Berbagi Segenggam Cinta
<

seringkali, meja, kursi, lemari, dan benda2 meubeul yang kita beli
penuh cacat. entah bopeng, keropos, pecah, bolong, dan sebagainya.
Tetapi, apakah saat kita membelinya kita tahu benda-benda itu cacat?
seringkali tidak, sebab kecacatan itu sudah ditutupi oleh benda bernama
lilin, sehingga kita akan melihat bahwa benda itu cantik dan sempurna.
tetapi,
beberapa tahun kemudian, pergantian waktu dan cuaca akan membuat
lilin-lilin itu lepas atau mengelupas. maka saat itu, barulah kita tahu
bahwa benda yang kita beli ternyata cacat.

seorang pedagang yang
baik, akan dengan jujur mengatakan jika memang meubeul yang dia jual
ternyata dilapisi lilin. sedangkan, benda yang memang berbahan dasar
baik akan dijual dengan jaminan tanpa lilin

jadi ingat Digital Fortress atau Bentng Digital karangannya Dan Brown kan?

di dunia ini, ada orang-orang yang mampu mencintai tanpa lilin, sincere,
yang artinya tulus. seorang ibu kepada anaknya, guru kepada muridnya.
tetapi cinta seperti itu tidak lantas juga ditemukan dari suami kepada
istri, ataupun sebaliknya.
dalam sebuah pernikahan, sebagaimana
seorang penjual meubeul, ada yang menjamin tanpa lilin, dan tidak
jarang yang memolesnya sedemikian rupa agar tampak mempesona, tetapi
dikemudian hari, baru kita tahu, bahwa ‘dia’ tak seindah pandangan mata.

saya
adalah seorang pendidik, saya pernah mengajar, dan saya merasakan
bagaimana indahnya mencintai tanpa lilin. saya tidak pernah sakit hati
sebadung apa pun murid-murid saya. tidak pernah menangis seberat apa
pun tugas saya, dan tidak pernah mengeluh sekecil apa pun pendapatan
saya. sebab saya mencintai profesi itu tanpa lilin. alangkah indahnya
jika hal itu ada dalam sebuah cerita klasik (baca:ada dari zaman dahulu
kala sampai kini) bernama rumah tangga.

suatu ketika, jidat saya
berkerut, saya menyukai puisi, tapi sampai saat ini saya tetap belum
menemukan makna dari puisi di bawah ini:

Biarkan aku mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

biarkan aku  mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

aslinya saya tidak suka puisi itu, sebab benda yang dianalogikan itu benda-benda yang menjadi tiada, yaitu abu dan awan yang dua-duanya akan hilang tertiup angin. berarti cinta itu akan hilang bersamaan dengan bergulirnya waktu.

terus, apa hubungannya dengan mencintai tanpa lilin? ga ada! heuheuheu….  Peace ahhh! tapi sepertinya, dua-duanya sama-sama menyiratkan ketulusan.
ada yang bisa menjelaskan ga, cinta sederhana itu yang kayak gimana sih?

tuangkan opinimu di sini dong….  Peace ahhh!

August 8th, 2007 at 5:56 am


2 Responses to “Mencintai Tanpa Lilin”
  1. 1
      alif says:

    ciinta yang tanpa memandang segalanya alias tulus, apakah seorang pris menikahi wanita hanya karena kecantikanya, hartanya, jabatanya saya rasa tidak, yang terpenting adalah keiklhasan menerima apa adanya tanpa di landasi oleh keingginan macam2 yakinlah bahwa dengan keikhlasan semuanya akan dapat kamu raih, karna dengan jiwa yang tulus semuanya akan berjalan sesuai dengan kehendak Mu ya rabb.

  2. 2
      wenty says:

    cinta yang tulus tanpa kita mengharapkan dia akan mencintai kita, walau sebalik nya yang kita ingin kan. Aku akan mencintai mu sekarng dan mudah mudahan untuk selama nya