Bagaimana rasanya ditolak? Sakit hati? Sedih? Underestimate?
Bunuh diri? Oh no! dunia belum berakhir men!
Pinangan adalah sebuah permintaan, wajar jika ada yang
diterima ataupun ditolak. Bukankah hal ini pun berlaku secara umum dalam
kehidupan kita? saat kita memiliki barang yang sangat kita senangi, kemudian
ada teman yang meminta, ada kalanya kita memberikan, ada kalanya pula kita
menolak, jika barang tersebut teramat sangat kita senangi. Wajar kan?
Tidak perlu berlebih-lebihan dalam hal menanggapi penolakan
sebuah permintaan. Kita tidak memiliki hak paksa untuk meminta sesuatu dari
orang lain. Bila yang diminta hanya sebuah barang yang mudah kita dapatkan,
kita bisa memahami jika ada orang yang menolak memberikannya kepada kita. Bagaimana
jika yang diminta adalah sebuah jiwa,
ruh, kesadaran, perasaan, bahkan kehormatan? Untuk memberikannya, tidak kepada
sembarang orang bukan?
Menikah hanya sebuah akad, sebuah perjanjian. Tetapi, itu
adalah perjanjian yang amat berat, hingga Allah pun membuka pintu langit untuk
mengabulkan semua do’a yang diucapkan pada saat itu, dan setan pun menjerit
meraung-raung manakala sebuah akad nikah terucap.
Dampaknya, saat seseorang telah melewati garis perjanjian
itu, maka ia pun telah siap, ridlo untuk membagikan seluruh apa yang ia miliki
kepada pasangannya.
Sangat wajar jika untuk menerima sebuah pinangan memerlukan
pemikiran dan pertimbangan masak, karena dampaknya amat besar. Seorang
perempuan perlu berpikir, istikharah, menimbang-nimbang, dan meminta pendapat orang lain untuk memantapkan
keputusannya. Ia tidak ingin tergesa-gesa menerima, sebagaimana juga tak ingin
tergesa-gesa menolak. Seorang lelaki perlu meneliti, mencermati,
menimbang-nimbang, istikharah dan meminta pertimbangan dari orang lain sebelum
memutuskan untuk meminang seorang perempuan.
Maka, janganlah meminang dengan perasaan takut ditolak.
Wajar, jika kita punya keinginan yang diutarakan menjadi sebuah permintaan,
maka permintaan itu akan ditolak, atau diterima. Jika diterima, Alhamdulillah,
jika ditolak, Allahu Akbar!
Jadi, gimana kalau ditolak? Tenang…. Belanda masih jauh!
- Husnuzhan
(berbaik sangka), ga ada ruginya kok, apalagi itu adalah sebuah tuntunan
berakhlak mulia. Justru jika memelihara dugaan-dugaan negatif, malah capek
sendiri. Kalaupun dugaan kita benar, ya sudah, cukup tau aja… lalu berdoa kepada Allah agar Dia segera menggantinya dengan yang lebih baik.
- Evaluasi
diri. Berlaku adillah terhadap diri sendiri, salah satunya dengan
melakukan evaluasi diri. Bisa jadi salah satu hikmah dari penolakan
pinangan tersebut Allah ingin memberitahukan adanya kelemahan atau
kekurangan pada diri seseorang. Tetapi tindakan menyalahkan orang lain
tidak membawa manfaat sedikit pun kepada kita. Dan siapa tahu memang ada
kesalahan dalam diri kita. Evaluasi,
lalu perbaiki, tidak dengan terus menerus menyalahkan atau menyiksa diri.
- Bersabar
dengan menjaga akhlak. Sabar memiliki banyak bentuk dan dimensi, setiap
peristiwa ada bentuk kesabaran tersendiri. Apabila pinangan diterima, kesabaran
adalah bersegera meneruskan proses berikutnya dan menjaga diri tidak
melakukan tindakan yang melanggar syariat dengan calon pasangannya.
Sedangkan jika ditolak, menerima dengan lapang dada dan tidak melakukan
tindakan yang merusak kebaikan diri dan orang lain. Akhlak yang buruk
menandakan kelemahan iman seseorang. Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabar sajalah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (Az-Zumar:10)
- Bersyukur
kepada Allah. Percayalah, apa pun yang terjadi, itulah yang terbaik dari
Allah.Bisa jadi, orang yang dipinang memang tidak baik untuk dunia dan
akhirat kita, sehingga Allah menjauhkannya dari kita. Dan Allah akan
menggantikannya dengan yang lebih baik. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.(Al Baqarah:243).
