Saya tidak pernah bermimpi untuk
menjadi seorang penulis. Dan saya pun tidak pernah bercita-cita untuk
menjadi penulis. Ironisnya, saya sendiri heran, kenapa saya tidak
pernah punya cita-cita untuk menjadi apa ataupun siapa. Memang
kelihatannya tidak ada arah, seolah hidup mengalir seperti air,
mengikut kemanapun arah sungai mengantarkannya ke muara.
Saya menjalani hidup penuh energi dan
semangat untuk mengaktualisasikan diri, mengembangkan potensi
sebaik-baiknya. Tetapi di sinilah letak permasalahannya. Saya nyaris
tertarik dalam segala hal, mencoba berbagai bidang, dan terkadang
cukup puas untuk mengetahui bahwa saya bisa melakukannya.
Soal tulis-menulis, saya tidak merasa
bahwa kemampuan saya di atas rata-rata. Walaupun memang sejak SD saya
selalu mendapat nilai tertinggi untuk mengarang. Yah, saya pikir itu
wajar, sebab kemampuan akademik saya memang di atas rata-rata
teman-teman sekelas. Pikir saya saat itu, bahwa anak yang punya
ranking 3 besar di kelasnya, harus bisa melakukan apa saja.
Alhamdulillah sekarang saya sadar bahwa
itu keliru. Sebab manusia diciptakan dengan segala potensi kebaikan
dan kaburukan, yang kita sebut sebagai kelebihan dan kekuarangan.
Termasuk soal kecerdasan, itu pun tak bertumpu pada satu titik.
Banyak kecerdasan-kecerdasan lain, yang setiap orang berbeda dalam
penguasaannya.
Jika saat ini saya banyak melakukan
aktifitas kepenulisan, menurut saya itu lebih karena saya sangat suka
membaca. Dan ketika isi kepala telah penuh, maka ia akan mencari
ruang baru untuk menumpahkannya. Ya, menulis bagi saya adalah
meluahkan isi hati dan fikiran yang berkecamuk, yang terkadang sulit
untuk menemukan muaranya. Dan adalah wajar jika saya merasa senang
saat ada orang yang membaca tulisan saya kemudian memberikan
apresiasinya. Itu terasa seperti menemukan sahabat baru untuk berbagi
cerita.
Maka, ketika ANNIDA mengabarkan bahwa
blog saya akan dimuat di edisi terbaru majalah itu, betapa senangnya
hati saya. Seperti ada kembang api berwarna-warni yang menghiasi
keheningan jiwa saya. Ada ledakan-ledakan kecil yang menyenangkan dan
meletup-letup di dalam dada saya, sehingga mengalirkan energi dan
semangat baru untuk menghasilkan karya tulis yang lebih baik lagi.
Hingga suatu hari, mungkin akan ada masa yang membuat saya semakin
bahagia, sebab ternyata, saya bisa menulis sebuah buku, dua, tiga,
pulahan, bahkan ratusan buku?
Apakah itu mungkin? Saya rasa, setiap
ada keinginan, tentu ada energi untuk mewujudkannya. Dan energi
itulah yang membuat sesuatu hal yang sulit menjadi mungkin untuk
dilakukan.
Mulanya kita memang bukan siapa-siapa,
maka lakukanlah hal-hal berprestasi dan menakjubkan, sehingga kita
tak lagi disebut ‘bukan siapa-siapa’, tetapi menjadi seseorang
yang keberadaannya diakui, diperhitungkan, dan selalu
dinanti-nantikan. Rendah diri, malas dan mudah menyerah bukanlah
karakter seorang muslimah. Bangga menjadi muslimah, artinya bangga
mempersembahkan kepada dunia, bahwa kita bisa melakukan banyak
kebaikan bagi ummat dan melejitkan potensi diri. From zero to hero,
keep fight and never give up!
Chiayyooo!! Tetap semangat!
menurut kamu, belajar bahasa Arab itu penting engga sih?
waktu
aku lagi giat-giatnya belajar tahsin dan menghafal Quran, aku pengen
banget menguasai bahasa yang satu ini. Dan jadilah aku salah seorang
murid di sebuah kelas kurus, eh kursus bahasa Arab. Tapi, beneran loh,
yang namanya bahasa, kalo ga praktek langsung, susah nyantolnya di
otak. hampir 6 bulan belajar, teu ngarti keneh da!
