Saya tidak pernah bermimpi untuk
menjadi seorang penulis. Dan saya pun tidak pernah bercita-cita untuk
menjadi penulis. Ironisnya, saya sendiri heran, kenapa saya tidak
pernah punya cita-cita untuk menjadi apa ataupun siapa. Memang
kelihatannya tidak ada arah, seolah hidup mengalir seperti air,
mengikut kemanapun arah sungai mengantarkannya ke muara.
Saya menjalani hidup penuh energi dan
semangat untuk mengaktualisasikan diri, mengembangkan potensi
sebaik-baiknya. Tetapi di sinilah letak permasalahannya. Saya nyaris
tertarik dalam segala hal, mencoba berbagai bidang, dan terkadang
cukup puas untuk mengetahui bahwa saya bisa melakukannya.
Soal tulis-menulis, saya tidak merasa
bahwa kemampuan saya di atas rata-rata. Walaupun memang sejak SD saya
selalu mendapat nilai tertinggi untuk mengarang. Yah, saya pikir itu
wajar, sebab kemampuan akademik saya memang di atas rata-rata
teman-teman sekelas. Pikir saya saat itu, bahwa anak yang punya
ranking 3 besar di kelasnya, harus bisa melakukan apa saja.
Alhamdulillah sekarang saya sadar bahwa
itu keliru. Sebab manusia diciptakan dengan segala potensi kebaikan
dan kaburukan, yang kita sebut sebagai kelebihan dan kekuarangan.
Termasuk soal kecerdasan, itu pun tak bertumpu pada satu titik.
Banyak kecerdasan-kecerdasan lain, yang setiap orang berbeda dalam
penguasaannya.
Jika saat ini saya banyak melakukan
aktifitas kepenulisan, menurut saya itu lebih karena saya sangat suka
membaca. Dan ketika isi kepala telah penuh, maka ia akan mencari
ruang baru untuk menumpahkannya. Ya, menulis bagi saya adalah
meluahkan isi hati dan fikiran yang berkecamuk, yang terkadang sulit
untuk menemukan muaranya. Dan adalah wajar jika saya merasa senang
saat ada orang yang membaca tulisan saya kemudian memberikan
apresiasinya. Itu terasa seperti menemukan sahabat baru untuk berbagi
cerita.
Maka, ketika ANNIDA mengabarkan bahwa
blog saya akan dimuat di edisi terbaru majalah itu, betapa senangnya
hati saya. Seperti ada kembang api berwarna-warni yang menghiasi
keheningan jiwa saya. Ada ledakan-ledakan kecil yang menyenangkan dan
meletup-letup di dalam dada saya, sehingga mengalirkan energi dan
semangat baru untuk menghasilkan karya tulis yang lebih baik lagi.
Hingga suatu hari, mungkin akan ada masa yang membuat saya semakin
bahagia, sebab ternyata, saya bisa menulis sebuah buku, dua, tiga,
pulahan, bahkan ratusan buku?
Apakah itu mungkin? Saya rasa, setiap
ada keinginan, tentu ada energi untuk mewujudkannya. Dan energi
itulah yang membuat sesuatu hal yang sulit menjadi mungkin untuk
dilakukan.
Mulanya kita memang bukan siapa-siapa,
maka lakukanlah hal-hal berprestasi dan menakjubkan, sehingga kita
tak lagi disebut ‘bukan siapa-siapa’, tetapi menjadi seseorang
yang keberadaannya diakui, diperhitungkan, dan selalu
dinanti-nantikan. Rendah diri, malas dan mudah menyerah bukanlah
karakter seorang muslimah. Bangga menjadi muslimah, artinya bangga
mempersembahkan kepada dunia, bahwa kita bisa melakukan banyak
kebaikan bagi ummat dan melejitkan potensi diri. From zero to hero,
keep fight and never give up!
Chiayyooo!! Tetap semangat!
Wah, selamat deh untuk pencapaiannya
Membaca dan menulis memang memiliki korelasi linier, semakin banyak baca, semakin ingin menulis, semakin nggak pernah baca, boro-boro kepikiran menulis.
Entah hipotea saya ini benar atau salah, tapi saya mendapati mereka yang menyukai dunia baca-tulis, cenderung untuk menyukai banyak hal, seperti Izti, saya pun demikian, juga beberapa orang yang saya kenal. Mungkin faktor dari dunia baca yang memang multi-dimensi, jarang saya menemukan mereka yang suka membaca, hanya membaca tema yang sama. Misalnya komputer saja, seorang pembaca aktif biasanya juga membaca yang lainnya. Biasanya sih memang jadi banyak tahu, tapi akibatnya juga tidak menjadi seorang spesialis
January 31, 2007 @ 7:28 amsaya akan mendukung izti eh.. herni…
February 1, 2007 @ 8:04 pmlihat di sini
http://jonru.multiply.com/