Berbagi Segenggam Cinta
<

Hidup seorang manusia dengan
episode-episode yang dilaluinya adalah ibarat sebuah buku tulis
dengan lembar-lembar halaman di dalamnya. Di buku itu, kita bebas
menuliskan apa saja, bebas menggambar apa saja. Tetapi,  yang
disediakan oleh Pemberi buku itu hanya sebuah pena tanpa penghapus.
Lembaran-lembaran itu menjadi rekaman dari berbagai kejadian yang
kita alami. Kita bisa membacanya lagi, tetapi tak bisa dihapus,
dirobek, atau diganti.

 
Seperti itulah masa lalu kita, yang
bisa kita ingat, kita kenang, tetapi  tak bisa kita kembalikan.

Kita mengenal begitu banyak episode
hidup manusia yang terjadi di masa lampau. Kejayaan dan keruntuhan
suatu peradaban silih berganti, sebagaimana silih bergantinya malam
dengan siang, bulan dan matahari.

Kita pun mengingat episode hidup diri
sendiri. Bayi menjadi anak-anak, menjadi remaja, menjadi dewasa,
menjadi tua, dan mati. Kematian itu sendiri adalah episode awal dari
sebuah babak kehidupan baru, perjalanan baru, dengan dua ujung
perjalanan yang menjadi pilihan mutlak, surga atau neraka.
Dan di masa kaki masih menjejak di
dunia, kita pun berkenalan dengan berbagai macam emosi yang
mengiringi babak demi babak dari drama kehidupan yang terhampar di
hadapan kita. Tak ada yang kekal, tak ada yang abadi.

Maka adalah hak kita jika pada suatu
babak hidup kita merasa bahagia. Adalah memori kita jika pada suatu
ketika kita merasa bersedih dan berduka.

Tetapi, demi masa yang tidak pernah
bisa kembali, adakah fase-fase yang kita lewati itu telah kita
manfaatkan dengan baik? Adakah lembaran-lembaran itu telah diisi
dengan catatan kebaikan dan kesholihan?

Bahagia atau sedih, anugerah atau
musibah, hanya ada dua pilihan bagi seorang muslim untuk
menyikapinya, bersyukur, atau bersabar. Dan dua-duanya mengalirkan
pahala yang mengantarkan kita pada kenikmatan hakiki dari Sang
Pemberi Kebahagiaan, yaitu surga dan cinta-Nya.

Maka saat kita berdiri di masa ini,
berbuatlah sebaik-baiknya ke masa depan kita, sebab tak akan pernah
ada jalan untuk kembali ke masa lalu, sebesar apa pun keinginan dan
kerinduan kita.

Dan tatkala tahun berganti, tak penting
merayakannya dengan berbagai macam pesta hura-hura. Tak penting pula
mengkhususkan waktu pada sebuah perenungan akhir tahun yang hanya
sekali dalam setahun. Sebab memang semestinya seorang muslim
menyediakan waktu-waktunya untuk menyendiri dan senantiasa
bermuhasabah, menghisab diri, menelaah catatan amalnya. Dan
senantiasa memperbaiki dirinya. Sebab seorang muslim yang beruntung
adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dia merugi jika
hari ini sama saja dengan hari kemarin, dan bahkan ia celaka jika
hari ini lebih buruk dari hari kemarin.

Chiayyoo!!! Tetap semangat, semangat,
dan semangat! Allahu Akbar!!

December 26th, 2006 at 10:23 am