Lalu, saat di
halaqah diadakan program belajar bahasa Arab, lebih dari 50% peserta,
mualazzzz…. tiap jadwalnya hadir, rata2 engga bawa buku pelajarannya.
kalopun belajar, maunya cepet2 selesai. alhasil, sayah usul untuk
belajar mengartikan Al-Quran aja, supaya bisa memahami apa yang kita
baca, tanpa selalu melihat terjemahan.
Nah, sore tadi di
kantorqu, kedatangan 2 orang tamu yang Arab deh… aseli, tuh tamu cuma
bisa 2 bahasa; Arab dan English. English pun belepotan.
dan penerima
tamu kami, haduh… rata-rata kemampuan English dan Arabnya pas-pasan.
jadilah dialog itu lebih banyak 1 arah. si Arab nyerocos dengan Arabnya
bla… bla.. bla….
Pak Sulam ma Pak Syarif, yang menerima tamu manggut-manggut. entah manggut faham ato manggut pengen cepet selesai ^_^
di belakang, aku ngikik sendiri, teringat cerita si Kabayan.
si
Kabayan yang lugu pergi naik haji. Saat berpapasan dengan penduduk
asli, si Kabayan yang bahasa Arabnya cuma bisa Bismillah… diajak
ngobrol. setiap selesai si Arab ngomong, si Kabayan akan menjawab:
amiiiiin………….
xixixixi… soalnya cara ngomongnya persis kayak cara pak Ustadz lagi baca doa-doa di ceramah-ceramah.
Ah, kabayan.. kabayan…
makanya, hayu atuh belajar….
Hidup seorang manusia dengan
episode-episode yang dilaluinya adalah ibarat sebuah buku tulis
dengan lembar-lembar halaman di dalamnya. Di buku itu, kita bebas
menuliskan apa saja, bebas menggambar apa saja. Tetapi, yang
disediakan oleh Pemberi buku itu hanya sebuah pena tanpa penghapus.
Lembaran-lembaran itu menjadi rekaman dari berbagai kejadian yang
kita alami. Kita bisa membacanya lagi, tetapi tak bisa dihapus,
dirobek, atau diganti.
bisa kita ingat, kita kenang, tetapi tak bisa kita kembalikan.
Kita mengenal begitu banyak episode
hidup manusia yang terjadi di masa lampau. Kejayaan dan keruntuhan
suatu peradaban silih berganti, sebagaimana silih bergantinya malam
dengan siang, bulan dan matahari.
sendiri. Bayi menjadi anak-anak, menjadi remaja, menjadi dewasa,
menjadi tua, dan mati. Kematian itu sendiri adalah episode awal dari
sebuah babak kehidupan baru, perjalanan baru, dengan dua ujung
perjalanan yang menjadi pilihan mutlak, surga atau neraka.
dunia, kita pun berkenalan dengan berbagai macam emosi yang
mengiringi babak demi babak dari drama kehidupan yang terhampar di
hadapan kita. Tak ada yang kekal, tak ada yang abadi.
Maka adalah hak kita jika pada suatu
babak hidup kita merasa bahagia. Adalah memori kita jika pada suatu
ketika kita merasa bersedih dan berduka.
Tetapi, demi masa yang tidak pernah
bisa kembali, adakah fase-fase yang kita lewati itu telah kita
manfaatkan dengan baik? Adakah lembaran-lembaran itu telah diisi
dengan catatan kebaikan dan kesholihan?
musibah, hanya ada dua pilihan bagi seorang muslim untuk
menyikapinya, bersyukur, atau bersabar. Dan dua-duanya mengalirkan
pahala yang mengantarkan kita pada kenikmatan hakiki dari Sang
Pemberi Kebahagiaan, yaitu surga dan cinta-Nya.
Maka saat kita berdiri di masa ini,
berbuatlah sebaik-baiknya ke masa depan kita, sebab tak akan pernah
ada jalan untuk kembali ke masa lalu, sebesar apa pun keinginan dan
kerinduan kita.
Dan tatkala tahun berganti, tak penting
merayakannya dengan berbagai macam pesta hura-hura. Tak penting pula
mengkhususkan waktu pada sebuah perenungan akhir tahun yang hanya
sekali dalam setahun. Sebab memang semestinya seorang muslim
menyediakan waktu-waktunya untuk menyendiri dan senantiasa
bermuhasabah, menghisab diri, menelaah catatan amalnya. Dan
senantiasa memperbaiki dirinya. Sebab seorang muslim yang beruntung
adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin. Dia merugi jika
hari ini sama saja dengan hari kemarin, dan bahkan ia celaka jika
hari ini lebih buruk dari hari kemarin.
