Berbagi Segenggam Cinta
<

Suatu sore, saat aku berjalan-jalan dengan seorang kawan di tepi danau UI, mataku tertumbuk pada sebatang pohon pinus yang mengering di beberapa rantingnya. Ranting itu sungguh-sungguh kering dan terlihat mati. Yang kuherankan, ranting dan daun yang mengering itu masih lekat pada batangnya, tidak gugur ke bumi. Saat kuperhatikan dengan seksama, di ujung ranting kering muncul tunas muda berwarna hijau kekuningan. Hidup, dan segar.

Aku tersenyum. Dan begitu takjub pada kebesaran-Nya. Kagum pada kekuatan pinus dalam mempertahankan hidupnya. Terpana pada semangatnya memunculkan kembali tunas-tunas muda setelah sekian lama mengering.

Sebagai manusia, akankah aku juga bisa bertahan sekuat itu dalam melewati setiap fase kepahitan, kegetiran, dan kekeringan dalam hidupku. Lalu, perlahan kususuri satu persatu fase-fase itu.

Saat terpuruk, saat terjatuh, saat berjuang melawan ketakutan yang membuat diri semakin enggan meneruskan hidup. Saat mencintai, saat kehilangan, saat memulai, saat mengakhiri.
Pinus-pinus yang tunduk pada pencipta-Nya itu akan memunculkan tunas-tunas muda setelah kekeringannya, selama masih ada air yang mengaliri batangnya. Maka begitu juga dengan manusia. Selama masih ada iman yang tertanam dalam hatinya, yang mengaliri kekuatan Illahiyah dalam aliran darah di tubuhnya, dalam setiap desahan nafasnya, maka ia akan selalu bisa bertahan dari deraan dan ujian dalam hidupnya.

August 4th, 2006 at 11:58 pm