Berbagi Segenggam Cinta
<

Siang tadi, saya sempat menikmati semangkuk mie ayam,
makanan yang pernah menjadi favorit saya. Dan karena memang sudah cukup lama
saya tidak menikmatinya sejak typhus saya kambuh beberapa bulan lalu, sehingga
saat ada kesempatan saya tidak menyia-nyiakannya.

 
Mie ayam ini bukan langganan saya. Saya memesannya saat
sedang menemani kawan yang tengah berobat, di sela-sela antrian yang lumayan
padat. Maka jadilah, semangkuk mie ayam yang dari penampilannya sangat
menggiurkan itu, menjadi santapan saya siang itu.

 
Tetapi, penampilan dan rasa sungguh jauh berbeda. Saat saya
cicipi, alamak…. Ga enak bo! Rasanya engga karu-karuan, asem seperti makanan
basi. Alhasil, saya cuma memakan
sayuran, ayam dan baksonya saja. Saat mangkuknya dikembalikan, tidak disangka,
bapak penjual mie ayam bertanya, “kok ga diabisin, Neng?”

 
Saya kaget ditodong begitu, belum sempat menjawab, si bapak
sudah melanjutkan, “ayo abisin, tak suapin nih!” spontan saya menjawab, “engga
pak, udah kenyang.” Melihat wajahnya, sepertinya si Bapak kecewa.

 
Ngek! Saya kaget campur bingung. Dan berharap, mudah-mudahan
si bapak engga marah. Saat saya cerita ke temen, dengan entengnya dia bilang,
“kok kamu engga bilang aja kalo mienya ga enak?” saya tertegun, “mestikah?”
kata temanku, “iya, kalo kamu gha bilang, mana dia tau kalo mienya ga enak.
Kasian orang2 yang beli mienya, dan juga dia sendiri.” saya terdiam.

 
Terkadang bahkan mungkin sering kita berlaku tidak jujur,
menutup-nutupi, bahkan menyampaikan hal yang bertolak belakang kepada orang
lain, sekedar untuk menyenangkan hati orang itu, menghindari konflik, atau
untuk melepaskan diri dari tanggung jawab saat melakukan kesalahan.

Saya memang merasa sudah kenyang, sebab makanan yang tidak
enak membuat kita cepat kenyang, sebab kita sudah kehilangan selera untuk
menikmatinya. Tetapi, saya tidak jujur untuk mengatakan bahwa mienya si bapak
tidak enak. Itu memang membuat saya aman terhadap konflik yang mungkin timbul.
Tetapi, itu tidak membawa perubahan kebaikan terhadap orang lain. Si Bapak ga
sadar kalo mienya ga enak, tidak mendapatkan masukan yang positif agar besok
hari dia meningkatkan kualitas mie jualannya. Sehingga, konsumen2nya bukannya
bertambah tetapi berkurang, yang lebih fatal lagi, akhirnya mienya ga laku dan
bangkrut.

 
Itu hanya sebuah contoh sederhana. Bagaimana dengan
interaksi kita yang lain di kehidupan kita sehari-hari? Berapa kali kita
berbohong kepada orang tua, istri/suami (untuk
yang berkeluarga), atau bahkan kepada anak-anak, sekedar untuk menyenangkan hatinya.
Jangan-jangan kita sudah tidak mampu menghitung, karena sudah teramat sering
dan terbiasa melakukannya.

 
Jika kebohongan sudah menjadi lazim, maka kepercayaan dan
rasa aman hanyalah tinggal kenangan. Padahal berkata dusta adalah
ciri-ciri orang yang munafik?

 
Astaghfirullah….. Ampuni hamba ya Allah…..

April 18th, 2007 at 2:47 am


5 Responses to “Apakah kita sudah jujur?”
  1. 1
      nangw says:

    jujur emang ngga gampang… ngga jujur lebih ngga gampang lagi… Saya pernah jujur ngga punya duit buat bayar ngkot, toh tetap di mbesenguti juga sama pak sopirnya…

    Selain itu, jujur ngga mesti vulgar. Kalo ada cara lain yang lebih kreatif dengan jujur tanpa menyinggung orang lain, akan jauh lebih baik.

    Misalkan, waktu tau mienya nggak enak, kita cari nggak enaknya karena kurang apa. Kurang bumbu, garem, ato kurang kuah. Coba aja minta tambah ini itu biar lebih enak. Dengan begitu bapaknya tau kalo mie masakannya akan jadi lebih enak kalo takaran bumbunya di ubah…

    Dia ngga mesti sakit hati, kita ngga mesti ngga jujur…

    Jadi, hari gini… mungkin jujur aja emang ngga cukup… tapi mesti jujur yang kreatif.. hehe…

    piss..

  2. 2
      izti says:

    betul tuh… di situlah perlunya kecerdasan emosi dan komunikasi menurut saya. mungkin kalo kata orang prikolog mah namanya asertif, membuat orang lain mengerti apa yang kita inginkan tanpa membuat orang lain marah.

    bener ga yah kayak gitu?

  3. 3
      saman says:

    Ya seperti itulah kalo orang berbohong, dia akan berbohong lg untuk menutupi kebohongan yg lalu, begitu seterusnya.

    Artikelnya boleh di copy ga? buat referensi aku….

  4. 4
      izti says:

    @atasku
    boleh, tapi cantumkan sumernya yaa… ^_^

  5. 5
      saman says:

    ok boss, Jazzakumullah