Chiayyoo!!! Tetap semangat, semangat,
dan semangat! Allahu Akbar!!
Istimewa, satu makna yang membuat satu
hal berbeda dari yang lainnya, yang biasa saja.
Kau bangun di pagi hari dengan perasaan
yang berbeda, lebih istimewa,
Menyambutnya atau tidak, itu masalah
kesekian,
Tapi satu semesta merayakannya atasmu,
itu tak bisa dipungkiri
Istimewa, memperlakukannya tak biasa,
dalam bentuk apa pun,
Karena makna yang dimilikinya.
Berbeda lebih dari yang biasa
Satu wacana atas istimewa. Untukku,
bersama seseorang untuk menghabiskan seluruh hariku, menghela nafas
dengan ketenangan bahwa kau seorang istimewa yang memiliki dan
dimiliki seseorang yang juga kau sebut istimewa.
Bahagia karenamu, menjalani perputaran
hari dan bersedia selamanya denganmu,
Karena kau istimewa, karena aku
istimewa, maka segalanya menjadi istimewa.
Namun, bagaimana jika tidak? Bagaimana
jika kamu tidak menganggap dirimu istimewa?
Bagaimana jika tidak bahagia?
Karena rasa yang berbeda dari yang tak
biasa itu tak yakin ada
Bagaimana jika semuanya berjalan
seperti biasanya?
Lalui, berlaku seperti biasanya, tanpa
tambahan apa-apa, bagaimana jika semuanya utopia? Bagaimana jika
semuanya fatamorgana?
Sedang, kau dan aku menginjak dunia.
Bagaimana caranya kau menyebut dirimu
istimewa, jika kau tak pernah menganggapnya seperti itu?
Bagaimana kau memiliki sesuatu yang
istimewa, jika kau tak pernah mengatakannya,
Memperlakukannya untuk selalu dalam
posisi istimwa?
Ah, mengapa pusing-pusing memikirkan
istimewa?
Mengapa anak, istri, suami, ayah, ibu,
saudara, keluarga menjadi istimewa?
Mengapa ada sahabat, teman biasa, atau
bahkan kenalan saja?
Mengapa ada cinta? Mengapa ada Tuhan?
Mengapa ada dunia? mengapa ada aku?
Nyatanya, karena dari istimewa maka
segalanya ada
Seorang hamba mencintai Tuhannya yang
istimewa,
Tuhannya mencintai hamba istimewa yang
mencintaiNya, dan hubungan keduanya tidak dapat disebut biasa,
melainkan istimewa.
Seorang ibu mencintai anaknya karena ia
keluar dari rahimnya yang menjadikannya istimewa, begitu juga
sebaliknya.
Segalanya berjalan begitu indah dengan
istimewa, tak biasa
Semua orang menginginkan istimewa,
begitu juga aku.
Karena sadar atau tidak, aku bukanlah
yang biasa. Untukku, atau untuk siapa pun.
Jika tidak, maka bukan di sinilah
tempatku….
Ada sejuta alasan untuk menyerah. Ada
seribu alasan untuk akhiri hidup. Ada jutaan sebab untuk kehilangan
harapan.
Tetapi…
Ada milyaran alasan untuk bertahan. Ada
berjuta alasan untuk hidup. Ada trilyunan alasan untuk terus berharap
dan berjuang.
Saya tau itu. Jika tumpukan batu saja
berhasil disingkirkan, maka apalah artinya sebongkah kerikil yang
hanya sedikit malukai jari kaki.
Jika pernah tersesat jalan, jangan
pernah menyerah, sebab selalu ada cahaya yang akan membimbing dalam
kegelapan. Selalu ada tongkat yang menuntun dalam kebutaan. Selalu
ada senyum yang menyibak kedukaan.
Hidup terlalu indah untuk ditangisi.
Hidup terlalu berharga untuk disia-siakan. Dan hidup terlalu sebentar
untuk diakhiri dengan harakiri.
Berhentilah menangis, sudahilah ratapan
dan isakan. Sudah cukup. Keep fight and never give up!
…
Don’t try to live so wise
Don’t cry ‘couse you’re so right
Don’t dry with fakes or fears
…
(lanjutannya saya lupa! ^_^)
Rumah di mana? Emangnya punya rumah?
