Apa yang terjadi padaku saat ini adalah sebuah lindasan kereta kehidupan yang menghancurkan dan meremukkan semua keinginan dan pengharapan yang kubangun. Hingga, yang tersisa hanyalah kepasrahan, pada takdir yang belum juga memihak pada kebahagiaan.
Dan kebahagiaan itu sendiri hanyalah gambaran dari sebuah keinginan yang mustahil untuk diraih. Kehidupan sufistik yang kupelajari pun tak akan sanggup kujalani, sebab aku tak punya kesucian dan kebeningan jiwa sebagaimana mereka menjalaninya bersama Rabb mereka.
Aku, hanya manusia biasa, yang sedang menapaki tangga kesabaran menuju puncak tertinggi dari segala tujuan mengapa manusia ada di muka bumi. Mengabdi kepada Rabbnya, dan hanya mengharap ridho-Nya saja.
Segala keinginan duniawi mencoba kujejalkan ke keranjang sampah penyesalan. Aku hanya ingin menjalani semua ini tanpa beban, tanpa tekanan. Tetapi, mana ada hidup yang tanpa beban, tidak ada tujuan yang dapat dijalani tanpa tekanan.
Maka, tutuplah segala lembaran buram, buanglah segala kenangan yang menyakitkan.
Bukanlah yang benar itu menuntut untuk dicintai, tetapi adalah memberikan setiap butir cinta yang masih dimiliki, kepada sesama. Meski pohonnya telah meranggas, tetapi belum mati.
Aku, harus berjuang untuk menyuburkannya kembali, hingga siapa pun yang berdiam di dekatnya, akan merasakan kedamaian, kesenangan, dan ketenangan. Perasaan nyaman yang didambakan oleh setiap orang.
Maka kumulai dari keluargaku. Sungguh sebuah hal yang luar biasa, setelah 5 tahun ‘tanpa keluarga’, tiba-tiba aku seolah memiliki segalanya. Ayah, mama, Mbah, Ema, adik-adik, mamang, bibi, bahkan uwa.
Baru kali ini, mataku benar-benar terbuka. Aku memang bukan siapa-siapa dalam keluarga besar mama tiriku, tetapi aku adalah bagian dari mereka. Dan mamaku memperkenalkanku sebagai anak bapakku, bukan anaknya. Memang, tetapi mereka menerimanya dengan senang hati.
Tak ada yang perlu disesali, sebab semua ini terlalu berharga untuk dilepaskan. Bahkan meski kehadiranku hanya sebagai ‘tamu’, tetapi itu tak mengapa, sebab ‘tamu’ ini hadir bukan tanpa undangan.
Sekali lagi, aku harus bangkit, meski lutut telah goyah, meski tubuh basah oleh duka. Tetapi, ini adalah tangga kesabaran.Sebab segala urusan selalu menakjubkan bagi seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kegembiraan, ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Dan jika ditimpa kemalangan, ia bersabar, dan sabar itu baik baginya. (al Hadits)
Ganbatte Kudasai !!
so, kesabaran itu kudu terus dipupuk. bukan hanya jadi kebiasaan, but jadikan dia life style
December 3, 2008 @ 5:01 amjadikan kesabaran sebagai life style, cayooo.
December 3, 2008 @ 5:02 amjadikan kesabaran sebagai lifestyle…
December 3, 2008 @ 5:02 amjadikan kesabaran sebagai life style…
December 3, 2008 @ 5:03 am