Hidup selalu dihadapkan pada posisi memilih dan dipilih. Bukan saat kita sudah dewasa saja. Ingat kan selagi kecil pun kita seringkali dihadapkan pada berbagai pilihan. Kalo nangis, pasti dikasih pilihan, "Mau diajak main, jangan nangis. Kalo nangis, ga diajak." pilihannya gampang. Berhenti aja nangisnya, pasti diajak deh! setelah itu, mau nangis, ya nangis aja cuek!
Saat dewasa, pilihan yang disodorkan memancing otak untuk berfikir. Sebab begitulah tabiat orang dewasa, berfikir rumit. Mau berfikri sederhana? oh, tentu. tapi pasti ga mau begitu aja langsung milih. seperti ketika ngajakin teman main game olah kata, olah otak, tebak kepribadian, dan sebagainya. cuma dikasi pertanyaan gampang aja, mikir lamaaaaaaaa banget. pake mikir, ni anak nanyain gue ada apa nih? jawab aja kenapa? kan nanti juga tau ada apa.
But, begitulah orang dewasa.
Saat memilih, adalah saat yang paling menguras otak dan hati. Gimana engga? kalo akhirnya apa yang kita pilih itu akan menentukan kehidupan kita seterusnya. Memilih jodoh misalnya. Aku sering berfikir, uh ga enak banget deh milih-milih, udah deh ga usah milih, dipilih aja.
But, ketika akhirnya memang dipilih, lagi-lagi muncul pertanyaan, kenapa dia memilihku? Lalu, pilihannya adalah, terima engga yaa… nah kan! tetep mesti milih juga. Yang pasti, setiap pilihan itu memberi konsekuensi yang berbeda. Kalau udah berani milih dan berani dipilih, mesti siap menghadapi konsekuensinya dong.
Saya selalu berprinsip, kalau saya mau, saya akan memperjuangkannya, meski hasilnya pahit dan menyakitkan. Saya bukan orang yang mudah menyerah. Toh, kita tidak akan tau sebelum mencoba bukan?
sekali lagi, kalau saya mau….
kalo ga mau? cuek ajah, let it be! gituh!
lama ga buka blog iz, makin hari ucapannya makin berat, mudah2an itu artinya karena iz makin mau membuka diri, kepada siapa nanti, semoga ia lelaki yang tepat yang dapat menampung cintamu,
kalaupun lelaki itu “berdebu” semoga debu yang ia miliki menghambur ke dalam hatimu, menyelimuti, menghangatkan, tapi tidak memberati,….debu itu nampak mengotori, padahal kita tahu, dalam Islam debu adalah alternatif lain ketika kita ingin menyucikan diri agar layak menghadapNya….
demikianlah aku mengkiyaskan cintaku kepada istriku kelak,….
seperti debu, yang tertiup ketika angin menerbangkannya,…
yang menghambur untuk melindungi, menjaga dari hidup yang makin kasar, makin keras, makin tidak bersahabat….
tulisanmu makin hari makin berat….
apa katamu ? memilih dan dipilih?
jadi ingat ucapan seorang bijak yang sempat membuat aku menangis, katanya :
” hati-hati kalau berdoa, sebab siapa tahu doamu akan dikabulkan”
kalau engkau ditanya, pilih a atau b, maka berhati-hatilah, apalagi meneruskan keinginan-harap-hasratmu pada pemilik ALAM ini,…
kalau DIA mengabulkan, tidakkah berat rasanya jika suatu saat DIA meminta padamu pertanggunghawaban atas pemberiaanNYA setelah kita meminta….
sebab segala pemberianNya….adalah amanah….
iz, sesudah ucapanmu yang berat, apakah masih ada tawa?
August 20, 2006 @ 5:02 am