Rumah di mana? Emangnya punya rumah?
Hehe.. iya sih, sekarang mah aku ga punya rumah. Tinggal aja ngekost,
kalo pun pulang, tempat tinggal kami di Karawang ga bisa dibilang
rumah. Dengan lantai semen dan dinding bilik (anyaman bambu), meski
rapi, tetep aja ga bisa dibilang rumah. Tepatnya sih saung atau
gubuk.
Rumahku, tempatku dibesarkan oleh
almarhumah ibunda kandung tercinta, sudah lama tidak dihuni dan
ditinggalkan karena ada beberapa faktor. Salah satunya karena
masalah intern dalam keluarga besar ibunda tercinta yang sampai
sekarang belum bisa menerima kehadiran mama. Ditinggal tanpa
perawatan, rumah penuh kenangan itu pun akhirnya mulai hancur. Hiks…
sayang banget.
Tetapi, ada kesamaan antara rumah
permanent tempatku dibesarkan dengan gubuk bambu tempat kami tinggal
saat ini. Yaitu Pekarangan.
Di halaman depan dan samping rumah
besarku dulu, saat ibunda masih hidup, ditanami berbagai macam
tumbuhan. Bagian depan dipenuhi tanaman hias, bagian samping dipenuhi
sayuran dan buah-buahan. Meski tidak megah, tapi rumah itu adalah
surgaku. Di dalamnya ada kehangatan keluarga, di luarnya ada
kesejukan tak terkira.
Saat musim buah, aku biasa memanjat
pohonnya (mangga, belimbing, jambu, dll), dan menghabiskan waktu
berjam-jam menikmati pemandangan dari atas pohon sambil memakan
buah-buahan itu di atasnya. Dan saat senja, aku, ibu dan ayah
biasanya duduk2 di teras sambil merawat bunga2.
Di tempat tinggal sekarang, kami punya
pekarangan di belakang rumah. Dari dulu, pekarangan kami pasti lebih
luas daripada rumah kami. Di pekarangan ini, penuh berbagai tanaman
lagi, mulai dari bunga2an, tumbuhan obat (sirih, daun saga, lidah
buaya, dll), sayur2an, bumbu2 dapur, kelapa, pisang, nangka, mangga.
Wah… lengkap banget deh! Sampai-sampai, ayah juga membuat kolam
kecil untuk melatih kemampuan berenang ikan-ikan. ^_^
Makanya, meski tempat itu jauh lebih
sederhana daripada rumah kami yang dulu, tetapi rumah itu tetap
menjadi surga kami. Di dalamnya masih ada kehangatan (terutama saat
Leli hadir), dan di luarnya ada kesejukan yang menyenangkan.
Nah kan…. Makin homesick aja nih….
Karena itu, aku punya impian untuk
menciptakan rumahku adalah surgaku, kelak jika aku berumah tangga.
Jadi wanita karir? Itu bukan pilihanku. Aku lebih memilih tinggal di
rumah, melahirkan dan merawat anak-anakku, menciptakan kehangatan,
dan kesejukan yang menenangkan.
Hmmm…. Rumah yang nyaman meski
sederhana, ada pekarangannya yang bisa kutanami berbagai tumbuhan. Di
dalam rumah itu penuh diliputih keakraban dan kasih sayang, di
luarnya sejuk dipandang.
Robb… izinkan kumiliki impian itu,
dan perkenankan agar impian itu menjadi nyata. Amiin…
Nice writing
November 10, 2006 @ 10:38 pm