Suatu siang, saya meninggalkan perpustakaan beberapa jam
untuk suatu kepentingan sekolah, dan baru kembali menjelang Ashar. Saat tiba,
saya melihat setumpuk sepatu di depan pintu, tanda di dalam ruangan ada
anak-anak. Saat saya masuk dan mengucap salam, mereka begitu terperanjat,
mereka tengah menonton televisi tanpa pendamping, sambil tidur2an, bahkan ada
salah seorang yang tidur di atas meja ala Jepang (meja berkaki pendek) di dalam
ruangan.
belakang meja kerja saya. Lalu saya bertanya, tanpa ekspresi:
“Siapa yang mengijinkan kalian menonton televisi?”
“Gak tau bu, tivinya udah nyala begitu kita masuk kok!”
jawab salah seorang dari mereka membela diri.
“Begitukah?” Tanya saya masih tanpa ekspresi. “Kelas berapa
ini?” Tanya saya kemudian.
“Kelas 8 bu…” jawab mereka kompak.
“8 apa yaa…”
“campur bu, ada 8C ada 8D.”
“Kamu namanya siapa?” Tanya saya kepada siswi yang tadi
tidur di atas meja. Dan dia pun menyebutkan namanya dengan wajah pasrah. Yang
lain terdiam memandang yang bersangkutan dengan wajah iba.
“menurut kalian, apakah kalian sudah melanggar peraturan?”
Tanya saya masih tetap tanpa ekspresi.
“iya bu… maaf bu…
bla.. bla… bla…” mereka menjawab berebutan untuk membela diri.
“Kalau begitu, sesuai peraturan, ibu akan melaporkan hal ini
ke bagian kesiswaan ya.”
“jangan buu.. ibu… jangan dong…. nanti kita dapet SP bu…
nanti kita kena sanksi, yaa ibu jangan dong…” Mereka memelas, saya diam.
“kalian sudah sholat ashar?”
“belum Bu…!!”
“Baiklah, sekarang kalian bubar dan menuju ke Mesjid untuk
sholat Ashar.” Dan tanpa disuruh dua kali, mereka langsung berebutan keluar
ruangan.
Saat saya hendak pulang, mereka masih bergerombol di
lapangan basket, sebagian mengobrol dan sebagian lain berlatih karate.
“Kalian belum pulang?” saya menyapa mereka.
“Belum bu… nungguin temen2 yang lagi latihan.” Jawab mereka
tak bersemangat, saya pun tersenyum dan berpamitan duluan. Tiba-tiba salah
seorang dari mereka berteriak.
“Ibu, jangan dilaporin ya bu….”
manis. ^_^
“Iya, engga dilaporin kok. Kalian sudah menyesal kan…”
percaya.
cerah banget deh! Bu, saya cinta deh sama ibu!” dan mereka menghambur saling
berebutan mencium tangan saya. Salah seorang dari mereka tanpa melepaskan
genggamannya berkata, “Ibu, saya menyesal bu, saya salah bu, maafkan saya ya
Bu, saya janji engga akan seperti itu lagi.”
Alhamdulillah… saya lega, juga terharu. Saya tidak menyangka
reaksi mereka seheboh itu ketika saya mengatakan akan melaporkan pelanggaran
mereka ke bagian kesiswaan.
***
Hari-hari berikutnya, perpustakaan saya semakin ramai.
Bahkan mereka datang tak hanya meminjam buku, kadang sekedar ngobrol,
mengerubungi saya untuk bertanya banyak hal, yang seringkali segan untuk mereka
tanyakan ke guru lain atau bahkan ke wali kelas atau guru BP. Dan mereka tak
segan-segan bercerita tentang kakak kelas putra yang ganteng, tentang
perasaan-perasaan aneh kalau ketemu cowok, dan lain-lain yang saya tahu bahwa
itulah masa pubertas mereka.
boleh ga sih, kita jatuh cinta?”
“Sama siapa?”
“Sama cowok bu…..” hmm…. ngomongin cinta nih… waktu itu saya
tidak punya kalimat untuk menjelaskan. Saya hanya menjawab, “Karena kamu
perempuan, maka kamu boleh jatuh cinta sama cowok. Kalau jatuh cinta sama
perempuan lagi, itu ga boleh.”
“Ibu, cinta itu apaan sih…? Bu, ada bukunya ga sih bu? Bu,
adain buku-buku tentang jatuh cinta dong Bu….” Saya diam sambil tersenyum, dan
akhirnya mengangguk, lalu saya menyodorkan beberapa buku yang saya tahu di
dalamnya ada sedikit penjelasan untuk menjawab pertanyaan mereka. Yang akhirnya
membuat mereka semakin bertanya-tanya.
Lalu saya pun bilang, “Ibu saat ini belum bisa menjawab
untuk kamu. Nanti ya ibu carikan buku2 yang kamu minta.”
Dan akhirnya saya pun bergumam, Nak, mari kita melukis cinta
pada dunia. Mari kita pelajari ragam ciptaan Sang Maha Kuasa. Mari kita belajar bersama-sama. Ibu tak lebih
pandai dari kamu. Ibu hanya terlahir lebih dulu daripada kamu. Sebab itu, bukan
hanya kamu yang belajar dari Ibu, tapi Ibu pun belajar banyak dari kamu.
jawaban saya atas pertanyaan itu masih belum memuaskan keingintahuan mereka.
Dan saya pun berdo’a, semoga Allah menunjukkan jawabannya
kepadamu, dengan jawaban yang paling baik, dan membimbingmu agar dapat memaknai
sebenar-benar cinta yang DIA anugerahkan.
Dedicated for my beloved teenagers, siswi2 SMPITNF. Semoga kuncup2 itu mekar menjadi bunga-bunga nan harum mewangi, menggelorakan seisi dunia.