Hehe.. iya sih, sekarang mah aku ga punya rumah. Tinggal aja ngekost,
kalo pun pulang, tempat tinggal kami di Karawang ga bisa dibilang
rumah. Dengan lantai semen dan dinding bilik (anyaman bambu), meski
rapi, tetep aja ga bisa dibilang rumah. Tepatnya sih saung atau
gubuk.
Rumahku, tempatku dibesarkan oleh
almarhumah ibunda kandung tercinta, sudah lama tidak dihuni dan
ditinggalkan karena ada beberapa faktor. Salah satunya karena
masalah intern dalam keluarga besar ibunda tercinta yang sampai
sekarang belum bisa menerima kehadiran mama. Ditinggal tanpa
perawatan, rumah penuh kenangan itu pun akhirnya mulai hancur. Hiks…
sayang banget.
Tetapi, ada kesamaan antara rumah
permanent tempatku dibesarkan dengan gubuk bambu tempat kami tinggal
saat ini. Yaitu Pekarangan.
Di halaman depan dan samping rumah
besarku dulu, saat ibunda masih hidup, ditanami berbagai macam
tumbuhan. Bagian depan dipenuhi tanaman hias, bagian samping dipenuhi
sayuran dan buah-buahan. Meski tidak megah, tapi rumah itu adalah
surgaku. Di dalamnya ada kehangatan keluarga, di luarnya ada
kesejukan tak terkira.
Saat musim buah, aku biasa memanjat
pohonnya (mangga, belimbing, jambu, dll), dan menghabiskan waktu
berjam-jam menikmati pemandangan dari atas pohon sambil memakan
buah-buahan itu di atasnya. Dan saat senja, aku, ibu dan ayah
biasanya duduk2 di teras sambil merawat bunga2.
Di tempat tinggal sekarang, kami punya
pekarangan di belakang rumah. Dari dulu, pekarangan kami pasti lebih
luas daripada rumah kami. Di pekarangan ini, penuh berbagai tanaman
lagi, mulai dari bunga2an, tumbuhan obat (sirih, daun saga, lidah
buaya, dll), sayur2an, bumbu2 dapur, kelapa, pisang, nangka, mangga.
Wah… lengkap banget deh! Sampai-sampai, ayah juga membuat kolam
kecil untuk melatih kemampuan berenang ikan-ikan. ^_^
Makanya, meski tempat itu jauh lebih
sederhana daripada rumah kami yang dulu, tetapi rumah itu tetap
menjadi surga kami. Di dalamnya masih ada kehangatan (terutama saat
Leli hadir), dan di luarnya ada kesejukan yang menyenangkan.
Nah kan…. Makin homesick aja nih….
Karena itu, aku punya impian untuk
menciptakan rumahku adalah surgaku, kelak jika aku berumah tangga.
Jadi wanita karir? Itu bukan pilihanku. Aku lebih memilih tinggal di
rumah, melahirkan dan merawat anak-anakku, menciptakan kehangatan,
dan kesejukan yang menenangkan.
Hmmm…. Rumah yang nyaman meski
sederhana, ada pekarangannya yang bisa kutanami berbagai tumbuhan. Di
dalam rumah itu penuh diliputih keakraban dan kasih sayang, di
luarnya sejuk dipandang.
Robb… izinkan kumiliki impian itu,
dan perkenankan agar impian itu menjadi nyata. Amiin…
Bukan pertama kali, dan bukan orang yang pertama, saat dosen Illustratorku menyinggung sedikit tentang gaya hidupku. Pertanyaan yang simple, tentang kedekatan dengan keluarga, sahabat, saudara, dan orang-orang lain di sekitarku.
“Kamu punya banyak kelebihan, cantik, smart, kreatif, supel, ceria, menyenangkan. Saya yakin ada banyak teman di sekitarmu, dan saya yakin kamu bisa bergaul dengan siapapun yang kamu mau. Tetapi kamu seringkali terlihat sendiri. Bagaimana dengan keluarga, sahabat, saudara, atau pacar barangkali?” begitu katanya. Sendiri…. semoga maksudnya bukan lonely alias kesepian. Sebab aku tidak pernah merasa begitu.
Maka mengalirlah obrolan serius di ranah sangat pribadi dengannya saat itu. Keluarga, ibuku sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Dan sejak itu aku memang jarang pulang, jarang berkumpul dengan keluarga, sebab memang aku tak terlalu dekat dengan Ayah. Apalagi setelah Ayah menikah lagi. Pulang, hanya menorah luka lama, menusuk-nusuk rasa kehilangan, memaksaku harus jujur, bahwa kenangan manis di sana, membuatku sulit menerima, bahwa satu-satunya orang yang aku kasihi, yang selalu memanjakan, dan menjadi satu-satunya alasan kepulanganku, sudah tiada.
