Berbagi Segenggam Cinta
<

Bukan pertama kali, dan bukan orang yang pertama, saat dosen Illustratorku menyinggung sedikit tentang gaya hidupku. Pertanyaan yang simple, tentang kedekatan dengan keluarga, sahabat, saudara, dan orang-orang lain di sekitarku.

“Kamu punya banyak kelebihan, cantik, smart, kreatif, supel, ceria, menyenangkan. Saya yakin ada banyak teman di sekitarmu, dan saya yakin kamu bisa bergaul dengan siapapun yang kamu mau. Tetapi kamu seringkali terlihat sendiri. Bagaimana dengan keluarga, sahabat, saudara, atau pacar barangkali?” begitu katanya. Sendiri…. semoga maksudnya bukan lonely alias kesepian. Sebab aku tidak pernah merasa begitu.

Maka mengalirlah obrolan serius di ranah sangat pribadi dengannya saat itu. Keluarga, ibuku sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Dan sejak itu aku memang jarang pulang, jarang berkumpul dengan keluarga, sebab memang aku tak terlalu dekat dengan Ayah. Apalagi setelah Ayah menikah lagi. Pulang, hanya menorah luka lama, menusuk-nusuk rasa kehilangan, memaksaku harus jujur, bahwa kenangan manis di sana, membuatku sulit menerima, bahwa satu-satunya orang yang aku kasihi, yang selalu memanjakan, dan menjadi satu-satunya alasan kepulanganku, sudah tiada.

Kelahiran adikku, setahuan lalu, mengembalikan semuanya. Merekatkan kembali tali kasih yang sempat renggang, mengalirkan kehangatan yang sempat hilang, meriakkan kasih sayang, dan mengembalikan arti keluarga dalam hatiku. So…. Tidak ada masalah dengan keluargaku. Kecuali bahwa secara materi kami telah kehilangan banyak.

Sahabat, saudara, tentu saja aku punya. Ada orang-orang yang mengasihiku, ada yang selalu membersamai, saat suka, ataupun duka. Saat tertawa, atau menangis. Aku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang mereka. Justru aku yang sering hilang kesadaran, bahwa mereka ada. Tetapi, mereka memang ada, dan selalu ada, untukku, untuk ukhuwah kami, untuk persaudaraan kami.

Yang terakhir, pacar? Pacar? Hehe…. Aku kehilangan kosa kata untuk menjelaskan tentang yang satu ini, perlu pendekatan lain untuk menjelaskannya. Kubilang aku ga punya pacar, dia bilang aku bohong. Kubilang aku ga pacaran, dia bilang gimana kamu mau nikah? Kujawab asal, “kalo aku suka cowok, aku langsung ngajak dia nikah.”, dia tertawa terbahak-bahak, malah bilang aku lucu.

Whatever ah, akhirnya aku cuma nyengir kuda, untung kudanya udah sikat gigi ^_^.

So… sendiri? Sendiri itu keheningan, dan keheningan itu sumber inspirasi. Ada kalanya aku memang lebih suka sendirian, menyendiri, sepi, sunyi. Tetapi ada pula masanya aku ingin keramaian, kebersamaan, berbagi rasa, berbagi cerita.

But, soal mengerjakan sesuatu, melakukan banyak hal, memang lebih sering kukerjakan sendiri. Sebab aku memang diajarkan untuk mendiri. Aku memang manja, tetapi kemanjaan itu tidak menghalangiku untuk berkarya dan berprestasi. Mewujudkan mimpi-mimpi, mengejar cita-cita, bayar kuliah sendiri, kerja keras supaya bisa tetap survive tanpa menggantungkan diri pada siap pun, termasuk orang tua.

Dan akhirnya, pengalaman hidup dengan segala permasalahan dan kepahitannya mengajari aku untuk tegar, sekuat batu karang. Dan segala kenangan indah mengajari aku untuk bersyukur dan menghargai apa pun yang Allah berikan. Maka, tak soal sendiri ataupun bersama-sama, tetapi bagaimana mengkondisikan diri untuk menghadapi kehidupan dengan segala permasalahannya.

Dan sebelum dia beranjak pergi, segenggam pesan dititipkannya padaku.

“Take care your self, coz I know you’re not just the ordinary people, you’re special, very special. Now or tomorrow, you will be unforgeting person for everyone who ever know you.”

Then I said: Thanks a lot, sir. ^_^

November 2nd, 2006 at 1:24 am