Nayla yang berumur 3 tahun sedang bermain-main sendiri di pekarangan rumahnya, saat
pembantunya sibuk menjemur pakaian di belakang rumah. mulanya dia
menggambar di atas tanah menggunakan lidi. makin lama lidinya makin
pendek karena berkali2 patah. lalu ia menemukan sebuah paku berkarat,
dan kembali menggambar.
Bosan menggambar di tanah, ia pun mulai
mencorat-coret tembok pekarangan hingga ke mobil ayahnya yang memang
lebih sering diparkir di rumah daripada dibawa ke kantor, karena masih
baru.
begitu ayah ibunya pulang kerja, dengan gembira Nayla
menunjukkan ‘hasil karya’nya kepada ayahnya. Bukan main marahnya sang
ayah. Bukan pujian yang Nayla dapat, tetapi malah makian dan pukulan
keras bertubi-tubi. dipukulnya tangan Nayla keras-keras, dengan benda
apa saja yang tergeletak di dekatnya. mulai dari mistar yang kemudian
patah hingga kayu dan gagang sapu. Ayahnya tak peduli meski Nayla
berteriak-teriak kesakitan dan meraung-raung meminta ampun. ayahnya
terlalu kalap, sementara ibunya diam membisu menyaksikan semua itu,
menganggap seolah apa yang dilakukan suaminya memang sudah seharusnya,
sedangkan sang pembantu hanya terisak di sudut ruangan.
Ayahnya
berhenti memukul setelah tangannya tak mampu lagi memukul karena
kelelahan. Setelah puas meluapkan amarahnya, sang ayah menyuruh
pembantunya membawa Nayla ke kamar.
besoknya, Nayla demam,
tangannya bengkak dan membiru. ayah dan ibu hanya menyuruh pembantunya
mengompres Nayla, dan kembali sibuk bekerja. siangnya sang pembantu
menelpon dan mengabarkan bahwa tangan Nayla semakin bengkak, tapi ayah
dan ibu hanya menyuruh pembantunya mengobatinya dengan salep luka.
hingga
keesokan harinya, ayah dan ibu tetap pergi bekerja, dan tangan Nayla
semakin bengkak, lukanya infeksi dan bernanah. Saat orang tuanya
ditelpon kembali, mereka menyuruh sang pembantu membawanya ke dokter.
tiba
di dokter, dokter merujuknya ke rumah sakit. Hingga saat Nayla tiba di
sana, tangannya sudah tidak bisa diobati. akhirnya tangan Nayla pun
diamputasi, dua-duanya.
Ayah ibu menangis dengan sangat menyesal.
saat Nayla sadar, Nayla menangis dan memohon-mohon kepada ayah dan ibu,
"Ibu, mana tangan Nayla, kenapa tangan Nayla diambil? kembalikan tangan
Nayla, Nayla janji tidak akan mencoret mobil ayah lagi. Nayla janji
tidak akan menggambar lagi. kembalikan tangan Nayla."
ayah ibu tak
sanggup berkata apa pun, dalam hati mereka sungguh-sungguh
menyesalinya, penyesalan yang terlambat dan tidak ada artinya.
—————————-
Kisah
di atas hanya cerita. Ayah dan Ibu, atau pun calon ayah dan ibu yang
saya hormati, terkadang kita begitu jengkel dan kesal menghadapi
‘kenakalan’ anak-anak kita. Ada kalanya hukuman pun diberikan untuk
mengajarkan kedisiplinan kepada anak-anak, untuk mengenalkan bahasa
emosi bahwa apa yang mereka lakukan tidak baik atau melanggar tata
tertib.
Tetapi, bagaimana sebenarnya memenej hukuman yang efektif
terhadap anak. efektif untuk memberitahukan kesalahan anak, dan efektif
untuk membuatnya jera.
Seorang teman saya biasa mengurung
anaknya yang berusia 4 tahun di sebuah kamar saat memberikan hukuman
kepada anak laki-lakinya yang cenderung hyper aktif, sering usil
mengganggu, mencubit, atau memukul adiknya, atau berteriak-teriak dan
berlari-larian di dalam rumah dan membuat rumahnya berantakan.
Saat
dikurung, si anak akan menggedor-gedor pintu, menjerit2 dan
berteriak-teriak, "Bunda!! tolong buka pintunya!! aku engga mau di
sini!! aku sudah minta ampun sama Allah!!!"
Ibunya akan menjawab
dari luar, "Bunda engga akan keluarkan kamu sampai kamu tenang. Diam di
sana, kalau sudah tenang akan Bunda keluarkan. kalau masih berteriak,
berarti kamu belum tenang."
dialog bolak-balik dan perjanjian
gencatan senjata antara ibu dan anak akan berlangsung beberapa saat,
sampai hanya terdengar isakan dari dalam kamar, "Bunda… buka
pintunya…."
Setelah itu, ibunya baru mengeluarkan anak itu,
membimbingnya ke kamar mandi, membersihkan badannya, dan memberinya
susu. Terjadi lagi dialog gencatan senjata, kali ini lebih pelan, dan
ditutup dengan kata-kata, "kalo kamu baik, Bunda kan juga senang."
end —