Kelahiran adikku, setahuan lalu, mengembalikan semuanya. Merekatkan kembali tali kasih yang sempat renggang, mengalirkan kehangatan yang sempat hilang, meriakkan kasih sayang, dan mengembalikan arti keluarga dalam hatiku. So…. Tidak ada masalah dengan keluargaku. Kecuali bahwa secara materi kami telah kehilangan banyak.
Sahabat, saudara, tentu saja aku punya. Ada orang-orang yang mengasihiku, ada yang selalu membersamai, saat suka, ataupun duka. Saat tertawa, atau menangis. Aku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang mereka. Justru aku yang sering hilang kesadaran, bahwa mereka ada. Tetapi, mereka memang ada, dan selalu ada, untukku, untuk ukhuwah kami, untuk persaudaraan kami.
Yang terakhir, pacar? Pacar? Hehe…. Aku kehilangan kosa kata untuk menjelaskan tentang yang satu ini, perlu pendekatan lain untuk menjelaskannya. Kubilang aku ga punya pacar, dia bilang aku bohong. Kubilang aku ga pacaran, dia bilang gimana kamu mau nikah? Kujawab asal, “kalo aku suka cowok, aku langsung ngajak dia nikah.”, dia tertawa terbahak-bahak, malah bilang aku lucu.
Whatever ah, akhirnya aku cuma nyengir kuda, untung kudanya udah sikat gigi ^_^.
So… sendiri? Sendiri itu keheningan, dan keheningan itu sumber inspirasi. Ada kalanya aku memang lebih suka sendirian, menyendiri, sepi, sunyi. Tetapi ada pula masanya aku ingin keramaian, kebersamaan, berbagi rasa, berbagi cerita.
But, soal mengerjakan sesuatu, melakukan banyak hal, memang lebih sering kukerjakan sendiri. Sebab aku memang diajarkan untuk mendiri. Aku memang manja, tetapi kemanjaan itu tidak menghalangiku untuk berkarya dan berprestasi. Mewujudkan mimpi-mimpi, mengejar cita-cita, bayar kuliah sendiri, kerja keras supaya bisa tetap survive tanpa menggantungkan diri pada siap pun, termasuk orang tua.
Dan akhirnya, pengalaman hidup dengan segala permasalahan dan kepahitannya mengajari aku untuk tegar, sekuat batu karang. Dan segala kenangan indah mengajari aku untuk bersyukur dan menghargai apa pun yang Allah berikan. Maka, tak soal sendiri ataupun bersama-sama, tetapi bagaimana mengkondisikan diri untuk menghadapi kehidupan dengan segala permasalahannya.
Dan sebelum dia beranjak pergi, segenggam pesan dititipkannya padaku.
“Take care your self, coz I know you’re not just the ordinary people, you’re special, very special. Now or tomorrow, you will be unforgeting person for everyone who ever know you.”
Then I said: Thanks a lot, sir. ^_^
Tengadah wajah penuh harap
saat engkau beranjak pergi
tinggalkan pusaran waktu penuh makna
indah, mekar, penuh cinta
Ku tak ingin engkau pergi
ku tak rela lepaskanmu dari pelukan
sebab kepergianmu adalah duka
sebab ketiadaanmu adalah hampa
sebab kenanganmu adalah rindu
sungguh….
kesadaran itu terlambat hadir
saat kedatanganmu kusambut acuh
kau tetap menyapa penuh cinta
kau hadirkan riak-riak bahagia
kau sebarkan kuntum-kuntum keikhlasan
di dada gundah penuh resah
sungguh….
aku enggan melepaskan
belum hilang dahaga ini
belum berbunga taman-taman ini
sungguh…. aku tak ingin engkau pergi
kuingin semalam lagi bersamamu
tetapi…. inilah malam terakhirmu…
maka izinkan kukecap kemesraan bersamamu
hingga fajar membawamu pergi
dan semoga cinta ini menghadirkan rindu menggebu
saat engkau kembali hadir
tahun depan
———–
Robb…..
izinkan usiaku kembali menatapnya
izinkan aku kembali memeluknya
pertemukan aku kembali dengan….
