Selama ini saya berfikir seorang pemberani adalah seorang yang sama sekali tidak punya rasa takut. Tapi saya salah. Terakhir saya sadari bahwa seorang pemberani adalah seorang yang berjuang melawan rasa takutnya. Dan yang lebih penting, bukan berani menghadapi mati, sebab itu pasti terjadi. Tetapi berani menghadapi hidup.
Jika berani mati, ketika menghadapi masalah yang teramat berat, bisa-bisa mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Atau kalau tidak begitu, depresi hingga benar-benar kehilangan keberanian untuk menghadapi hidupnya dan bahkan lebih parah kehilangan akal dan jiwanya alias gila. Naudzubillahimindzalik.
Saya, setiap kali menghadapi masalah berat yang menghimpit, selalu ingin lari dan menghilang. Pergi sejauh-jauhnya dari penyebab masalahnya. Tetapi kemana pun saya lari, beban itu terus menghimpit. Sebab sebenarnya masalah itu ada di dalam hati, tentu ikut kemana pun saya pergi. Membagi dengan seseorang? Ah, itu bukan kebiasaan saya. Saya selalu yakin bahwa selalu ada cara untuk melewatinya, meski kadang dengan cara berlari, dan membiarkan orang lain menyelesaikannya, membiarkan waktu yang memperbaikinya. Tapi, lagi-lagi semakin saya tutupi malah semakin mencuat. Semakin ingin diam, malah semakin mengoceh, kata-kata meluap berhamburan. Seperti sekarang ini, saya kira.
Saya pun terpekur. Ternyata saya bukan seorang pemberani. Ternyata saya begitu pengecut untuk menghadapi masalah yang kadang tanpa sadar saya buat sendiri. Malu deh mengakuinya. Tapi lagi-lagi saya ‘dihajar’. Kata seorang teman, “makan tuh malu, Makanya, jangan bikin masalah.”
Loh, emangnya siapa yang senang mendapat masalah? Eh, jangan-jangan bener kata temen saya, saya cuma nyari-nyari perhatian. Terus, salah gitu? Loh, kok ngelantur sih?
Sebuah tausiyah menyadarkan keberanian saya sore itu. Ketika Allah menjauhkan kita dari orang-orang yang kita cintai, apa pun alasannya, maka saat itulah Allah sedang menunjukkan cemburu-Nya. Ia ingin kita hanya mencintai-Nya, agar kita tidak berlebihan mencintai makhluk-Nya. Jangan takut sendirian, sebab Dia selalu menemani.
Nyambung banget buat saya yang sedang takut kehilangan orang-orang yang dicintai. Keluarga, sahabat, dan orang-orang yang istimewa dalam hati saya.
Dan akhirnya, saya memang harus menghadapinya, suka atau tidak suka. Hanya ada dua pilihan bukan? Berhasil atau gagal. Maka, saya pun belajar menjadi seorang pemberani. Dan berusaha menghargai setiap fase yang saya lalui, memanfaatkan dan mengisinya sebaik mungkin. Sebab suatu ketika, saya pasti akan merindukan fase-fase yang terlewat itu.
So, ada masalah? Hadapi saja!
Pemberani adalah seorang yang berprinsip, seorang yang berfikir sebelum bertindak, serta pandai membaca situasi, dia tidak lari ataupun menutup diri, karena dia mengakui bahwa ada yang lebih kuasa atas dirinya, yang mana dapat membuat dirinya bangkit dari himpitan maupun ketakutan.. cukup.. hadapi saja
dan pikirkan!
August 8, 2006 @ 6:27 am