- Tidak
berputus asa, sebab segala sesuatu yang terjadi pada kita sesungguhnya
merupakan ketentuan Allah yang pasti berlaku. Dan hanya Allah yang
mengetahui masa depan kita, dunia dan akhirat. Katakanlah wahai Muhammad,
“wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri
(dengan perbuatan maksiat), janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(Az Zumar:53)
So… ditolak?? Tenang… dunia tak selebar daun pisang. Buka
dulu kaca mata kudanya, biar jangkauan pandangannya lebih luas. Oke men!
Siip….! ^_^
—————————-
* disarikan dari buku
“Izinkan Aku Memminangmu” karya Cahyadi Takariawan.
Di khianati pernah…
April 17, 2007 @ 4:48 pmDi tinggal nikah sudah pernah…
Di tolak juga sudah pernah…
Sakit hati? pernah ada…
sedih? saya manusia biasa
underestimate? enggak lah…
bunuh diri? saya masih hidup tuh…
1.Husnuzhan? Kewajiban hamban-NYA…
2.Evaluasi diri? Ampun ya Allah…
3.Bersabar dengan menjaga akhlak? Insya Allah…
4.Bersyukur kepada Allah? Alhamdulillah…
5.Tidak berputus asa? Allahu Akbar…
Berusaha dan berdoa sampai disitu kemampuanku…
Selanjutnya urusan Allah…
Menanti “TANDA”…
Mencari “PETUNJUK”…
Ku jalani takdirku.
mudah-mudahan Allah segera mempertemukanmu dengan your real soulmate ya akhy… ^_^
April 17, 2007 @ 7:20 pmInsya Allah…
April 17, 2007 @ 9:44 pmAmin…
Terima kasih izti.
dalam urusan ini, manusia cenderung punya 2 posisi yang berbeda.
Mereka yang sedang mengalami biasanya muncul kesempurnaan sifat sebagai ‘manusianya’, marah, kecewa, sebal, mutung, atau sekedar sebal belaka. Alhamdulillah, ini tandanya kita memang manusia, bukan malaikat…
Mereka yang ada disekitar orang yang mengalami biasanya bisa jadi sisi logis dari kawan yang sedang gundah. Caranya ya antara lain dengan kasih nasehat seperti pada blog ini…
Jadi marah, kecewa, sebal dan kawan-kawan jika di tolak ya wajar saja.. hanya mesti bisa dikendalikan agar ndak sampai tertindas oleh hawa nafsunya… Tugas teman-temannya yang sedang ‘normal’-lah untuk membantunya mengendalikan diri… that what friends are for kan..??
April 21, 2007 @ 4:12 am@nangwe
yup! you’re right mr. dalam hal ini saya telah memposisikan diri sebagai penasihat, bagi diri sendiri, maupun mereka-mereka yang punya pengalaman yang sama saat ditolak.
reaksi dan tingkat kecenderungan kecewa hingga desperatenya yang berbeda menurutku. ada yang bisa kembali ‘normal’ dalam waktu sebentar, ada yang butuh waktu lama.
btw, padahal saya lagi menghibur diri sendiri, atas penolakan yang menguntungkan bagi saya. untung dong, kan bisa milih lagi ^_^
April 21, 2007 @ 9:29 pmkayaknya udah pengalaman ditolak nih neng?
masak sih ada yang nolak izti, paling juga izti yang nolak-nolakin orang 
April 23, 2007 @ 5:35 amyah, wajar deh kayaknya. nolak pernah, ditolak juga pernah. :p
secara, sayah manusia biasa gituh loh, bukan malaikat, apalagi bidadari nan bermata jeli :p
April 23, 2007 @ 8:39 amkebetulan saya belum pernah merasa di tolak, karena kebetulan juga saya belum pernah merasa meminang seseorang.
Tapi, apakah memang benar, setiap wanita punya pandangan yang sama dan tidak akan merasa curiga, bila tiba-tiba saja ada seseorang yang datang meminangnya?
Sedangkan orang itu belum di kenalnya sama sekali…
June 2, 2007 @ 7:58 amwah, masih seputar penolakan dan ditolak yah???
July 15, 2007 @ 10:33 am