Ramadhan-Mu….
tahun depan
Aku ingin mencintaiMU
bukan karena takutku pada kuasaMu
bukan karena buaian indahnya surgaMu
bukan karena pekikan dahsyatnya nerakaMu
Aku ingin mencintaiMU
sebab telah mengalir oase kasihMu
di pusaran gersang sahara hidupku
sebab telah berbunga kuntum cintaMu
di taman sepi serpihan hatiku
sebab telah berbuah hangatnya belaianMu
di ladang kering nurani jiwaku
Aku ingin mencintaiMu
hingga gundah yang bergumul-gumul
dan melumat sendi-sendi cita dan asa
lepas luruh dalam balutan kasih sayangMu
Aku ingin mencintaiMu
dan orang-orang yang juga mencintaiMu
maka kumpulkan aku bersama mereka ya Robb…
eratkan jalinannya
dan kokohkan ikatannya
tak lepas
hingga bersua dan bersama-sama kembali di jannahMu
Sungguh, seorang Romeo tak perlu mati untuk Juliet. Dan Qais tak perlu menjadi gila karena Laila. Romeo masih bisa meneruskan hidupnya tanpa Juliet. Dan Qais pun bisa tetap waras dan hidup tanpa Laila.
Tetapi itulah masalahnya. Mereka tidak sanggup, mereka berhenti di satu titik, dan menyerah. Hidup Romeo tak berarti tanpa Juliet, dan Qais memilih mati daripada kehilangan Laila. Qais memang tidak bunuh diri, tetapi ia membiarkan dirinya larut dalam kesedihan, larut dalam keterpurukan. Ia lepaskan dirinya tenggalam dalam duka sampai nafas terakhir.
Mereka adalah orang-orang romantis. Dan orang–orang romantis seringkali menjadi rapuh. Mereka punya jiwa yang lembut dan halus. Tetapi kehalusan itu terbiaskan dengan kelemahan. Qais dan Romeo mewakili tipikal laki-laki yang berperasaan halus, tetapi sangat lemah.
Sungguh, kata Anis Matta itu bukan kombinasi yang bagus. Sebab, bagaimana mungkin seorang laki-laki yang lemah bisa berdiri kokoh dalam barisan kaum muslimin untuk menegakkan kejayaan Islam. Bagaimana mungkin ia bisa ‘memanggul senjata’, menebas keburukan dan kebathilan, apalagi kedzaliman, sedangkan ia sendiri tak sanggup menghadapi badai kehidupan, yang muaranya hanya satu: hubbuddunya (cinta dunia). Cinta pada keluarga (anak dan istri/suami), cinta pada harta, dan cinta pada kehormatan diri.
Pun sebaliknya dengan wanita. Bagaimana mungkin para lelakinya bisa tenang dalam ‘peperangan’ jika para wanitanya senantiasa merengek, menuntut, dan merajuk agar setiap saat selalu ditemani.
Dalam dada orang-orang yang romantis, perpisahan adalah saat-saat paling melankolik, saat-saat paling ditakuti. Sebab dunia menjadi sempit *gimana ga sempit, wong dunia segitu lebarnya serasa cuma buat berdua :-P*. yang diinginkan orang-orang yang romantis adalah ketenangan, kedamaian, bersama para kekasihnya.
Tetapi kehidupan tak seperti itu. Kehidupan selalu punya aturan dan kaidah yang seringkali memaksa orang-orang yang romantis itu berlepas diri dari kekasihnya.
Sedihnya, keadaan seperti itulah yang melanda sebagian besar muslimin di hari-hari sekarang. Memilih bergumul dengan romantismenya yang rapuh. Berlindung di balik kehalusan dan kelembutan jiwa. Tetapi sebenarnya hanya menutupi kelemahan dan kerapuhan dirinya. Hingga panggilan2 Allah untuk mengangkat ‘pedang’ memerangi kebathilan yang buahnya adalah surga dan bidadari yang bermata jeli, tak lagi terdengar indah.
Tengoklah sebuah kisah. Saat kabar syahidnya syekh Abdullah Azzam disampaikan kepada istri beliau, sang istri mujahid itu hanya menjawab enteng, “Alhamdulillah, sekarang mungkin ia sedang bersenanng-senang dengan para bidadari.”
Ungkapan itu bukan karena tak ada romantisme dan kecintaan dalam dadanya. Tetapi karena segala keindahan itu telah menemukan keterarahan dan sumber energi dari Sang Pemilik Hati.
Gampang?? No!
That’s so hard! But not impossible.
_________________________
* Content copyright: Tarbawi
* Content Copyleft: izti
Ga dalem…. Tapi nonjok… ^_^