Yang
wanita berbaju longgar, berjilbab lebar, bermanset dan berkaus kaki. Yang
laki-laki berbaju koko atau berkemeja rapi, celana rada ngatung, tidak berkumis dan berjenggot tipis.
Ke mana-mana ngegemblok tas gede yang isinya macem-macem (bukan bom kan ^_^). Kosa kata tertata rapi, santun, dan simpatik. Rutin
mengikuti kajian pekanan, rajin mabit, dauroh, munashoroh, DLLAJ (eh, dll aja
ding!) Panggil memanggil dengan sapaan khas ana (saya), antum(kamu), akhy (saudara),
ukhty (saudari), umi (ibu), abi (ayah), afwan (maaf), syukron (terima kasih),
dan lain-lain yang berbau Arab.
Lalu
apakah dengan identitas seperti itu sudah sempurna? Begitu membumbung,
mengangkasa, dan seolah tak tersentuh tangan manusia biasa, dan ga boleh salah?
Tidak,
mereka (atau kami, atau saya sendiri), adalah jamaah manusia, bukan jamaah
malaikat yang senantiasa tunduk, patuh, dan menjalani kebaikan demi kebaikan
yang sempurna.
Oh,
jadi boleh dong bilang kami hanya manusia biasa, jangan salahkan jika kami tak
sengaja melakukan kesalahan. Wajar dong kalau suatu saat kami futur, iman kan naik turun.
Hmm.. ngeles nih? katanya aktivis dakwah? Hidup dan mati untuk Allah?
Ah,
saya bukan aktivis dakwah, saya memang ikut kajian pekanan, meski kadang
mangkir ga dateng. Berdalih ini itu, tapi sebenarnya males. Tilawah minimal
satu juz sehari? Hafalan Quran, hafalan hadits, catatan ibadah dan amaliah
harian (kenapa mesti dicatet sih?
Beramal kok diperlihatkan ke orang lain?), dan target-target ibadah lain,
program-program lain yang buanyaaaaaaaak…. Ppffuuihh… berat banget yah?
Murobbi
nuntutnya banyak, protes dikit dapet tausiyah sepanjang jalan kenangan, ga
ngertiin kita banget sih? Jamaah juga ga sesuai dengan idealisme saya kok,
banyak kebijakan yang saya tidak setuju. Demo ini, demo itu, baksos di sini,
baksos di situ, munashoroh ini, dauroh itu, mabit di sana, tasqif di situ. Kalau saya ga ikut, dapet tatapan ga
enak, dapet pertanyaan, malah bisa jadi dicap yang berguguran di jalan dakwah.
Kenapa harus seragam? Toh, saya ikut kajian bukan ingin dimasukkan dan
dikelompokkan pada jamaah tertentu.
Tuh kan… rentetan keluhan yang sambung menyambung menjadi
satu. seolah-olah kita (atau saya nih) yang paling berhak untuk kecewa. Tidak
pernah berfikir bahwa murobbi pun pernah kecewa pada kita, jamaah pun pernah
kecewa pada kita.
Bedanya,
murobbi bisa cepat memaafkan, jamaah pun bisa memaklumi (memaafkan, atau ga
peduli nih? Tuh kan.. su’udzon deh!). Sebab ada atau tidak adanya kita,
terlibat atau tidaknya kita, dakwah itu akan tetap menggelinding, tinggal
memilih, ada di barisan itu, cukup menjadi penonton, atau malah menjadi objek?
Terus,
salah saya, kalau saya ga sreg lagi bergabung di jamaah ini? Salah saya, kalau
saya ingin keluar dari komunitas ini? Kan saya udah bilang, saya ikut kajian
untuk diri saya sendiri, bukan untuk dicap kelompok ini jamaah itu.
Jadi,
apa dong masalahnya?
Setelah
difikirkan dengan hati yang tenang, dengan akal sehat, ternyata masalah itu ada
di diri sendiri. Hati yang hitam, dipenuhi titik-titik dosa, sehingga ibadah
pun tinggal ritual, sekedar menggugurkan kewajiban. Tak ada ruh di dalamnya,
tak ada ketenangan setelahnya.
Soal
kajian rutin, ternyata masih belum percaya sama…. Murobbi. Sibuk menilai
murobbi, mengkritisi kesalahan murobbi, menggugat kesalahan jamaah, menuntut
pengertian, meminta perhatian.
Lupa,
bahwa diri sendiri juga sering salah. Menutup mata, bahwa diri sendiri juga
sering mengecewakan. Sibuk ngeles, mencari alasan dan lain sebagainya.
Ga
usah ribet gini deh! Kalo ga mau disoroti, ya jangan jadi selebriti. Jadi
tukang tambal ban aja. Pake atribut
‘ikhwan’ dan ‘akhwat’ kan selebriti, beda sih!
Eh,
gimana kalo tukang tambal bannya juga ‘ikhwan’ or ‘akhwat’?? ^_^
___________________
Bahan renungan menjelang
Ramadhan —@ Herni @—-
Jama’ah adalah apa-apa yang bersesuaian dengan Alloh SWT, walaupun engkau sendirian (Sahabat Rousululloh Ibnu Mas’ud, Ra)
Jama’ah adalah Ketaatan kepada Alloh SWT, walaupun Sendirian (Sahabat Rosululloh Ali, Ra)
Wallahu a’lam bishshawab
September 19, 2006 @ 9:35 am:)walah2,,,,emang begitu pergulatan dalam diri sering terjadi.
September 25, 2006 @ 12:26 pmSepakat,,pernyataanya. Mbak ini ikutin kegiatan bukan supaya distempel. Saya juga kok…mana2 yang ada manfaat dan bisa di pertanggung jawabkan di ambil. Toh yang sempurna itu semoga juga membuat kita makin sempurna.
Salam jannah tukmu yoo…
@jannah
September 29, 2006 @ 2:07 amsalam balik to you honey…
moga kita bisa istiqomah di jalan ini.
^_^