Berbagi Segenggam Cinta
<

Sungguh, seorang Romeo tak perlu mati untuk Juliet. Dan Qais tak perlu menjadi gila karena Laila. Romeo masih bisa meneruskan hidupnya tanpa Juliet. Dan Qais pun bisa tetap waras dan hidup tanpa Laila.

Tetapi itulah masalahnya. Mereka tidak sanggup, mereka berhenti di satu titik, dan menyerah. Hidup Romeo tak berarti tanpa Juliet, dan Qais memilih mati daripada kehilangan Laila. Qais memang tidak bunuh diri, tetapi ia membiarkan dirinya larut dalam kesedihan, larut dalam keterpurukan. Ia lepaskan dirinya tenggalam dalam duka sampai nafas terakhir.

Mereka adalah orang-orang romantis. Dan orang–orang romantis seringkali menjadi rapuh. Mereka punya jiwa yang lembut dan halus. Tetapi kehalusan itu terbiaskan dengan kelemahan. Qais dan Romeo mewakili tipikal laki-laki yang berperasaan halus, tetapi sangat lemah.

Sungguh, kata Anis Matta itu bukan kombinasi yang bagus. Sebab, bagaimana mungkin seorang laki-laki yang lemah bisa berdiri kokoh dalam barisan kaum muslimin untuk menegakkan kejayaan Islam. Bagaimana mungkin ia bisa ‘memanggul senjata’, menebas keburukan dan kebathilan, apalagi kedzaliman, sedangkan ia sendiri tak sanggup menghadapi badai kehidupan, yang muaranya hanya satu: hubbuddunya (cinta dunia). Cinta pada keluarga (anak dan istri/suami), cinta pada harta, dan cinta pada kehormatan diri.

Pun sebaliknya dengan wanita. Bagaimana mungkin para lelakinya bisa tenang dalam ‘peperangan’ jika para wanitanya senantiasa merengek, menuntut, dan merajuk agar setiap saat selalu ditemani.

Dalam dada orang-orang yang romantis, perpisahan adalah saat-saat paling melankolik, saat-saat paling ditakuti. Sebab dunia menjadi sempit *gimana ga sempit, wong dunia segitu lebarnya serasa cuma buat berdua :-P*. yang diinginkan orang-orang yang romantis adalah ketenangan, kedamaian, bersama para kekasihnya.

Tetapi kehidupan tak seperti itu. Kehidupan selalu punya aturan dan kaidah yang seringkali memaksa orang-orang yang romantis itu berlepas diri dari kekasihnya.

Sedihnya, keadaan seperti itulah yang melanda sebagian besar muslimin di hari-hari sekarang. Memilih bergumul dengan romantismenya yang rapuh. Berlindung di balik kehalusan dan kelembutan jiwa. Tetapi sebenarnya hanya menutupi kelemahan dan kerapuhan dirinya. Hingga panggilan2 Allah untuk mengangkat ‘pedang’ memerangi kebathilan yang buahnya adalah surga dan bidadari yang bermata jeli, tak lagi terdengar indah.

Tengoklah sebuah kisah. Saat kabar syahidnya syekh Abdullah Azzam disampaikan kepada istri beliau, sang istri mujahid itu hanya menjawab enteng, “Alhamdulillah, sekarang mungkin ia sedang bersenanng-senang dengan para bidadari.”

Ungkapan itu bukan karena tak ada romantisme dan kecintaan dalam dadanya. Tetapi karena segala keindahan itu telah menemukan keterarahan dan sumber energi dari Sang Pemilik Hati.

Gampang?? No!
That’s so hard! But not impossible.

_________________________
* Content copyright: Tarbawi
* Content Copyleft: izti

Ga dalem…. Tapi nonjok… ^_^

October 16th, 2006 at 9:48 pm


6 Responses to “Orang-orang yang Romantis”
  1. 1
      Nato says:

    ehem ehem…..

    duh gw banget tuuh…..

    kok bisa sama yach….kisahnya..

    sippp.. good good…

  2. 2
      Donny says:

    Haha…Romeo dan Juliet tetap jadi cerita terbodoh menurut saya..:p

    Memang, terkadang untuk menjadikan seseorang supaya tidak terlalu melankolis, harus melalui tahapan-tahapan yang lebih ‘menyakitkan’. Putus, ditolak, ditinggal nikah…terasa berat memang pada awalnyaa, tapi berbuah sebuah kesadaran untuk mencintai seseorang ’sekadarnya’ saja, sesuai perintah Islam. :)

  3. 3
      Adil says:

    Semua orang boleh mencintai bahkan harus mencintai… tetapi cinta tertinggi tetap milik Allah SWT.

  4. 4
      Abdurrahman says:

    Cinta abadi bukan cinta kepalsuan
    yang lahir akibat rusaknya hati karena kekotoran

  5. 5
      vinas says:

    iya..iya… kadang qta melankolik banget! tapi menurut saya sendiri, menangis karena cinta semu sungguh suatu yang memalukan! he..he..he.. akhwat tangguh kan gak boleh cengeng betul gak?

  6. 6
      Rudy says:

    @vinas
    tul, betul!

    tapi, nangis juga gpp kok… m,anusiawi, nangis karena menyesal kenapa dapeut cinta semu ^_^