang mau, dan takut-takut lain yang bukan karena Allah. Atau jangan memilih karena kekayaan dan kecantikan semata, atau karena sudah terlanjur cinta. Mungkin iya, kayanya dapet, cantik atau gantengnya dapet. Tetapi bahagianya belum tentu. Mungkin iya, cintanya dapet, tapi cinta-Nya belum tentu.”

Duh… dalem…. banget. Jadi, bisakah menikah di jalan dakwah? Atau berdakwah di jalan nikah? Dua-duanya adalah jalan yang mulia, jalannya para anbiya, jalannya Rasulullah, jalan para sahabat, tabiin, dan salafusholeh. Dan ketika memilih jalan itu, bisa jadi tak seindah pandangan mata. Jelas, kerikil tajam menghiasi jalannya. Bahkan mungkin jauh dari ukuran ideal manusia. Tapi, apa yang hendak kita cari? Cinta manusia saja, atau cinta-Nya saja? Yah… bola ada di tangan kita. Mau dilempar atau digenggam, up to you! ^_^

Loh, ngomong-ngomong panjang lebar, saya juga belum menikah. Lah, teori doang gituh? Iya sih, but apa salahnya berbagi teori sekarang. Bukan begitu kawan-kawan?

August 10th, 2006 at 11:06 pm


3 Responses to “Di jalan mana aku menikah?”
  1. 1
      Syarif Azhary says:

    Praktiknya bisa menyusul ukh =p

  2. 2
      Aditya says:

    sip deh, nice article, kebetulan bisa jadi ajang introspeksi diri bwat sayah

    yang jelas bila Alloh mengizinkan daku menikah di jalan gegerkalong he he :D

  3. 3
      baim says:

    Jadi mau Buru2 Nikah neh,pahala lagi..
    nice article…